
"Kak, bantuin aku!" teriak Raisya dari balik kamar.
Devan yang baru saja masuk segera berlari menghampiri sang tuan putri, ia tak bisa mengabaikan istrinya saat minta bantuannya, meskipun ada tiga baby sitter yang bekerja, Raisya masih campur tangan mengasuh ketiga anaknya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Devan melepas jas nya dan melipat kemeja sampai siku. Tak lupa juga melipat celananya selutut, hingga bulu kakinya nampak dengan jelas.
"Ikat kerudung ke belakang, tanganku basah," pinta Raisya yang sibuk memandikan putrinya.
Kedua baby sitter sibuk menggendong Farid dan Farhan, sedangkan yang satunya lagi mempersiapkan perlengkapan setelah mandi, asisten yang lain sibuk di dapur untuk mempersiapkan makan malam.
Alih-alih mengikat kerudung, Devan malah mencium pipi Raisya dengan lembut yang membuat sang empu merengek.
Dua baby sitter yang ada di sana memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Kebiasaan yang tidak baik," tegur Raisya.
"Salah siapa minta bantuanku, harus ada upahnya," bantah Devan tak mau kalah.
Raisya hanya tersenyum tipis. Ia sadar, selama ini apa yang bisa diberikan untuk Devan selain tubuhnya.
Umur triplet kini sudah menginjak tiga bulan, Devan kembali manja seperti dulu, ia merindukan olahraga ranjang yang sampai sekarang belum diterima lagi.
Bukan Raisya tak rela memberikan hak Devan, namun pria itu yang belum minat untuk menyentuh istrinya, ia masih trauma mengingat Raisya saat melahirkan ketiga bayinya, bahkan ia juga takut melihat jarum yang berbentuk pancing itu digunakan untuk menjahit jalan lahir.
Setelah selesai memandikan dan mendandani anaknya, Raisya memberikan bayinya pada pengasuh masing-masing. Ia beralih menyambut kedatangan Devan.
"Gimana pekerjaannya tadi?" Raisya membantu Devan melepas dasi.
"Lumayan sibuk, tapi ada Daffa yang membantu, dan kayaknya mulai besok dia yang akan mengurus semuanya."
Devan membaringkan tubuhnya dengan kaki ungkang-ungkang ke lantai.
Raisya melepas hijabnya, menampakkan rambutnya sebahu yang terurai. Memberi asi eksklusif pada ketiga bayinya tak membuatnya kurus, Raisya malah nampak gemuk dengan pipi yang gembul, tubuhnya semakin berisi hingga membuat Devan terpesona. Namun apa daya, ia masih takut untuk menikmati tubuh Raisya kembali.
"Kakak kenapa?" tanya Raisya saat melihat tatapan Devan yang tak bisa diartikan.
Devan tersenyum dan menggeleng, ia belum bisa mengatakan apa yang mengendap di dadanya.
Raisya membuka baju gamisnya dan meninggalkan baju dalam lalu menghampiri Devan yang terus menatapnya.
Devan membuka kancing bajunya bagian atas, tiba-tiba saja keringat bercucuran membuatnya gerah, ia paling tidak bisa menahan gejolak yang terus memenuhi otaknya.
"Kamu mau apa, Sayang?" ucap Devan cemas. Ia takut tak bisa menahan diri dengan godaan manis di depannya.
__ADS_1
Raisya memiringkan tubuhnya. Mendekatkan bibirnya di telinga Devan, satu tangannya mulai menyusup ke area dada Devan yang membuat sang empu semakin terangsang.
"Aku tahu kakak menginginkannya, kenapa harus ditahan?" ucap Raisya menggoda.
Devan tersenyum, ia memegang pergelangan tangan Raisya.
"Kamu yakin sudah bisa melayaniku?" ucap Devan antusias.
Raisya mengangguk tanpa suara.
Setelah lampu hijau menyala terang, Devan langsung memulai aksinya, ia tak segan-segan melahap bibir Raisya dengan rakus. Memberikan sentuhan lembut pada Raisya yang kini sudah berada di bawahnya.
Hampir saja Devan melepas baju, pintu diketuk dari luar membuat keduanya saling tatap. Terpaksa Devan turun dari ranjang, ia memakai merapikan baju dan rambut lalu membuka pintu.
"Ada apa, Mbak?" tanya Devan sambil mengusap bibirnya yang masih basah.
Ternyata baby sitter yang datang.
"Sepertinya den Farid haus. Susunya di kulkas sudah habis. Jadi saya bawa kesini, Mas."
Devan mengambil bayinya dan kembali menutup pintu, jika dulu ia selalu merengut saat batal melakukannya, kini Devan sedikit pun tak kesal dengan gangguan itu.
"Sekarang kita sudah nggak bebas, Sayang. Ada si tukang ganggu."
Tak berselang lama, ketukan pintu kembali menggema, Devan menutup tubuh Raisya lalu membuka pintu.
Kali ini dua baby sitter yang mematung di depan pintu kamarnya.
"Anak-anak haus lagi?" tebak Devan.
Kedua baby sitter itu mengangguk bersamaan dan menyerahkan kedua bayinya sekaligus. Ia meletakkan kedua bayinya di ranjang untuk mengantri makanan.
"Kak, katanya nanti bunda mau nginap sini, di rumah sepi," ujar Raisya, setelah tadi mendapat telepon dari bunda Sabrina.
Seperti kesepakatan yang dibuat, setelah Devan dan Raisya memutuskan tinggal di rumahnya sendiri, Daffa dan Airin tinggal secara bergilir, meskipun mereka sudah memiliki rumah, tapi tetap ingin tinggal bersama orang tuanya.
"Nggak papa dong, itu lebih baik."
"Kak, kapan Bunda dan mama honey moon? Kasihan, setiap hari mereka mikirin anak cucu, tapi kita tidak bisa memberinya kesempatan untuk berlibur."
"Aku sudah atur waktunya. Jadi kamu tenang saja."
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Bunda dan ayah datang, disusul Daffa dan Airin dari belakang.
__ADS_1
"Tumben kamu ikut ke sini?" cetus Devan menyelidik.
Tak menjawab, pria itu hanya cengengesan dan nyelonong masuk.
"Mau pamer kebahagiaan," sahut bunda yang sudah menghampiri ketiga cucunya di ruang tengah.
Ayah tak mau kalah cepat, ia sudah menggendong Farhan, bunda menggendong Farid, sedangkan Daffa menggendong Farida.
"Kebahagiaan apa?" tanya Devan semakin menyelidik.
"Airin hamil." Daffa mengucapkannya dengan bangga, meskipun tertinggal beberapa bulan dari Daffi, setidaknya kerja kerasnya yang dilakukan hampir setiap malam membuahkan hasil.
Raisya turun dan berhamburan memeluk adik tercinta.
"Selamat ya, Dek. Akhirnya kamu hamil juga," ucap Raisya yang ikut bahagia.
"Semoga ngidamnya aneh, ya. Hukum ayah Daffa seberat mungkin," timpal Devan jahil yang membuat Daffa manyun.
Suasana rumah semakin ramai saat Syakila ikut bertamu, Fairuz yang melihat ayah Mahesa tiba-tiba saja merentangkan kedua tangannya. Bayi yang sudah berumur tujuh bulan itu merengek dan terus menatap ayah Mahesa yang sibuk dengan Farhan.
"Sepertinya Fairuz mau ikut ayah." Syakila membawa bocah itu ke arah ayah Mahesa.
Sudah menjadi tanggung jawabnya, terpaksa Ayah menggendong Fairuz dan Farhan bersamaan.
Ponsel berdering dari tas bunda, Syakila merogohnya dan mengangkat panggilan dengan mode loudspeaker.
"Halo, Fi? Ada apa malam-malam telepon?"
"Iya kak, maaf ganggu, Alara pingin ketemu bunda, katanya dia ingin jalan-jalan bersama bunda di sini."
Bunda mengerutkan alisnya lalu meraih ponselnya.
"Kamu nggak bohong, kan?"
"Dari kemarin Alara nangis, katanya dia ingin ketemu bunda, aku ajak ke Indo nggak mau, maunya Bunda yang ke sini."
Hening
"Maaf ngerepotin," sahut Alara pada kalimat akhir.
"Nggak papa, Sayang. Bunda dan ayah akan segera ke sana, kalian jaga diri baik-baik ya, Assalamualaikum…"
Alhamdulillah, akhirnya bunda setuju pergi ke Turki, batin Devan senang.
__ADS_1