Pelangi Senja

Pelangi Senja
Sindiran


__ADS_3

Susan terbangun dari tidurnya. Rongga hidungnya menghirup aroma wangi yang menyeruak hingga membuatnya nyaman. Matanya terus menyusuri ruangan yang sangat mewah, tirai yang bagus dan juga langit-langit kamar serta lampu yang indah. Setiap sudut ada sebuah guci besar yang bertengger menghiasi tempat itu. Di samping kiri kanannya banyak boneka yang ia beli tadi siang, ini kali pertama Susan di tempat yang seperti itu,  tempat yang asing namun menyenangkan.


"Aku tidak ingin bangun dari mimpiku." Itulah kata yang terlontar dari bibir mungilnya, ia meraih boneka barbie besar dan memeluknya erat.


Hening, hanya ada suara dentuman jam weker yang terdengar. Setelah puas menikmati tempat itu, Susan teringat pada ibunya yang tak ada di sisinya.


"Ibu di mana?" Menatap ranjang yang kosong. Akhirnya Susan menyibak selimutnya dan turun.


Susan menunduk memakai sandal, ia lupa lagi dengan ibunya saat menatap dirinya dari lantai yang bening seperti kaca, bahkan ia dapat melihat bayangannya dengan jelas di sana.


Susan berjongkok, tangannya mengusap-usap wajahnya yang kini bak putri.


"Aku benar-benar bermimpi," ucapnya lagi sembari tersenyum.


Saking senangnya, Susan melompat berulang kali hingga membuatnya  terpeleset dan jatuh.


"Aduuuh sakit," keluh Susan mengusap bagian bawah punggung yang terasa ngilu karena terhempas pinggiran ranjang.


"Ibu di mana?" Teringat lagi dengan sang Ibu,  membuat Susan terhenyak dan berlari menuju pintu. Ia membukanya dan keluar. Semua lampu menyala terang. Tempat itu sangat asing. Namun, Susan tak takut sedikit pun.


Susan mendekati pintu kamar yang ada di samping kamarnya. Bukan iseng, tapi mencari orang, akhirnya ia memutar knopnya. 


Ceklek


Pintu terbuka lebar,  senyum Susan mengembang saat melihat orang yang sangat familiar itu berada di atas ranjang.


Kaki mungilnya melangkah masuk ke arah ranjang dan menurunkan tangan Devan yang melingkar di perut Raisya.


"Om, nanti Bu Dokternya sakit," ucap Susan dengan polos.


Perlahan Devan maupun Raisya membuka matanya, dan betapa terkejutnya saat melihat Susan sudah berdiri di samping ranjang.


"Susan, kamu ngapain di sini?" pekik Devan. Jantungnya berpacu dengan cepat. Ia sangat terkejut, namun berusaha tetap tenang,  selimut yang masih membalut tubuh keduanya itu terus ditarik hingga menghimpit tubuh Raisya.


"Bagaimana ini?"  Raisya memunggungi Susan dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Devan. Ia tak kalah ketakutan dengan kondisinya saat ini yang ada di atas ranjang bersama Devan.


"Kak," cicit Raisya, berharap pria itu cepat mendapatkan solusinya.


Susan hanya diam, umurnya yang masih sangat dini belum bisa menangkap ketakutan Raisya dan kegugupan Devan.


"Tenang saja, kita sudah pakai piyama, kok."


Raisya buka sedikit selimutnya. Ternyata benar, jika dirinya dan Devan sudah memakai baju dengan sempurna.

__ADS_1


Akhirnya Raisya membuka selimutnya dan mengikat rambutnya lalu duduk di tepi ranjang.


"Susan kenapa?" tanya Raisya memegang kedua tangan bocah itu.


"Aku mau tidur sama bu Dokter," ucap Susan penuh harap.


Devan tersenyum menggelitik. Ia merasa sangat beruntung. Susan datang di waktu yang tepat dan tak mengganggu ritualnya. 


"Ya sudah, naik saja!" Akhirnya Devan menata bantal di tengah-tengah dirinya dan Raisya. 


"Susan mau dibacakan dongeng nggak?" tanya Devan yang mulai berbaring dan merapikan anak rambut Susan yang menutupi jidat.


Susan menggeleng,  dalam benaknya masih teringat jelas apa yang dialaminya beberapa bulan terakhir.


"Waktu ayah masih hidup sering dibacakan, tapi setelah ayah meninggal, tidak ada lagi yang  membacakan, ibu sering diam di kamar dan menangis,  aku jarang sekolah."


Raisya mendaratkan jarinya di bibir Susan. Ia tak sanggup mendengar keluh kesah bocah itu yang lebih miris darinya.


"Sekarang Om Devan akan bacakan cerita untuk Susan. Panggil saja dia Ayah!" suruh Raisya dengan lembut.


Devan berjalan menuju rak buku.


Hampir lima menit Devan belum juga kembali, tangannya malah sibuk menyingkap tumpukan buku yang ada di bagian atas.


Raisya berdecak kesal.


"Judulnya Pelangi Senja," jawab Raisya asal yang membuat alis Devan mengerut.


Dari mana dia tahu nama itu?


"Buku apa itu?" tanya Devan lagi tanpa menoleh.


"Buku yang menceritakan tentang seorang gadis yang dijodohkan dengan laki-laki yang keras kepala dan egois. Dia lebih mementingkan pacarnya daripada istrinya, tapi entah ada angin apa, pada suatu hari pintu hatinya terbuka dan kembali kepada istrinya, kisahnya sangat menarik lo, Kak."


Sebuah sindiran yang langsung menusuk ke dalam ulu hati Devan, namun ia masih bisa tersenyum, tak ada pilihan lain, ia mengambil buku yang berjudul anak cerdas dan kembali ke ranjang.


"Kayaknya ceritanya menguras emosi ya, tapi sayang nggak ada tuh yang berjudul Pelangi Senja."


Raisya mengatupkan bibirnya menahan tawa, sedikit pun ia tak melihat semburat merah di wajah Devan. Malah semakin lucu saat mulai bercerita.


"Bu dokter, Om, ibu di mana?" Susan menyela ucapan Devan.


Raisya semakin mendekat dan mengikis jarak.

__ADS_1


"Ibunya Susan masih di rumah sakit,  belum bisa pulang. Besok pagi kita akan jenguk," tutur Raisya dengan halus.


"Iya, sekarang Susan dengerin cerita dulu, ya."


Susan mengangguk kecil dan kembali fokus pada Devan.


Jika Devan telaten membacakan lembar demi lembar buku yang ia pegang, Raisya terus mengelus kening Susan dengan lembut, ia berharap bocah itu tertidur lagi.


Selang beberapa menit, Devan menutup bukunya saat melihat mata Susan terpejam.


"Kasihan sekali Susan, semoga bu Naimah cepat sembuh."


"Aamiin…" jawab Raisya sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh Susan.


Devan meletakkan bukunya di nakas dan menatap jam.


"Sayang, baru jam dua, kayaknya kita bisa nambah ronde yang kedua."


Devan memutari ranjang dan berbaring di samping Raisya, hingga kini Susan berada di pinggir.


Seketika Raisya menepuk tangan Devan sekuat tenaga.


"Kakak tidak lihat, ada Susan?"


Devan membenamkan wajahnya di ceruk leher Raisya.


"Dari mana kamu tahu Pelangi Senja?" tanya Devan tiba-tiba yang membuat Raisya tersenyum kecil.


"Aku pernah buka hape, Kakak. Aku membuka galeri. Aku lihat ada tulisan yang membuatku terpesona.


"Coba bacakan!" pinta Devan. 


Pelangi Senja, terbitlah hanya untukku  


Kehadiranmu membawa warna dalam setiap langkahku


Tanpa disengaja aku selalu menunggu hujan, karena setiap air yang menetes itu adalah tanda-tanda dari munculnya dikau. 


Tuhan itu maha adil,  dulu aku tidak pernah peduli pada seseorang yang ada di dekatku. Namun kini, aku merasa dunia itu berbalik, bahkan aku tak bisa jauh darinya. 


Pelangi Senja, mungkin nama itu yang pantas aku sematkan untuknya. Pelangi yang hadir di waktu yang senja. Indahnya panorama alam yang disempurnakan dengan warna langit  jingga. 


Raisya Putri Laksana, Aku mencintaimu tanpa batas. Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh, yang pastinya rasa itu tidak akan surut meski badai menghadang. 

__ADS_1


Hadiah kecupan bertubi-tubi diterima Raisya saat ia selesai membacakan tulisan yang ada di ponsel Devan. 


__ADS_2