
Pesta resepsi yang digelar selama hampir lima jam itu berakhir dengan pengundian hadiah. Seluruh panitia berbondong-bondong melakukan tugasnya. Mereka mengumpulkan nama yang tercantum di buku besar pintu masuk dan membawanya ke atas panggung.
Tamu yang masih berada di tempat berhamburan ke depan untuk menyaksikan akhir acara yang pastinya meriah dan membuat sport jantung.
"Kak, ayo ke sana!" Raisya terus menarik lengan kekar Devan. Ia sudah tak sabar dan berharap mendapat hadiah utama meskipun kemungkinannya sangat kecil.
Demi sang pujaan hati terpaksa Devan berdiri di garda terdepan di samping kerabatnya dan melebarkan beberapa kupon undian yang ia dapat.
"Ya ampun Van, kamu itu nggak boleh ikut, sini kuponnya buat aku," pinta Alfan, namun langsung di tepis oleh Raisya.
"Kakak kan sudah punya sendiri."
"Iya, lagi pula hadiahnya kan banyak yang kosmetik, nanti kalau kamu dapat untuk siapa,'' ejek Devan yang tak kalah julid dari istrinya.
"Untuk istri kamu yang gemooyyy." Alfan menatap Raisya dan menaik turunkan alisnya dengan cepat. Sontak Devan meninju perut sahabatnya yang sudah berani genit pada istrinya.
"Kalian ngapain di sini?" tegur ayah yang baru saja turun dari pelaminan.
Alfan berlari menghindari seseorang yang sangat berpengaruh baginya.
Raisya tersenyum malu dan meremas kertas yang ada di tangannya hingga berbentuk bola.
"Lebih baik sekarang kalian temani bunda," titah Ayah.
"Apa aku bilang, ayah itu tidak mengizinkan keluarga mendapatkan hadiah," bisik Devan, tak lupa mencuri ciuman di pipi Raisya yang sudah beberapa jam ia lupakan karena berada di tempat umum.
Devan memperjelas dan menunjuk tulisan kecil yang ada di bawah bagian nomor.
Tidak untuk keluarga.
Raisya hanya membacanya dalam hati.
Terpaksa Raisya menurut dan mengikuti langkah Devan menghampiri Bunda yang ada di sudut ballroom sambil memijat kakinya.
Hoaaam
Devan menghempaskan tubuhnya di sofa panjang dan menggunakan paha bunda sebagai bantal, sedangkan Raisya berada di samping bunda menyandarkan kepalanya di pundak mertuanya.
Pesta malam ini tak hanya membuat mereka berdua bahagia, namun juga ngantuk dan lelah.
"Sebentar lagi kan sudah selesai, kalau kalian mau ke kamar tidak apa-apa," saran bunda, satu tangannya mengelus kepala Raisya, sedangkan yang satunya lagi mengusap kening Devan.
__ADS_1
"Aku mau bareng bunda saja, kita nginap di sini semua, kan?" tanya Raisya.
"Iya, bunda rasanya juga nggak kuat jalan."
Bunda kembali mengelus betisnya yang semakin terasa nyeri karena lama berdiri dan berjalan ke sana kemari.
"Sayang lihat deh, ternyata dari mereka yang paling subur kamu." Devan beranjak dan beralih duduk di samping Raisya, menunjukkan beberapa gambar seluruh keluarga wanita yang ia ambil beberapa waktu lalu.
Ada pengantin wanita, Asyifa, Airin, Anggia, Raisya, Mayra dan paling pinggir ada Alisa.
Seketika Raisya mencubit pinggang Devan yang membuat sang empu meringis.
Devan membungkuk dan tertawa melihat bibir merah Raisya yang semakin menggemaskan.
"Jangan ngambek dong, aku malah suka kamu yang seperti ini, empuk." Devan memelankan suaranya, namun tak menyurutkan pipi Raisya yang semakin merona.
''Tapi aku kan malu, mereka semua langsing, tapi aku __" Raisya memotong ucapannya saat Devan membungkam bibirnya.
''Kakak, tangan kamu bau ikan salmon, jangan pegang-pegang.'' Raisya menurunkan tangan Devan.
''Makanya jangan aneh-aneh, apapun keadaanmu aku tetap cinta.''
''Iya kalau dapat lumayan kan, kapan lagi ada doorprize mewah seperti ini,'' imbuh Airin yang juga merasa kesal.
''Nanti di pernikahan Kak David pasti ada,'' sahut Devan.
''Aku....'' David menunjuk dirinya. Jangankan menikah, pacaran pun belum kepikiran.
''Iya sayang, mau tunggu apa lagi, kamu sudah dewasa dan sukses, dan sekarang tinggal cari istri.''
Mata David melirik ke arah Anggia. Gadis yang masih duduk di bangku SMA sekaligus anak dari sahabat Almarhumah bundanya.
''Kayaknya masih lama, Bunda,'' ucap David menggaruk kepalanya lalu meninggalkan tempat itu, takut menjadi bahan pembicaraan karena statusnya jomblo.
Bunda hanya menggelengkan kepalanya melihat anak-anak yang berbeda ekspresi. Ada yang nampak berseri-seri menikmati pestanya. Ada pula yang kecewa dengan peraturan ayah, padahal dari hadiah itu semua barang mahal dan mewah tapi sayangnya tidak untuk keluarga.
"Sekarang kalian cepat ke kamar, sholat setelah itu tidur," titah bunda dengan tegas.
Tak ada yang berani membantah, akhirnya si kembar dan Asyifa meninggalkan tempat pesta duluan.
Satu persatu tamu berpamitan pulang, kini tinggal beberapa kerabat dekat dan kolega bisnis yang masih ada di sana, saling berbincang dengan ayah dan membahas pekerjaan.
__ADS_1
***
Syakila terus meringis saat Afif mengobati kakinya yang lecet karena high heels yang dipakainya terlalu sempit. Kini pengantin baru itu sudah ada di kamar untuk melepas lelah yang seharian membalut.
"Pelan-pelan Mas, sakit." Tangan Syakila mencengkram pundak Afif yang berjongkok di depannya, sedangkan Syakila duduk di tepi ranjang yang masih di penuhi dengan kelopak mawar.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kesempitan, kan bisa ganti."
Afif mendongak sejenak, membantu Syakila melepas hijabnya dan beberapa aksesoris yang menghiasi bajunya.
"Aku kira tidak separah ini."
Tak ada sahutan, Afif menatap wajah Syakila dengan tatapan intens. Ini pertama kalinya Afif menatap Syakila dari dekat dan bisa mengabsen setiap jengkal wajah gadis itu.
"Mas, kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Syakila menundukkan kepalanya malu saat mata Afif tak berkedip.
"Sekarang kita sholat dulu, setelah itu __" Afif menggantungkan ucapannya, entah apa selanjutnya, akan tetapi membuat bulu halus Syakila merinding.
Terdengar seruan salam dari sudut bibir Afif yang menjadi imam, lalu diikuti Syakila yang menjadi makmum, setelah itu keduanya melanjutkan dengan lantunan doa hingga beberapa menit.
Afif melepas pecinya dan meletakkan di meja kecil yang ada di sampingnya, lalu memutar tubuhnya dengan posisi duduk. Membantu Syakila melepas mukenanya dan melipatnya.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Afif dengan pelan namun menekankan.
Syakila diam, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Meskipun sama-sama dewasa, bagi Syakila itu adalah sesuatu yang masih aneh. Jika biasanya ia sholat sendiri, tidur sendiri, kini ada laki-laki yang menemaninya, bahkan sekamar dengannya.
"Aku sudah siap," jawab Syakila dengan lugas.
Lampu hijau menyala, Afif segera menarik ceruk leher Syakila dan menyatukan bibirnya.
Aaaa… tidak, sebentar lagi aku akan menjadi mantan perawan.
Meskipun Syakila mencoba tenang, dadanya malah semakin bergemuruh saat Afif memperdalam ciumannya. Kedua tangannya menggenggam erat kedua lengan Afif, sedangkan kedua matanya terpejam dengan sempurna.
Disaat terbuai dengan ciuman pertamanya, tiba-tiba saja tubuh Syakila terasa melayang.
Syakila membuka matanya dengan pelan saat Afif melepaskan tautan bibirnya, dan benar saja. Pria yang berstatus suaminya sudah mengangkat tubuhnya menuju ranjang.
Dan akhirnya ruangan yang dingin itu menjadi panas saat Afif melanjutkan aksinya di atas kasur. Dengan penuh gairah yang membara hingga keduanya saling bertukar peluh.
__ADS_1