Pelangi Senja

Pelangi Senja
Kekhawatiran Devan


__ADS_3

Tanpa mengetuk pintu dan ucapan salam, Devan berlari menghampiri Raisya yang masih sibuk mencatat resep untuk pasien yang ada di depannya. Devan meraih tubuh Raisya dan memutarnya.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Devan dengan cemas.


Pasien yang masih setia duduk di kursi itu tersenyum melihat kepanikan Devan. Padahal sudah jelas Raisya baik-baik saja, tapi masih di pertanyakan.


"Tidak," jawab Raisya bingung, ia tak mengerti dengan sikap aneh suaminya.


Setelah mendengar ucapan itu, Devan meraih tubuh Raisya dan merengkuhnya erat. Ia tak peduli di bilang lebay, yang pastinya jantungnya saat ini sudah kembali normal setelah beberapa saat bertarung dengan dadanya.


"Kak, lepas dulu, aku bekerja," ucap Raisya.


Akhirnya Devan melapaskan pelukannya dan mengendurkan dasi yang melilit di lehernya.


"Maaf, Mbak. Ini resep yang harus di tebus," Raisya menyodorkan selembar kertas kecil di depan pasien.


"Terima kasih, Bu Dokter. Saya permisi dulu." Setelah bersalaman dengan Raisya, wanita itu keluar. Kini tinggal Raisya dan Devan yang ada di ruangan.


"Kata Afif tadi kamu hampir jatuh dari tangga, apa itu benar?" tanya Devan melanjutkan sebuah pertanyaan yang menjanggal.


Raisya menutup bukunya dan beralih duduk di sofa membantu Devan melepas sepatunya.


"Iya, dia yang menolongku. Mungkin kalau tidak ada Afif, aku jatuh ke bawah dan tidak tahu lagi bagaimana keadaanku."


Masih teringat dengan jelas, bagaimana posisi Raisya tadi. Bisa dipastikan kepalanya akan terbentur dan cedera. 


"Lain kali jangan ceroboh, aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu." Devan mengelus kepala Raisya yang tertutup hijab putih. 


"Ini kan belum waktunya kakak pulang, kenapa sudah sampai di sini?" tanya Raisya sembari melihat jam yang melingkar di tangannya.


Devan meringsuk duduknya, mengikis jarak antara keduanya.


"Aku khawatir sama kamu, jadi aku langsung ke sini, juga mau bilang kalau malam ini bunda menyuruh kita ke rumah untuk makan malam."


Wajah Raisya berubah, senyumnya meredup mengingat hubungannya dengan  Syakila yang semakin merenggang.


"Kamu kenapa?" tanya Devan serius. 


"Kakak harus membantuku bicara dengan Syakila, sepertinya dia masih marah padaku, aku hanya ingin tahu kesalahanku di mana."


"Kamu tidak punya kesalahan apapun, biarin saja dia seperti itu, aku yakin kalau egonya sudah turun, dia bakalan cariin kamu. Sekarang kamu itu saudara yang lebih tua, jangan lagi memohon sama dia,'' jelas Devan menekankan. 

__ADS_1


Diam-diam Devan pun sudah bicara dengan Syakila, hanya saja wanita itu tak mau bicara dan memilih diam. 


Akhirnya Raisya diam, untuk saat ini ia malas jika harus berdebat dengan orang.


Raisya mengurus surat-surat kepulangan bu Naimah, hari ini ia sibuk hingga harus mengabaikan Devan yang ada di kamarnya. Susan tidak mau bertemu Devan dan memilih menemani ibunya yang ada di ruang rawat. 


Raisya turun menemui salah satu petugas rumah sakit, ia membicarakan masalah biaya administrasi perawatan Bu Naimah. Sedikit pun tak ingin bantuan dari orang lain, termasuk suaminya. 


"Kenapa Bu Dokter sendiri yang mengurus pasien? Memangnya ibu Naimah tidak punya keluarga lain?" tanya salah satu petugas rumah sakit yang lainnya. 


"Kita berawal dari satu ayah dan satu ibu, jadi semua adalah saudara termasuk suster."


Wanita yang sedang mengetik laptop di depannya itu tersenyum bangga diakui sebagai saudara. 


"Seandainya dokter saudara kandung saya,  pasti ibu akan membuang saya."


Dan akhirnya yang ada di ruangan itu  tertawa lepas mendengar ucapan suster Eli.


Baru saja memutar tubuhnya, Raisya menatap Syakila dan Afif yang baru keluar dari lift. Ia mengusir kecanggungannya dengan menerbitkan senyum di atas kesuraman hatinya, meskipun tak ada balasan, setidaknya ia menyapa dengan ramah. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti permintaan bunda, Devan datang ke rumah jam delapan malam setelah sholat Isya'. Bu Naimah dan Susan saat ini berada di rumahnya. Sudah menjadi kewajiban Raisya untuk memenuhi kebutuhan mereka sebelum bu Naimah benar-benar pulih.


"Tapi kalau sesama saudara diam lebih dari tiga hari dosa besar, Kak."


"Bukan salah kamu juga, aku sudah mencoba bicara, tapi tanggapan dia cuek."


Aku harus minta bantuan bunda.


"Assalamualaikum…" sapa Devan sembari membuka pintu utama.


Jawaban serempak terdengar dari ruang tengah. Ternyata di sana sudah berkumpul semua saudaranya termasuk si kembar yang saling melempar bantal.


"Kakak kok lama sih datangnya, aku kangen." Asyifa berhamburan memeluk Raisya yang baru saja menghampiri Bunda. Si kembar ikut beranjak dan antri di belakang Asyifa.


Menangkap ada bau-bau tak sedap dari sikap adiknya, Devan maju satu langkah dan menghadang keduanya.


''Kalian mau apa?" tanya Devan menyelidik.


"Mau peluk kak Raisya lah, dia kan kakak kita." Daffa menatap Daffi dengan alis yang naik turun.

__ADS_1


Seketika Devan menoyor jidat si kembar bergantian.


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan," tegasnya.


Daffa dan Daffi cekikikan melihat wajah Devan yang dipenuhi dengan cemburu, sedangkan Afif yang ada di sofa tersenyum simpul melihat kebersamaan mereka. Syakila sibuk menekan tombol remot tv mencari chanel kesukaannya. 


"Sayang, kita ke ruang makan yuk! Kayaknya bunda masak enak," ajak Devan meraih tangan Raisya dan membawanya ke dapur, mengindari Syakila yang nampak cemberut.


"Bunda mau aku bantu," tawar Raisya saat melihat Bunda menata makanan dengan pembantu lainya.


"Tidak usah, kalian bantu makan saja."


Devan langsung duduk dan mencomot makanannya yang sudah tersaji di depannya.


Hampir saja Raisya membuka mulut untuk mengadu masalahnya dengan Syskila, ia mengurungkan niatnya, baginya itu adalah urusannya sendiri dan tidak perlu melibatkan orang lain, termasuk bunda. 


"Bunda, Ayah di mana?" tanya Raisya, sejak datang ia belum melihat ayah Mahesa. 


"Di kamar, sebentar lagi juga keluar."


Lagi-lagi si kembar datang dan duduk di sisi kiri dan kanan Devan. Mereka kangen untuk menjahili kakak sulungnya yang super posesif pada Raisya.


"Bunda, kenapa dulu bukan aku saja yang di jodohkan dengan kak Raisya," goda Daffa. 


Seketika Devan menghentikan tangannya yang sudah masuk ke toples untuk mengambil kacang atom. Ekor matanya menatap Daffa dengan tatapan tajam bak pedang yang terhunus dan siap menggoreskan luka.


"Iya Bunda, aku juga mau di jodohkan dengan kak Raisya," timpal Daffi yang semakin membuat darah Devan mendidih. Rahang kokohnya mengeras serta kedua tangannya mengepal.


Melihat amarah Devan yang membuncah, Raisya segera mendekatinya.


"Kalau dijodohkan dengan salah satu dari kalian, aku bakalan tolak," ucap Raisya yang mampu mendinginkan sekujur tubuh Devan.


"Kenapa di tolak, aku kan tampan," ucap Daffa dengan percaya diri. Jiwa narsis sang ayah pun melekat.


"Karena aku nggak mau menikah dengan berondong kayak kalian."


Wah….wah...wah...Kak Raisya meremehkanku. Dia tidak tahu saja kalau senjataku lebih antik dari punya kak Devan. 


Daffi yang bisa mendengar bahasa kalbu saudaranya itu hanya bisa tertawa kecil. 


Mampir yak punya author kece, Kari susanti

__ADS_1



__ADS_2