Pelangi Senja

Pelangi Senja
Melamar Naimah


__ADS_3

Ayah Randu membuka pintu kamar David. Tanpa disuruh ia masuk, matanya menyapu ruangan yang sangat sepi, bahkan David pun tak nampak di sana.


"Vid, kamu di mana?" seru ayah Randu, matanya mengelilingi setiap sudut kamar yang sangat identik dengan gambar bola.


"Di sini, Yah," jawab David dengan nada tinggi.


Ayah berjalan menuju ke arah sumber suara, ternyata  David ada di balkon kamarnya. Menikmati pemandangan Senja yang nampak dengan jelas keindahannya.


Ayah mendekat dan mengusap-usap bahu lebar David lalu duduk di sampingnya, keduanya menatap ke arah yang sama.


"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Ayah Randu.


Semenjak pulang dari rumah Raisya, David cenderung menyendiri di kamar yang membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya.


Belum sempat menjawab, Mama Aya menyusul. Seperti biasa, setiap ada masalah ia pun tidak bisa membiarkannya begitu saja, baginya David masih butuh mereka dalam segala hal, termasuk urusan pribadi dan memilih istri.


Mama duduk di sisi David dan merangkul pundaknya.


"Sepertinya ada yang jatuh cinta nih, Yah," goda mama Aya sambil nyengir.


Sebagai orang tua, mama Aya pun tahu dengan perhatian David yang sangat berlebihan pada Naimah dan Susan.


"Nggak, kata siapa ada yang jatuh cinta?" elak David dengan gelengan kepala.


"Mama nggak bilang kalau yang jatuh cinta itu kamu lho."


Skak


David menggaruk kepalanya yang tidak gatal, setiap membahas apapun ia selalu kalah dari mama Aya.


Ayah tersenyum  lalu menatap David dari samping.


"Kamu mau nungguin apa lagi? Kak Raisya sudah bahagia. Daffa dan Daffi saja sudah berani bilang ke ayah dn bundanya, masa kamu kalah sama mereka."


Bukan masalah kalah, Yah. Tapi apa ayah setuju dengan pilihanku, itulah yang David keluhkan semenjak dua bulan ini.


Semenjak Raisya pergi, David lah yang mengambil alih tugas sang kakak. Ia yang membantu Naimah, baik saat di rumah maupun menjalani operasi matanya yang kedua. Disaat itulah David kagum dengan wanita itu, tapi ia masih ragu. Takut jika ayah dan mamanya tidak menyetujui mengingat yang ia sukai adalah orang yang jauh dibawah standar keluarganya.


"Apa kamu menyukai Naimah?" tanya Ayah Randu memastikan.


Seketika David menoleh menatap ayahnya.


Aku harus bilang apa.

__ADS_1


"Jujur saja, Kak. Jangan ditutupi," timpal mama Aya.


David menunduk, yakin pada hatinya untuk menjawab jujur.


"Iya, tapi kalau ayah dan mama tidak setuju aku akan mundur," jawab David dengan cepat. 


Mata Ayah digenangi cairan bening, merasa terenyuh dengan kepatuhan David, bahkan sebelum ayah mengucapkan pun David sudah memasang tameng demi menjaga hati mereka.


Ayah memberi kode ke mama untuk duduk di sampingnya, alhasil wanita itu pindah di samping ayah Randu.


"Kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya Ayah antusias.


"Naimah janda, dia sudah punya anak. Dia juga bukan dari orang kaya seperti keluarga kita dan Ayah Mahesa."


Ayah dan mama tersenyum melihat wajah David yang nampak gelisah.


"Ada yang kamu tidak tahu tentang bunda dan mama," ucap ayah Randu.


"Kok aku dan Arum?" protes mama. 


"Contoh saja, Ma."


"Dulu saat ayah menikahi bunda, dia juga yatim piatu, dia tidak punya keluarga dan juga tidak kaya," ucap ayah Randu menjelaskan.


"Ayah tidak pernah mempermasalahkan itu semua, yang penting kamu menyukainya dan bisa membimbingnya."


"Tidak ada alasan ayah untuk tidak setuju, dia baik, sopan santunnya luar biasa, cepat halalin dia, sebelum diambil orang."


Rasa bahagia dan syukur bercampur aduk. Akhirnya apa yang ditakutkan David terjadi, bahkan ayah dan mamanya sudah memberi lampu hijau dengan niat baiknya.


Di sisi lain


Raisya tersenyum setelah membaca pesan dari David, setelah sekian purnama, akhirnya adik tercintanya membuka hati untuk seorang wanita.


"Kak lihat deh!" Raisya menggeser ponselnya hingga berada tepat di depan Devan.


"Sudah aku tebak," ucap Devan santai, matanya menatap punggung Naimah yang ada di meja makan lalu beralih ke arah Susan yang sedang bermain di ruang tengah. 


"Sejak kapan kakak menebaknya?"


"Waktu kamu pergi dari rumah."


Risya manggut-manggut mengerti. Ia beranjak dan menghampiri Naimah yang sedang menata makanan di ruang makan.

__ADS_1


"Bu dokter mau makan sekarang?" tanya Naimah yang baru saja mengambil piring dari rak.


"Tidak, nanti saja kalau ayah sudah ke sini. Kamu siap-siap, dandan yang cantik." Raisya menepuk lengan Naimah yang nampak tercengang dengan ucapannya.


"Baik, Dok." Naimah pergi meninggalkan Raisya, dalam hatinya penuh tanda tanya dengan perintah itu.


Jam menunjukkan pukul delapan malam. Seperti yang diperintahkan Raisya, Naimah memakai baju yang dibelikan David tadi siang. Setelah beberapa kali menonton tutorial lewat ponsel, akhirnya ia bisa memakai make up dan hijab dengan lebih baik.


"Ada apa ya? Apa mereka mau mengusirku dan Susan?"


Naimah mengabsen lantai, berperang dengan otaknya, sesekali ia menepis apa yang melintas dan berpikir positif.


Mereka orang baik, tidak mungkin mengusirku. 


Suara klakson menggema, Naimah semakin takut, keringat dingin bercucuran menembus pori-porinya.


Naimah keluar dari kamarnya, ia langsung membuka pintu depan. Menyambut kedatangan Ayah Randu dan mama Aya. Tak berselang lama, David keluar dari mobil. Pria itu memakai kemeja pendek berwarna putih serta celana jeans berwarna hitam.


"Malam, Mas," sapa Naimah membungkuk sopan.


"Malam, Susan di mana?" tanya David basa-basi.


"Dia sudah tidur, Mas. Silakan masuk!"


David mengikuti ayahnya yang ada di ruang tamu, sedangkan Naimah ke belakang membuat minuman untuk mereka.


Raisya dan Devan keluar dari kamar menemui ayah dan mamanya juga David.


"Gimana Vid, apa kamu sudah siap?" tanya Devan yang baru saja duduk di samping ayah Randu.


"Sudah, Kak. Tapi aku nggak tahu Naimah setuju apa tidak," ucapnya seraya menoleh ke arah Naimah yang keluar dari dapur.


Naimah berjongkok, meletakkan satu persatu minuman itu di meja. Hening, semua orang hanya menatapnya tanpa bicara. 


"Naimah, kedatanganku ke sini mau bicara sama kamu," ucap Ayah Randu mengawali pembicaraan.


Jantung Naimah berirama lebih cepat, antara takut dan penasaran, apalagi ekspresi semua orang berbeda-beda, jika  Raisya dan mama Aya tersenyum padanya, David nampak tegang, sedangkan Devan dan ayah Randu terlihat lebih serius.


"Ada apa, Pak?" tanya  Naimah dengan bibir gemetar.


"Duduk dulu!" titah Ayah Randu.


Ternyata semua penuh, hanya ada satu tempat duduk yang masih kosong, yaitu di samping David. Terpaksa ia duduk di sana dengan jarak kira-kira setengah meter dari David.

__ADS_1


"Aku datang ke sini ingin melamar kamu untuk David."


Seketika nampan yang ada di tangan Naimah jatuh. 


__ADS_2