
Seluruh keluarga sudah berkumpul di rumah Devan. Mereka menunggu tuan rumah yang belum juga muncul. Hampir lima belas menit, belum ada tanda-tanda Devan dan Raisya keluar, akhirnya bunda Sabrina mengetuk pintu kamar Devan.
Devan membuka pintu, tak seperti lainnya yang memasang wajah berseri-seri, Devan nampak murung dan cemas.
"Ada apa?" tanya Bunda menatap punggung Raisya yang duduk di tepi ranjang.
Bunda masuk melewati tubuh kekar Devan lalu menghampiri Raisya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya bunda, memeluk Raisya yang sibuk mengusap air matanya dengan tisu.
Devan berjongkok di depannya, mendongakkan kepalanya dan terus menatap wajah cantik itu.
"Aku nggak mau ikut ke pesta. Aku mau di rumah saja?" ucap Raisya di sela-sela tangisnya. Padahal, dari kemarin dia yang paling antusias, tapi sekarang tiba-tiba mengundurkan diri membuat bunda bingung.
"Kenapa?" tanya bunda dengan nada lembut, selembut sutra. Menatap keduanya yang sudah memakai seragam dan juga sudah berpenampilan rapi, tapi terlihat enggan untuk pergi.
Raisya menunduk menatap kakinya yang masih memakai sandal bulu berwarna hitam putih motif Zebra.
"Belum bisa pakai high heels, Bunda. Katanya insecure sama tamu yang lain kalau pakai sepatu," jawab Devan dengan pelan, tangannya terus mengusap lengan istrinya.
Bunda tersenyum tipis, "Tenang saja, biar bunda suruh adikmu pakai sepatu juga."
"Jangan Bunda!" Raisya menarik tangan bunda yang sudah berdiri.
"Nggak papa, mereka pasti ngerti."
Bunda keluar, sedangkan Devan beralih duduk di samping Raisya dan merengkuhnya, mencium wajahnya yang menggemaskan. Tapi juga menjengkelkan.
Bunda menghampiri seluruh keluarga, matanya menatap anak gadis satu persatu.
"Asyifa, kamu pakai sepatu ya, temani kak Raisya."
Putri bungsu langsung mengangguk tanpa protes.
Ayah Mahesa memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, menggeser duduknya mendekati ayah Randu yang duduk di sampingnya.
"Keluarga kita itu terlalu banyak ya, Ndu. Mau datang ke acara resepsi saja ada drama. Ini belum ada cucu, bayangkan saja kalau Syakila sudah melahirkan, Raisya, Naimah dan yang lain, pasti kayak panti asuhan."
Semua hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan ayah Mahesa.
Naimah yang mendengarkan itu pun menarik baju David dari belakang.
"Apa?" tanya David tanpa mengeluarkan suara.
"Mas, aku juga mau pakai sepatu saja, takut jatuh."
__ADS_1
David mengangguk dan berjalan menuju lemari sepatu milik sang kakak.
David mengambil beberapa sepatu Raisya dan meletakkannya di tengah-tengah keluarganya. Barangkali ada yang mau selain calon istrinya dan Asyifa. Setelah itu masuk ke kamar Devan.
Ternyata benar, tak hanya Asyifa dan Naimah, Syakila dan Airin pun ikut memakai sepatu demi Raisya.
David menghampiri Raisya. "Kak, semuanya memakai sepatu, jadi Kakak tidak perlu malu," ucap David meyakinkan.
"Naimah juga?" tanya Raisya sedikit tenang.
David tersenyum, "Iya, kebetulan dia tidak terlalu bisa berjalan memakai sepatu tinggi, jadi kakak tidak sendiri."
Akhirnya Raisya tersenyum saat mendengar penjelasan David.
"Sekarang pakai, ya." Devan membantu memakaikan sepatu istrinya.
"Makasih ya, Kak."
"Hadiahnya dong."
Raisya mengerucutkan bibirnya, tapi tetap memberikan hadiah sebuah kecupan di bibir Devan.
Bunda Sabrina, Ayah Mahesa, Mama Aya dan Ayah Randu berangkat dengan satu satu mobil, mereka memakai jasa sopir. Syakila, Afif, Devan, Raisya, David dan Naimah juga satu mobil, dengan David yang menjadi sopir. Si kembar, Airin, Asyifa, Nanda, Susan, mereka pun satu mobil, dan Daffa yang mengemudi. Benar-benar keluarga cemara yang menghangatkan seperti yang diharapkan bunda Sabrina.
Ayah Randu dan ayah Mahesa serta sang istri langsung menemui dokter Agung, sedangkan yang lain berhamburan mencari tempat yang nyaman bersama pasangan masing-masing.
Daffi mengedarkan pandangannya, di antara adik dan kakaknya, hanya dirinya yang mendengus kesal karena tidak mendapati Alara di sana, terpaksa ia kembali bergabung bersama yang lain di ruangan VIP.
"Kamu kenapa?" tanya Daffa sembari menyenggol lengan Daffi.
Daffi hanya menggeleng tanpa suara, ia tak mau melontarkan kesedihannya di depan semua orang yang saat ini sedang bahagia.
Disaat yang lain menikmati acara pesta yang meriah, Daffi hanya bisa meratapi kegalauannya. Hampir satu jam ia berada di acara itu, dan beberapa acara sudah selesai. Namun, Alara tak muncul juga. Bahkan ia sudah berkali-kali menghubungi gadis itu, masih saja tak ada respon sedikitpun.
"Fi, ayo ke sana!" Daffa menunjuk ke arah pelaminan, di mana sesi foto keluarga itu mulai dilangsungkan.
Daffi menggeleng, jangankan foto, untuk berdiri pun tak ada semangat.
Daffa ikut duduk, ia bisa merasakan rasa kecewa yang menyelimuti kembarannya.
Baiklah, aku akan menemani kamu."
Keduanya duduk bersejajar, menatap semua orang yang bergantian naik ke atas demi bisa berpose dengan sang mempelai.
"Si kembar mana, Bund?" tanya ayah saat keduanya turun dari pelaminan.
__ADS_1
Bunda mengangkat kedua bahunya, "Bunda juga nggak tahu, bukankah tadi bersama kakaknya?"
Ayah dan bunda membelah kerumunan, matanya terus menyusuri setiap tamu yang berlalu lalang.
Setibanya di depan, ayah berpapasan dengan gadis cantik yang langsung menyapanya.
Gadis itu mencium punggung tangan Ayah Mahesa dan bunda Sabrina bergantian.
"Kamu Alara, kan?"
Gadis itu mengangguk diiringi dengan senyuman tipis.
Ayah menghembuskan napas lega, akhirnya ia punya kunci untuk mencari putranya.
"Om boleh nggak minta tolong sama kamu?"
Alara mengangguk lagi, setelah beberapa kali belajar bahasa Indo, akhirnya sedikit demi sedikit ia memahami apa yang ayah katakan.
"Tolong hubungi Daffi, bilang kalau kamu ada di pintu utama," pinta ayah menangkupkan kedua tangannya.
Seperti yang diminta ayah Mahesa, Alara mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Daffi.
Tersambung
Suara yang berisik membuat Alara keluar dari ballroom itu.
"Halo, Kak," sapa Alara dengan lembut.
Daffi langsung tersenyum dan beranjak dari duduknya.
"Kamu dimana?" tanya Daffi langsung ke inti.
"Aku ada di depan, di dalam sangat berisik, jadi aku keluar."
Seketika Daffi langsung pergi dari tempat itu meninggalkan Daffa sendirian.
"Inilah kenapa aku tidak suka mempunyai saudara kembar seperti kamu," gumam Daffa.
"Sabar, Kak. Orang sabar disayang Allah," tutur Airin yang mampu menyejukkan hati Daffa.
"Bunda, Ayah, di mana Alara?" tanya Daffi dengan napas ngos-ngosan.
Ayah menyungutkan kepalanya ke arah gadis cantik yang mematung di depan pintu.
Akhirnya rasa rindu selama tiga bulan itu terobati saat Daffi bisa menatap wajah Alara secara langsung.
__ADS_1