Pelangi Senja

Pelangi Senja
Jalan keluar


__ADS_3

Devan membisu, sorot matanya menunjukkan kemarahan yang sangat besar dengan ucapan yang Raisya luncurkan. Ia tak bisa membaca pola pikir istrinya yang melampaui batas kelembutan, tak mungkin Raisya bodoh dan mengambil keputusan begitu saja, pasti semua sudah dipertimbangkan secara matang-matang oleh wanita itu, tapi tetap saja itu tak bisa di terima akal Devan.


Salmon yang masih separo itu dilahapnya sampai habis, tak ada sedikit pun rasa menyesal sudah membuat Devan marah ataupun ingin meminta maaf karena permintaannya yang terlalu konyol. Hingga Devan berpikir kalau Raisya tak mencintainya, seperti dirinya yang sangat mencintai wanita itu.


Devan menatap lekat wajah Raisya untuk  menyalurkan rasa penyesalan. Ia takut permintaan itu adalah dalih Raisya meminta pisah dan sebagainya.


"Apa kamu mencintaiku?" Jika kemarin pertanyaan itu dari Raisya, kini beralih dari Devan.


Raisya memutar bola matanya, menyapu sekelilingnya dan berhenti di mata Devan. Ia bisa membaca sorot mata yang sangat berat mengungkap kemarahannya itu hingga nampak berkaca.


Suasana yang hangat semakin panas mengalahkan sinar mentari yang mulai tinggi. Afif memilih pergi daripada harus menyaksikan debat suami istri tersebut. 


"Aku permisi dulu," pamit Afif, mengedipkan matanya ke arah Syakila. 


"Susan, kita main ke sana yuk!" ajak Syakila, Bu Naimah juga pergi meninggalkan Raisya dan Devan sendirian.


"Maunya kakak aku menjawab apa?" tanya Raisya balik.


"Jawab saja, kalau kamu mencintaiku dan tidak ingin kehilangan aku." 


Raisya tersenyum tipis, mengusap dagu Devan yang di tumbuhi rambut halus. 


"Aku bukan perempuan yang bodoh, Kak. Aku mengizinkanmu merawat Alisa, bukan berarti aku memberikan kamu padanya," jelas Raisya yang belum bisa dipahami Devan.


"Kita akan merawat dia bersama, mencari jalan keluar untuk dia. Aku tidak akan memberi celah orang lain merebutmu, termasuk Alisa," imbuhnya.


Meskipun masih geram, Devan sedikit lega dengan tutur Raisya yang terakhir. Dilihat dari sudut pandang manapun, ia tak pernah menemukan salah Raisya hingga apapun yang dikatakan wanita itu selalu diterima olehnya.


"Kita kesana, yuk!" Menunjuk Alisa yang juga sedang menghadap ke timur.


"Tapi kamu harus janji dulu kalau kamu tidak akan memberikan aku pada wanita lain." Devan kembali mengungkapkan rasa takutnya yang memenuhi dada.


Memangnya dia dagangan, diberikan pada wanita lain.


Raisya mengatupkan bibirnya. Ia ingin tertawa, tapi karena kakinya terlalu sakit, tawa pun ia tahan untuk sementara. 


"Berjuta-juta istri di dunia ini, hanya ada beberapa wanita yang mau memberikan suaminya pada wanita lain. Bahkan mereka bisa dihitung dengan jari. Jelas mereka adalah penghuni surga, tapi aku ingin meraih tempat yang indah itu dengan cara lain, bukan memberikan kakak pada Alisa."


Devan merengkuh tubuh Raisya, mendekapnya dengan erat dan mencium pucuk kepalanya yang tertutup hijab berwarna biru laut.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Devan seperti orang bodoh, saat ini otaknya terasa keruh dan tak bisa memikirkan apapun selain kesembuhan Raisya.


"Cukup yakinkan Alisa kalau kakak adalah milikku, dan pasti kakak tidak akan menanyakan bagaimana caranya."


Otak minim Devan mengajaknya untuk berpikir keras, ia tak sepintar Raisya, dan ia pun tak sebijak Raisya hingga selalu saja menyalah artikan semuanya.


"Pernikahan kita sangat mendadak, di antara kamu, aku, Alisa dan Afif, semua pasti sakit hati dan tidak menerimanya begitu saja. Jika aku melupakan Afif dengan cara memperjuangkan pernikahan kita, Afif pun berusaha melupakan aku dengan memasukkan Syakila ke dalam hidupnya. Aku tidak tahu dengan cara apa kakak bisa memilihku, yang jelas sekarang kita sudah mendapatkan kebahagiaan, Sedangkan Alisa, tidak ada yang ia perjuangkan, dia belum mendapatkan laki-laki lain, sampai kapanpun dia tidak akan bisa melupakan kakak jika dia terus memikirkan masa lalu. Umurnya sudah dewasa, tapi perhatian dari keluarganya kurang mendukung sehingga dia terus terpuruk dengan keadaan."


Cling


 Otak Devan cerdas dalam sekejap. Ia langsung bisa mencerna ucapan Raisya, kali ini ada seseorang yang dipastikan bisa membantunya.


Ciuman bertubi-tubi mendarat di setiap jengkal wajah Raisya yang membuat sang empu menggeleng.


Devan merogoh ponselnya, rasa marah yang membelenggu berangsur menghilang saat ia melihat foto profil yang sangat narsis itu. Dengan sigap ia melakukan panggilan. 


"Kakak…" teriak seorang gadis cantik yang membuat Raisya dan Devan menoleh.


Devan berdecak, bukan pada gadis yang berlari ke arahnya. Namun, pada pria yang saat ini menempelkan benda pipihnya di telinga.


"Sengaja mau membuatku darah tinggi," kesal Devan.


"Cepat ke sini!" titah Devan dan kembali menutup sambungannya.


"Anggia, kamu nggak sekolah?" tanya Raisya membalas pelukan gadis itu.


"Nggak, Kak. hari ini ada rapat, kelas dua diliburkan."


"Mas Alfan," sapa Raisya pada wajah jutek Alfan saat menatap Devan.


Jika diperhatikan dengan intens, keduanya hampir mirip kartun yang saling bermusuhan.


"Ada apa?" tanya Alfan tanpa basa-basi.


Devan menarik pergelangan tangan Alfan dan membawanya di bawah pohon melinjo yang ada di pojokan.


"Bantuin aku!" pinta Devan.


"Bantuin apa? Kalau menggendong Raisya aku siap."

__ADS_1


Seketika sebuah tamparan kecil mendarat di pipi Alfan.


“Mandiin juga mau?" pancing Devan.


Alfan menjentikkan jarinya, otak mesumnya langsung melayang ke awan.


"Mau, pakai banget."


"Kapan kita seriusnya, sih?" keluh Devan, dalam keadaan apapun, sahabatnya itu terus bercanda.


"Ya sudah, sekarang kita serius. Kamu minta bantuan apa?" tanya Alfan.


"Sekarang Alisa sakit, dan menurutku dia belum bisa melupakan aku, tolong kamu dekati dia, kalau bisa pacarin dia."


Alfan mengerutkan dahinya, "Kamu mau menjadikan aku tumbal?"


"Tepatnya begitu," selomot Devan. 


"Anjiiir….. banget punya teman kayak kamu."


Devan menahan tawa melihat kekesalan Alfan. Selama berteman, Alfan yang selalu membantunya, dan sekalipun pria itu tak pernah meminta bantuannya.


"Kamu kan lebih muda, harus nurut yang tua," imbuh Devan melirik ke arah Alfan yang menatap Alisa.


"Boleh juga, kalau sampai sekarang dia belum bisa melupakan kamu, itu artinya dia tipe yang setia, kamu saja pernah tergila-gila padanya, pasti aku juga. Kita kan se level."


"Oke, semoga berhasil." Devan menepuk pundak Alfan.


Baru saja maju dua langkah, Alfan kembali memutar tubuhnya menatap Devan dari atas sampai bawah.


"Apalagi?" tanya Devan.


"Tapi kamu belum apa-apain dia, kan?" tanya Alfan menyelidik.


"Astagfirullah, ya belumlah, mencium bibirnya saja nggak pernah, apalagi itu. Cukup Raisya yang merasakan milikku," ungkapnya dengan jelas.


"Kalau cium pipi?" tanya Alfan lagi.


"Pernah, tapi kan dia sudah pakai sabun, bedak, skincare, sudah hilang bekasnya," jawab Devan jujur. Wajahnya merah seketika karena Alfan berhasil mengobok-obok perbuatannya. 

__ADS_1


__ADS_2