Pelangi Senja

Pelangi Senja
Negatif


__ADS_3

Pagi itu tak seperti biasanya, usai Sholat Subuh, Devan lebih banyak diam dan duduk di tepi ranjang. Menatap setiap pergerakan Raisya, dari membuka tirai hingga meletakkan baju kotor di keranjang. Merapikan barang-barang yang sedikit berantakan. Ia tahu istrinya adalah wanita sekuat baja yang pasti akan kokoh menghadapinya, akan tetapi dia hanya seorang wanita yang pasti akan rapuh jika menyangkut hati.


Tulisan yang Devan baca terus melintas di otaknya, dan hampir membuatnya tak bisa tidur. Rasa bersalah kian memuncak memenuhi kepalanya hingga tak bisa berpikir jernih.


Raisya pergi ke kamar mandi. Ia teringat dengan sesuatu yang ditinggalkannya. Meskipun hatinya memang belum yakin, setidaknya ia mengikuti perintah mamanya.


Bismillah


Raisya mengambil benda tipis panjang itu dan menatapnya lekat-lekat. Ia menghembuskan napas kasar dan membawa benda itu keluar menghampiri Devan yang masih nampak merenung dengan tatapan yang mengarah ke luar jendela, di mana kegelapan itu masih meliputi.


"Kak," panggil Raisya pelan, namun masih bisa didengar oleh Devan.


Devan menoleh menatap Raisya yang mematung di depannya, tak lupa dengan benda yang ada di tangannya. Ia tak terlalu berharap lagi, baginya Raisya bahagia sudah cukup dan tak ingin terlalu memaksakan kehendak.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Devan datar. Sedikitpun pria itu tak ingin menggoda Raisya seperti biasanya.


"Negatif." Raisya menunjukkan satu tanda merah di depan Devan yang mengulas senyum tipis.


"Nggak papa," jawab Dengan singkat dan padat.


Pandangannya kembali ke arah lain, meninggalkan Raisya yang berjalan menuju tong sampah.


"Kak, sepertinya bajuku banyak yang nggak muat dan masih bagus-bagus, apa nggak sebaiknya kita kirim ke panti juga?" ucap Raisya.


"Boleh, nanti aku bilang ke bunda."


Raisya duduk di pangkuan Devan, meskipun ia mulai menangkap gelagat aneh suaminya, Raisya mencoba mencairkan suasana.


"Kakak kenapa?" tanya Raisya menangkup kedua rahang kokoh Devan. 


Sebagai seorang istri, Raisya merasakan sesuatu aneh terjadi pada suaminya.


"Apa kamu bahagia menikah denganku?" tanya Devan antusias. 


Selama satu bulan pertama Devan menganggap Raisya baik-baik saja, tapi setelah membaca buku semalam, ia baru menyadari jika hati wanita itu pun tak kalah sakitnya seperti dirinya waktu itu. Namun, Raisya pintar sekali menyimpannya hingga membuatnya abai dan buta.


Raisya menatap manik mata Devan dalam-dalam,  meskipun tanpa ucapan, ia tahu jika saat ini Devan menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa kakak bertanya seperti itu?"  Raisya balik tanya. Sebab, tanpa ditanya pun Devan sudah tahu jawaban darinya.


"Aku sudah memisahkan kamu dengan Afif. Bukankah itu tak adil bagi kamu?"


Seketika Raisya beranjak dan berdiri di depan Devan. Matanya berkaca dengan bibir yang bergetar menahan dadanya yang terasa meletup-letup.


"Sudah berapa kali kubilang, jangan bahas orang lain. Setelah kita menikah, aku sudah menghapus tentang siapapun laki-laki yang pernah hadir dalam hidupku. Aku akan membenci kakak jika terus bertanya seperti itu. Kapan kita bangkit dari semua ini? Kapan kita terbebas dari masa lalu dan menata masa depan. Dan kapan kita tidak bisa berjalan jika kakak terus menengok ke belakang? 


Raisya kesal, bisa-bisanya suaminya terus mengingatkan pada mantannya yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya.

__ADS_1


"Aku mau turun."


Baru saja beberapa langkah mendekati pintu, Devan sudah memeluknya dari belakang, pria itu melingkarkan kedua tangannya di perut Raisya dengan erat. 


"Aku hanya merasa tidak adil sama kamu. Selama ini aku sudah jahat dan tidak memikirkan perasaan kamu. Aku mementingkan orang lain disaat kamu berjuang melupakan Afif." 


Raisya tersenyum, kini ia punya kesempatan untuk mengerjai suaminya yang tampak tenggelam dalam penyesalan. Hatinya seketika lunak saat mendengar ungkapan Devan yang sangat serius.


"Apa kakak ingin menebus karena sudah membuatku terluka?" Raisya masih meninggikan suaranya, ia pura-pura marah pada Devan.


Devan menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan, menopangkan dagunya tepat di pundak kecil Raisya.


"Iya, aku akan menebus semua kesalahanku, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya."


Raisya memasang wajah garang dan membalikkan tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Devan.


"Mudah sekali." Raisya mengetuk dagunya, ia masih mikir-mikir sesuatu yang akan membuat Devan kesal.


Devan mengerutkan alisnya, ia mulai mencium bau rencana yang tak baik padanya.


"Jangan yang aneh-aneh."


Baru saja Raisya membuka mulut, ponsel yang ada di nakas berdering.  Raisya berdecak, namun tetap mengambilnya.


"Kakak, dari Syakila. Ada apa pagi-pagi dia menelponku?" ucap Raisya menyerahkan benda pipihnya ke tangan Devan.


Raisya menggeleng cepat,  ia masih takut jika Syakila membahas tentang semalam.


"Halo La, ada apa?" tanya Devan tanpa salam, dan akhirnya Syakila yang salam lebih dulu. 


Raisya menjawab dengan pelan dan nyaris tak didengar.


"Kak Raisya mana, Kak? Aku kangen."


Nyatanya, Syakila memang tak bisa marah pada Raisya, baru ditinggal semalam ia sudah kelimpungan dan bergulat dengan guling untuk meluapkan emosinya.


Tanpa kata Devan menempelkan ponselnya di telinga Raisya,  sedangkan satu tangannya tetap merengkuhnya dari belakang.


"Halo La, ada apa?"


"Kakak, kapan pulang? Aku kangen."


Akhirnya Syakila lega bisa mendengar suara kakak iparnya itu.


"Bilang saja pas kamu nikahan," bisik Devan dengan asal yang seketika mendapat hadiah cubitan.


"Insya Allah, nanti siang," jawab Raisya. 

__ADS_1


"Baiklah, cepetan aku tunggu, ya. Aku merindukanmu, siang ini kita pilih-pilih baju kembar lagi."


Devan memicingkan bibirnya mendengar ucapan adiknya, ia langsug melempar ponselnya ke arah ranjang dan menarik tubuh Raisya kembali ke pangkuannya. 


"Sebentar lagi Syakila dan mas Afif menikah, aku tidak mau kakak membahas masa lalu lagi," pinta Raisya mengangkat jari kelingkingnya. 


"Iya, Sayangku. Tadi aku khilaf." Devan menautkan jarinya di jari Raisya sebagai janjinya tidak akan menanyakan hal yang konyol lagi. 





Tak mau Syakila menunggunya lama-lama, akhirnya Raisya dan Devan memutuskan pulang setelah sarapan pagi. Mereka tiba di rumah Ayah Mahesa pukul delapan, namun di halaman sudah ada mobil asing yang terparkir. 


"Ini mobil siapa?" tanya Devan yang tak mengenali mobil itu.


Raisya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.


"Assalamualaikum…" sapa Devan dan Raisya bersamaan. 


Semua seisi rumah menjawab dengan serentak termasuk tamu yang di ruang tengah.


Syakila berlari kecil dan berhamburan memeluk Raisya yang baru saja tiba di belakang pintu. 


"Kak,  nanti kita beli baju bersama ya," pinta Syakila. 


"Iya, kayaknya kemarin kak Devan habis gajian, boleh dong aku minta uang," goda Raisya. Padahal ia tahu kalau suaminya baru beberapa hari bekerja di kantor ayah, dan pastinya belum mendapat apapun. 


Devan masih menatap Afif yang ada di ruang tamu. Ia mengeratkan genggamannya saat Afif menghampirinya.


"Sayang, kamu tahu sendiri kan, kalau aku ini belum bisa sukses seperti suami yang lain. Bekerja saja dengan bantuan ayah."  Devan menunduk menatap lantai. 


"Jadi aku nggak bisa membelikanmu baju," imbuhnya. 


Niat ingin bercanda malah membuat jantung Raisya berdenyut, hatinya ikut tersayat saat Devan nampak suram.


Raisya bingung dan menitihkan air mata.


"Kak, bukan maksudku untuk __"  Raisya memotong ucapannya saat melihat Devan mengedipkan satu matanya.


Apa apaan sih, ini.


"Kakak, meskipun kita tinggal di kolong jembatan dengan baju seadanya, aku akan tetap bahagia asalkan bisa bersama, Kakak."


Istriku semakin cerdas. Ya Allah, terima kasih atas karunia yang Engkau limpahkan. 

__ADS_1


__ADS_2