Pelangi Senja

Pelangi Senja
Pergi


__ADS_3

"Sayang, aku pulang. Ini es yang kamu minta," teriak Devan sembari menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat.


Beberapa menit yang lalu Raisya meminta Devan membelikan es tape yang ada di sebelah rumah sakit. Sangat aneh di mata Devan, namun ia tetap membelikannya dengan hati yang sedikit cemas.


Rumah sangat sepi, bahkan tak ada satu orang pun yang melintas hingga membuat Devan celingukan.


Nanda muncul dari balik kamar dan menghampiri Devan yang ada di samping ruang makan.


"Maaf Kak, Kak Raisya pergi bersama ayah dan mama, mereka membawa koper besar," ujar Nanda dengan polos. Ia menyampaikan apa yang di perintahkan mama Aya lewat telepon.


Devan terpaku, seluruh organ tubuhnya tak berfungsi, urat nadinya seakan terputus hingga ia tak bisa bergerak. Kresek yang menggantung di tangannya terjatuh dan es yang ia beli tumpah seketika membanjiri lantai.


"Apa maksud kamu? Raisya pergi ke mana?" Tanpa menunggu jawaban, Devan berlari menuju kamarnya, dengan sigap ia membuka pintu dan menyapu seluruh ruangan, setelah itu membuka pintu kamar mandi.


Tidak ada siapapun di kamar itu yang membuat Devan keluar dan menghampiri Nanda yang masih mematung di ruang makan.


"Memangnya mereka pergi ke mana? Kenapa bawa koper?" tanya Devan antusias. Panik, tubuhnya mulai gemetar saat ia mengingat bayangan Raisya yang sangat manja sebelum dirinya pergi.


Nanda menggeleng, is tak tahu apa-apa tentang itu semua.


Rasa marah, gelisah, takut, semua menumpuk memenuhi dada Devan hingga pria itu tidak bisa berpikir jernih. Devan duduk di kursi ruang makan dan berharap itu semua hanya mimpi di siang bolong.


Disaat Devan mulai sesenggukan dengan tumpahan air mata, tiba-tiba saja pintu depan terbuka, bunda datang bersama dengan ayah. Bunda berlari kecil menghampiri Devan yang nampak kacau.


"Nak, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya  Bunda merengkuh tubuh kekar Devan.


Mengelus bahu lebarnya dan sesekali mengecup kepalanya. Menyalurkan kekuatan supaya Devan tidak runtuh.


"Raisya pergi, Bunda. Dia meninggalkan aku," ucap Devan disela-sela isakannya. Demi apapun Devan merasa rapuh dengan kenyataan itu.


"Bunda tahu," jawab Bunda dengan santai.


Devan menatap ayah yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Ayah, aku yakin Ayah juga tahu ke mana  Raisya pergi. Yah, tolong aku, kasih tahu di mana Raisya sekarang," pinta Devan mengiba.


Ayah diam seribu bahasa, ia tahu rencana ini pasti akan membuat Devan terluka, tapi Raisya pun tak kalah terluka jika semua orang tidak menuruti permintaannya. Apalagi kecelakaan itu secara tidak langsung disebabkan kedua anaknya. Pasti ia ikut merasa bersalah.


"Maaf, ayah tidak bisa memberitahumu. Raisya bilang kalau dia sudah menulis surat dan di letakkan di atas nakas."


Devan berlari lagi ke kamarnya lalu mengambil lipatan kertas yang berwarna merah muda itu di bawah botol parfum.


Sebuah foto cantik dengan memakai baju dan hijab berwarna peach menjadi sambutan tulisan itu.


Assalamualaikum, apa kakak ingat kapan aku memakai baju itu?


"Satu hari setelah pernikahan kita, aku masih ingat, di awal itulah kamu harus menerima perlakuan burukku, bahkan baju yang kamu pakai menjadi saksi bisu diriku membuatmu menangis," ucap Devan menjawab tulisan itu dengan suara lirih.


Kak, terima kasih karena kakak sudah menemaniku selama ini. Kakak sudah berkorban mengabaikan semuanya hanya demi aku. Hari ini, aku putuskan untuk pergi, aku tidak mau merepotkan kakak lagi, bukan berarti kita akan berpisah untuk selamanya. Aku hanya ingin sendiri.


Aku akan merindukan Kakak, aku pasti akan menangis saat melewati malam yang sunyi itu tanpa pelukan Kakak, tapi aku ingin belajar mandiri, merawat diriku sendiri tanpa kalian orang-orang tercinta. 


Jangan salahkan siapapun, karena ini murni permintaanku. Jangan mencariku, karena aku akan segera pulang.


Aku mencintaimu


Devan meremas kertas itu hingga berbentuk kepalan, amarahnya semakin memuncak kala ingat di awal pernikahan, dengan teganya ia menyakiti wanita itu. Namun, Raisya tetap bertahan, tapi disaat rasa cinta itu tertanam, justru Raisya dengan seenaknya pergi membawa separuh jiwanya.


Raisya berhasil menghukumnya dengan siksaan yang berat, ia tak menyangka jika senyuman yang ia curahkan semalam di acara syukuran kehamilan Syakila, pelukan demi pelukan yang Raisya berikan saat tidur adalah sebuah tipuan untuk meninggalkannya. 


Devan duduk di tepi ranjang dan menatap ke arah jendela yang terbuka lebar. 


"Aku pernah berbuat salah padamu, tapi tidak seharusnya kamu membalas dengan cara seperti ini, apa kamu tahu, apa penyesalan yang terbesar dalam hidupku, Aku pernah menyia-nyiakan kamu, aku pernah melukai hati kamu," gumam Devan dipenuhi dengan penyesalan.


Devan mengusap wajahnya dengan kasar, ia tak sanggup lagi untuk mengungkap semuanya yang pernah ia lakukan. 


"Kakak." Suara David dari ambang pintu membuyarkan lamunan Devan.

__ADS_1


Pria itu mengusap air matanya dan menoleh. 


"Vid, aku tidak akan memintamu untuk mencari Raisya, tapi aku mohon, jaga dia untukku. Katakan padanya sampai  kapanpun aku akan menunggunya." 


"Baik, Kak." David ikut merasa sedih melihat Devan yang nampak terpuruk. Akan tetapi, permintaan kakaknya juga amanah baginya. David pun terkadang merasa bersalah karena kehadirannya yang merenggut nyawa bundanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini rumah kakeknya ayah. Kamu bisa tinggal di sini, nanti ayah akan panggil dokter untuk merawat kamu." 


Raisya mengangguk, meskipun hatinya teriris karena meninggalkan Devan, Raisya masih tetap tersenyum. 


"Selamat datang, Non," sapa wanita cantik yang memakai baju kebaya berwarna abu-abu.


"Ini Bi Irah, dia yang akan membantumu." Ayah Randu memperkenalkan wanita cantik itu pada Raisya.


"Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih karena bibi mau menemaniku di rumah ini," ucap Raisya menangkup kedua tangannya.


Ayah Randu mendorong kursi Raisya masuk ke dalam. Rumah adat dengan ukiran kayu yang sangat indah itu sangat sepi, hanya ada Bi Irah yang berada di sana dan itu sesuai seperti keinginan Raisya.


" Nanti bibi akan ajak Non keliling kampung ini, pasti non suka."


Raisya mengeluarkan ponsel terbarunya dan memotret beberapa sudut ruangan yang sangat unik dan elegan.


"Sayang, kamu yakin tidak mau berkomunikasi dengan Devan?" tanya Mama Aya memastikan.


Raisya hanya mengulas senyum. 


"Aku harus ikhlas semuanya. Aku tidak akan memaksakan kehendak, aku tahu kalau kak Devan sangat mencintaiku, tapi aku juga tidak boleh mementingkan diriku sendiri, dia butuh kebahagiaan, butuh perempuan yang sempurna, jika semua orang menganggapku egois, mereka belum tahu bagaimana rasa sakit hatiku. Bukankah cinta tak harus saling memiliki."


Mama Aya merengkuh Raisya, menguatkannya untuk tabah menerima ujian yang menimpanya saat ini.


Rekomendasi novel yang sangat bagus untukmu

__ADS_1



__ADS_2