Pelangi Senja

Pelangi Senja
Rasa bersalah


__ADS_3

Devan terus mengusap pucuk kepala Raisya yang bersandar di dadanya. Wanita itu masih meninggalkan isakan yang sesekali membuat tubuhnya bergetar. Rasa bersalahnya kian memuncak saat teringat dirinya yang selalu memikirkan Alisa, sangat manusiawi jika Devan terus melakukan kesalahan. Sebab, bagaimanapun ia hanya manusia yang sejatinya tak pernah luput dari dosa.


"Maafkan aku…" Hanya kata itu yang terus terucap mengiringi mobil yang melewati jalanan yang padat.


Devan menatap ke arah luar, dan sepertinya ia dan Raisya butuh refreshing, kali ini Devan ingin menghindar dari Alisa sebelum sebuah fakta membuktikan jati diri gadis itu.


"Fa, kayaknya aku nggak jadi ikut ke butik."


Daffa hanya mengangguk, ia tahu tempat mana yang paling cocok untuk kakak dan kakak iparnya.


Setelah beberapa saat Daffa memarkirkan mobilnya di lobi hotel milik ayahnya.


"Nanti bilang ke bunda dan ayah kalau aku dan Raisya akan tidur di sini."


"Baik, Kak." Semua menjawab serempak.


Daffa turun membantu Devan membuka pintu mobil. Sedangkan Devan langsung mengangkat tubuh mungil Raisya dan membawanya menuju lift.


Ditemani seorang satpam, Devan sampai di sebuah kamar favoritnya. Kamar mewah yang berada di lantai paling atas, balkon kamar yang langsung menghubungkan dengan kota besar menambah indahnya suasana tempat itu.


Devan membaringkan tubuh Raisya dengan pelan, ia tak mau mengusik istrinya yang beberapa saat memejamkan matanya.


Dengan pelan Devan melepas high heels yang membalut kaki istrinya serta menarik tas yang masih menghiasi tangannya.


Baru saja memutar tubuhnya, tangan Raisya meraih pergelangan tangannya.


"Jangan tinggalkan aku," ucap Raisya dengan suara serak.


Devan berlutut di tepi ranjang, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Risya yang nampak layu.


"Aku tidak akan ke mana-mana, cuma mau mengunci pintunya," ucap Devan mengelus punggung tangan Raisya.


Setelah Devan mengunci pintu, ia ikut berbaring di samping Raisya, tepatnya di  belakang istrinya yang memiringkan tubuhnya.


Dengan jahilnya Devan membenamkan wajahnya di ceruk leher Raisya hingga membuat wanita itu tertawa geli.


"Apa yang kamu pikirkan sampai nangis?" tanya Devan mulai ke pokok permasalahan.

__ADS_1


Raisya memutar tubuhnya hingga keduanya bersitatap.


"Apa kakak masih mencintai Alisa?" tanya Raisya seraya menatap kedua mata Devan bergantian.


"Jadi kamu cemburu?"


Raisya hanya diam, Rona merah mulai tampak di wajah Raisya, istri mana yang tak cemburu jika suaminya memikirkan wanita lain, begitulah gerutunya dalam hati.


"Tidak, hanya ada kamu di hatiku, dan wanita manapun tidak akan bisa menggeser posisi itu,  tadi aku cuma heran, kenapa Alisa bisa sama om Andre dan Tante Aida? Apa hubungan mereka. Padahal keluarga Alisa itu tinggal di Turki,  bukan di sini."


"Kalau bukan kerabat dari bunda, mungkin Alisa kerabat dari Om Andre, bukankah dulu mamanya Alisa juga orang indo?"


Devan mengangguk, "Iya sih, dia kan mantan istri ayah."


"Dan kamu berpacaran dengan anaknya mantan istri ayah."


Suara tawa renyah keduanya memenuhi ruangan hotel yang sangat mewah itu. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Devan membatalkan untuk menginap di hotel, ia memilih pulang ke rumah bunda, entah kenapa kehadiran Alisa tadi pagi membuat hatinya terus menjanggal dan ingin tahu yang sebenarnya.


"La,  bunda dan ayah di mana?" tanya Devan menatap pintu kamar utama yang tertutup rapat.


"Baru saja mereka masuk kamar, tadi katanya ada yang mau dibicarakan ayah."


Devan manggut-manggut mengerti.


"Kamu di sini dulu, biar aku yang  bertemu ayah dan Bunda."


Di dalam kamar yang dipenuhi dengan kegelisahan itu.


"Mas, mau sampai kapan kamu seperti ini. Devan sudah bahagia dengan Raisya, masalah yang dulu jangan diungkit lagi."


"Tapi bund, setiap melihat Devan, ayah terus merasa bersalah, tak hanya dalam kandungan ia menderita karena aku, tapi waktu lahir pun aku tidak mengadzaninya, bahkan sampai menikah pun harus dengan pilihan ayah."


Bunda duduk di samping ayah dan mengelus bahu lebarnya. Sebagai seorang istri, bunda ikut cemas saat ayah terus saja diam menyesali perbuatannya di masa lampau. Seakan itu tak ada habisnya dan selalu menghantui kehidupannya.

__ADS_1


"Tapi sekarang dia sudah bahagia, selama ini kasih sayang ayah sudah cukup membuatnya menjadi laki-laki yang baik. Jangan pikirkan lagi. Sekarang kita hanya bisa melihat Devan berjuang dengan Raisya."


"Bunda benar," sahut suara berat dari arah luar. Bunda dan Ayah menoleh bersamaan menatap sosok yang sudah berdiri tegak di ambang pintu.


"Devan," seru ayah terkejut. Dadanya terasa sesak saat ia melihat Devan yang tersenyum getir dan berjalan pelan menghampirinya.


"Kesalahan membuat kita sadar dan bisa menempatkan diri kita di mana seharusnya berada. Ayah pernah menyia-nyiakan aku, dan mungkin itu sangat tidak adil bagi seorang anak. Tapi apa gunanya menyesal, semua tidak akan bisa memutar waktu. Ayah hanya bisa menebusnya dengan kasih sayang untuk aku."


Ayah mendekati Devan  mengikis jarak antara keduanya. "Apa kamu mau memaafkan, Ayah?" ucap ayah dengan bibir bergetar.


Devan menatap bunda sekilas lalu kembali ke arah ayahnya yang ada di depannya.


"Aku tidak punya alasan untuk tidak memaafkan ayah. Aku ingin berterima kasih karena ayah sudah memberikan pelangi di hatiku. Pelangi yang mewarnai hidupku."


Ayah dan Devan berpelukan, doa yang selalu dilantunkan bunda terkabul. Wanita itu merasa mendapat hadiah berlipat ganda dari pengorbanannya selama ini. 


"Berterima kasih lah pada bunda, karena dia kamu ada di dunia ini."


"Bagaimana caranya?" tanya Devan basa-basi.


Ayah mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti.


Seketika Devan mengangkat tubuh bunda dan membawanya keluar.


Sontak seluruh keluarga bertepuk tangan melihat aksi konyol Devan yang lebay. 


"Devan turunkan bunda! Apa kamu akan membuat bunda malu?" teriak bunda seraya menepuk-nepuk dada Devan yang masih dibalut jaket kulit.


Syakila dan yang lain tertawa menghampiri Devan yang sudah tiba di ruang tamu.


"Jangan malu bunda, Ingat! Sembilan bulan lebih, aku berada di perut Bunda. Belum lagi waktu bayi, pasti Bunda kerepotan mengurusku dan adik-adik, lalu setiap pagi bunda menyiapkan sarapan untukku dan mereka." Devan menyungutkan kepala ke arah adik-adiknya yang berjejer di depannya.


"Dan apa yang bisa aku lakukan selain ini?" Bunda masih menutup wajahnya, rasanya ia seperti badut yang sedang memainkan sulapan hingga semua orang fokus padanya.


"Apakah Ayah juga mau digendong seperti bunda?" tawar si kembar.


Ayah menunjuk dadanya dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Iya ayah, kalau ayah mau aku dan Daffi juga bisa."


Ayah hanya menepuk jidatnya, daripada kena sasaran seperti istrinya, ayah memilih duduk di ruang keluarga sambil menonton film kesukaannya.


__ADS_2