Pelangi Senja

Pelangi Senja
Farhan, Farid, Farida


__ADS_3

"Tidak ada orang yang penting bagi Raisya selain kamu," tutur bunda mengelus pundak Devan yang saat ini duduk bersandar dinding. 


Semenjak tiba di rumah sakit, Devan tidak  menemani Raisya di dalam ruangan, ia tak kuat mendengar rintihan wanita itu yang baginya sangat menyakitkan, dan memilih di luar bersama yang lain. 


"Iya, Van. Kamu satu-satunya kekuatan baginya dan anak-anakmu, jadi masuklah!" imbuh ayah Mahesa.


Ayah Randu ikut mendekat dan memeluk Devan yang masih bergetar karena tangis.


"Ayah pernah berada di posisi kamu, setiap manusia hanya bisa menjalani  apa yang ditakdirkan Allah, kami semua akan berdoa untuk Raisya."


Devan mendongak, menatap ayah Randu dengan lekat.


"Raisya akan baik-baik saja."


Ayah Randu mengangguk. Meyakinkan Devan untuk tetap tegar menghadapi semuanya. Devan beranjak, ia mengusap air matanya lalu masuk. 


Masih sama seperti tadi, Raisya merintih di tempat pembaringan, beberapa dokter sudah berada di sana, ditemani suster yang juga menjalankan tugasnya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Devan pada dokter Meta.


Dokter menggeleng tanpa suara. Sebab, dari mereja datang belum ada perkembangan sedikit pun.


Devan mendekati Raisya dan mencium keningnya.


"Dok, apa nggak sebaiknya dilakukan operasi saja," pinta Devan. Namun, matanya tak teralihkan dari wajah Raisya yang dipenuhi dengan keringat.


"Aku nggak mau," jawab Raisya seketika. 


"Tapi sayang __"


"Kakak, aku nggak mau dioperasi, aku mau melahirkan secara normal," rengek Raisya penuh harap.


"Tapi __"


Raisya kembali mencengkram erat tangan Devan saat rasa sakit kembali menyeruak. 


Dokter Meta kembali memeriksanya untuk yang ke sekian kali.


"Dokter, sudah pembukaan sepuluh, kita bisa melakukannya sekarang."


Sebuah keajaiban, dokter Meta yang hampir putus asa akhirnya bersemangat.


Jantung Devan berpacu saat lampu yang ada di bawah kaki Raisya itu menyala terang, ada rasa takut, gelisah semua bercampur sehingga ia tak bisa berbuat apa-apa.


Dokter, nanti dengarkan instruksi dari saya, begitulah dokter Meta berkata.


Ya Allah, selamatkan istri dan anakku, hanya kepada-Mu tempat kami meminta segala sesuatu.


"Stop!" ucap Devan menahan dokter Meta yang saat ini memegang gunting. 


"Untuk apa gunting itu?" tanya Devan menyelidik. 


Disaat genting, ia masih bisa berpikir jernih dengan alat pemotong itu.

__ADS_1


"Untuk merobek selaput dara dokter Raisya, memangnya kenapa?" jawab Dokter Meta jujur. 


Tidak ada titik yang menakutkan bagi Devan selain saat ini, ia tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan istrinya, dan dia juga tak bisa ikut menyangganya.


Hening, Devan ingin mencegah dokter Meta, tapi gelengan kepala Raisya sukses membius bibirnya, ia tak bisa bertindak sendiri, dan mengikuti semua yang dilakukan dokter dan suster.


Suasana kembali tegang saat Raisya mengalami kontraksi.


Suster yang berada di sisi Raisya itu terus membantu Raisya mengatur napas, sedangkan yang berada di samping kepalanya itu pun sesekali menekan perut Raisya bagian atas, dokter dan beberapa suster yang ada di bawah terus memberi instruksi pada Raisya.


Ya Allah, begitu besarnya perjuangan istri yang ingin melahirkan seorang anak, betapa mulianya mereka yang tidak pernah mengeluh saat hamil sembilan bulan, sekarang aku tahu, kenapa ayah tidak iri saat anak-anaknya lebih sayang pada Bunda. Aku pun akan melakukan hal yang sama.


Devan terus mencium kening Raisya, ia menguatkan wanita itu yang mulai nampak kelelahan.


"Ayo bu Dokter, sekali lagi!" pinta dokter Meta dengan tegas.


Raisya kembali mencengkeram tangan Devan dengan kuat, serta mengeratkan giginya, tiga kali mengejan, akhirnya bayi yang pertama lahir diiringi tangisan yang merdu.


Devan tersenyum tipis saat melihat bayi laki-laki yang berlumuran darah itu berada di tangan suster.


"Kak, sakit," keluh Raisya. 


Devan mengangguk. 


"Anak kita sudah lahir, tapi masih ada dua yang di dalam sini." Devan mengelus perut Raisya yang masih membuncit.


Tak seperti tadi yang penuh dengan perjuangan, kali ini Raisya merasa sedikit ringan saat mengejan.


Selang sepuluh menit dari kelahiran putra pertamanya, akhirnya putra kedua lahir.


"Sayang." 


Devan mulai panik dan terus mengelus pipi Raisya.


"Kamu harus terus membuka mata, lihat aku! Oke," pinta Devan, ia terus menatap mata Raisya yang mulai menyipit. 


"Ayo Bu Dokter, kepalanya sudah kelihatan."


"Ayo sayang!"


Untuk yang kesekian kali Raisya mengejan, hampir dua puluh menit, akhirnya bayi ketiganya lahir, setelah itu ari-ari menyusul beberapa detik kemudian.


Akhirnya Devan bernapas lega saat tangisan itu kembali menggema, kecupan bertubi-tubi mendarat di wajah lelah Raisya.


Namun, seketika senyum itu menghilang saat Raisya melepaskan genggamannya, mata yang tadi menyipit itu kini terpejam sempurna bersamaan dengan diamnya tangisan  bayi perempuannya.


"Sayang, dokter ini kenapa istri saya?"


Dokter Meta segera memasang alat pernapasan untuk Raisya.


"Silakan mas keluar dulu!"


"Nggak, aku mau di sini menemani istriku."

__ADS_1


"Mas, kami tahu kalau mas sangat khawatir, Dokter Raisya hanya kelelahan saja, tidak akan terjadi apa-apa, tolong bantu kami untuk berdoa," pinta dokter Meta. 


Devan memilih keluar dengan membawa air mata yang menumpuk di pelupuk. 


Setelah pintu terbuka, Devan langsung berhamburan memeluk Bunda. 


"Selamat, akhirnya bayi kamu lahir."


"Tapi Raisya pingsan bunda, sekarang dia tidak sadarkan diri."


Kabar itu membuat semua orang gelisah mengingat Ayah Randu kala itu setelah bunda Arum melahirkan David.


Arum belum sadar, Mbak. seharusnya ini lebih dari waktu yang ditentukan dokter, aku takut.


Waktu itu Arum punya penyakit, sedangkan Raisya sehat.


Bunda Sabrina menepis perasaan yang negatif. 


"Raisya hanya kecapekan, bunda yakin semua akan baik-baik saja."


Bunda terus menenangkan Devan yang masih sesenggukan mengingat kondisi Raisya saat melahirkan.


Pintu terbuka, tiga orang suster keluar dengan bayi mungil di gendongannya. 


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya mereka lahir dengan selamat."


Bunda dan mama Aya mengambil alih bayi itu, sedangkan yang satunya lagi di gendong ayah Mahesa. 


Setelah mengambil air wudhu, Devan langsung mengadzani putra-putrinya.


Semua diam mendengarkan lantunan Adzan Devan, meskipun dengan suara lirih, terdengar sangat merdu sehingga bayinya terlihat sangat tenang dan damai.


Devan mencium ketiga bayinya bergantian lalu tersenyum.


Demi kalian sekarang bunda pingsan, jadilah anak-anak yang soleh sholehah seperti bunda, doa Devan dalam hati. 


"Wah, cucu kakek, siapa namanya, Van?" tanya Ayah Mahesa. 


"Farhan, Farid, dan Farida, mereka akan menyandang nama dua keluarga kita, Laksana Rahardjo." 


"Nama yang bagus sekali, semoga menjadi anak hebat."


Devan tersenyum lalu menatap pintu yang masih tertutup rapat.


Cepat bangun, Sayang. Aku dan anak-anak membutuhkanmu, jangan patahkan semangatku menjadi seorang ayah, karena tanpamu aku tidak akan punya tujuan hidup lagi.


...****************...


Rekomendasi bacaan yang bagus untukmu


Judul: surga hitam


Author: tie tik

__ADS_1



__ADS_2