
"Ayah, bunda, aku balik dulu."
Devan pamit pada seluruh keluarganya yang masih melantunkan doa di sebuah mushola rumah sakit. Semua orang menjalankan kewajibannya nya di sana termasuk David yang baru saja tiba setelah adzan subuh.
Langit masih sangat gelap. Udara fajar menembus pori-pori hingga hawa dingin terasa menusuk. Devan masuk ke ruang rawat Raisya, ia menghampiri istrinya yang masih betah memejamkan matanya.
Devan menarik kursi dan duduk di samping brankar, ia meletakkan kepalanya di sisi tubuh Raisya, tak henti-hentinya ia mengelus punggung tangan sang istri.
"Sayang, bangunlah! Aku merindukanmu."
Devan mencium pipi Raisya, saat ia hampir beranjak, tiba-tiba saja jari lentik wanita itu bergerak pelan.
Senyum mengembang di bibir Devan, saking bahagianya ia langsung bersujud di sisi brankar. Setelah puas memuji keagungan Allah, ia kembali mendekati Raisya.
"Sayang, Aku Devan suamimu. Bangunlah!" Devan mendekatkan bibirnya di telinga Raisya, ia terus meyakinkan wanita itu untuk membuka matanya.
Tak berselang lama, Raisya membuka mata, pertama kali yang ia lihat adalah Devan, suaminya.
"Kakak," ucap Raisya pelan, bahkan nyaris tak terdengar.
"Iya, ini aku Devan."
Memeluk tubuh Raisya, ciuman mendarat di wajah secara bertubi-tubi membuat wanita itu terkekeh.
"Mana anak kita?" tanya Raisya melepas alat pernapasan dari hidungnya.
"Ada di ruangan bayi, sebentar aku panggil dokter dulu."
Baru saja Devan menekan tombol darurat, bunda dan ayah membuka pintu, sama seperti Devan, bunda dan ayah pun mengulas senyum bahagia melihat menantunya sudah sadar.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun juga, Nak." Bunda memeluk Raisya, setelah itu ayah melakukan hal yang sama.
Hening sejenak, semua menunggu dokter Meta yang sedang memeriksa Raisya.
"Alhamdulillah, semua baik-baik saja, tekanan darah dokter Raisya juga normal. Nanti Dokter harus makan yang bergizi dengan porsi yang lebih, karena anak-anak butuh asi dari dokter.
Raisya hanya mengangguk mengerti, sebagai seorang dokter ia tahu apa yang harus dilakukan demi Putra putrinya bisa tumbuh dengan normal.
Mama Aya, ayah Randu dan Naimah datang, masing-masing dari mereka membawa bayi imut di gendongannya. Disusul David dari belakang.
"Selamat pagi, Bunda," ucap mama Aya menirukan suara anak kecil.
Devan mengubah posisi ranjang hingga Raisya bisa selonjoran dengan nyaman.
__ADS_1
Raisya menatap satu persatu bayinya lalu menatap Devan yang masih setia di sampingnya.
"Kok semua mirip kakak, ini nggak adil," protes Raisya.
Devan merapikan hijab istrinya lalu mencium keningnya, tak ada bosan-bosannya untuk memamerkan kemesraan di depan keluarganya.
"Mirip kita berdua, kamu saja yang nggak teliti melihatnya."
"Namanya siapa saja?" tanya Raisya. Sebab, sebelumnya ia belum tahu nama yang sudah disiapkan Devan beberapa bulan yang lalu.
"Ini Farhan," Menunjuk bayi yang lahir pertama kali, "yang ini Farid," menunjuk bayi yang ada di gendongan mama Aya, "dan yang cewek ini, namanya Farida," ucap Devan menunjuk bayi perempuannya yang ada di gendongan Naimah.
"Bagaimana cara kamu membedakannya, Van?" tanya Bunda saat melihat wajah cucunya yang sangat identik.
"Yang lahir pertama paling besar, Bunda."
"Iya, beratnya dua koma tujuh kilo, dan yang kedua beratnya dua setengah kilo, sedangkan yang cewek, dua koma tiga kilo, tapi Alhamdulillah semua sehat, jadi tidak perlu dirawat intensif."
Raisya tersenyum menatap bayinya yang mulai menjulurkan lidah nya. Ia memangku satu bayinya, sedangkan Devan mengambil dua bayinya.
"Sekarang dokter bisa memberikan asi eksklusif."
Semua orang keluar, kecuali bunda dan Devan serta mama Aya yang membantu menggendong si kecil saat Devan membantu Raisya membuka kancing baju.
Akhirnya aku menjadi seorang ibu, setelah penantian panjang, Allah mendengarkan doaku dan memberikan anugerah yang berlipat ganda. Aku bisa memberikan keturunan untuk keluarga Laksana dan keluarga Rahardjo.
"Kalian curang."
Daffa marah-marah, giliran ia yang baru tiba dari toilet dilarang masuk ke dalam, padahal ia yang sudah berkorban penuh, tapi belum bisa melihat keponakannya.
"Nggak ada yang curang, di dalam Kak Raisya sedang menyusui dede bayi, jadi Kakak tidak boleh masuk," jelas Airin.
Daffa menyunggingkan bibirnya, ia tersenyum jahil saat melihat wajah imut istrinya.
Hari-harinya akan terasa hampa jika tak menggoda istrinya dan membuatnya kesal.
"Aku juga pengen lihat cara dede bayi menyusu, sama nggak kayak aku."
Seketika ayah Randu menoyor jidat menantunya, sedangkan Daffi cekikikan, meskipun ia dan Daffa sebelas dua belas, setidaknya Daffi masih bisa mengontrol tingkat mesumnya saat di depan keluarga.
Ayah Mahesa ikut menjewer telinga Daffa hingga sang empu meringis.
"Aku jujur, bukankah ayah dan bunda yang mengajarkanku untuk jujur?" sergah Daffa seraya mengusap-usap telinganya yang memerah.
__ADS_1
Ayah Mahesa menggelengkan kepala melihat tingkah konyol Daffa, sedangkan ayah Randu hanya bisa menepuk jidatnya.
"Apa kamu menyesal mempunyai menantu yng mesum seperti dia?" tanya Ayah Mahesa pada ayah Randu.
"Tidak, aku bangga, dia sangat normal, Mas."
"Maksud kamu?" tanya ayah Mahesa menyelidik.
"Setiap anak adalah gambaran kita di waktu muda, Mas dulu juga mesum, wajarlah kalau Daffa seperti itu, dia kan gambaran, Mas."
Sontak wajah Ayah Mahesa merah padam mendengar ucapan ayah Randu, ayah Mahesa mengulurkan tangannya ke arah ayah Randu, namun dengan sigap pria itua berlari menghindari amukan sang besan.
"Lihat, mereka akur banget, ya," Daffa merangkul pundaj kecil Airin yang ada di sisinya.
"Iya, aku jadi penasaran bagaimana cara mereka dulu berteman, ayah Mahesa kan orangnya pemarah, sedangkan ayah pendiam plus kaku." Mereka saling berbisik.
Daffa dan Daffi hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kak, aku pingin makan kebab langsung dari Turki," ucap Alara mengalihkan perhatian semua orang.
"Kebab langsung dari Turki?" ulang Daffi antusias.
Alara mengangguk pelan, sebenarnya ia juga takut mengatakannya, tapi semakin ditahan semakin tak betah.
Bunda keluar dengan Farid di gendongannya.
"Ada apa ini?" tanya Bunda menatap semua orang bergantian.
"Kayaknya ada yang ngidam lagi, Bunda," tebak ayah Mahesa.
Bunda mengerutkan alisnya.
"Siapa?" tanya Bunda menatap Airin dan Alara bergantian. Sebab, hanya mereka yang menjadi sasaran berikutnya setelah Naimah yang sudah hamil dua bulan.
Daffi menunjuk istrinya dari belakang.
"Benarkah?" Bunda mendekati Alara yang menunduk kebingungan.
Alara tersenyum, meskipun belum periksa, ia pun sudah merasakan tanda-tanda itu.
"Sepertinya, dua bulan ini aku belum lihat dia datang bulan," jelas Daffi.
Pernikahannya yang berlangsung tiga bulan membuatnya hafal dengan apapun yang bersangkutan dengan Alara, termasuk hal yang sangat pribadi.
__ADS_1
"Kalau begitu cepetan periksa, mumpung di rumah sakit."
Airin menggeser tubuhnya di belakang Daffa, ia bahagia mendengar berita itu, namun juga sedih, karena saat ini ia belum hamil.