
Tak seperti dibawah yang sangat ramai, di lantai tiga hanya ada beberapa ruangan saja, dan setiap pintu ada tulisan jabatan dan nama yang berbeda. Hingga ia menemukan pintu yang bertuliskan nama Direktur utama, David Laksana.
Hampir saja mengetuk, pintu itu dibuka dari dalam hingga tangan Naimah hampir mengenai wajah David.
"Anak ayah sudah datang."
David tersenyum dan mengangkat tubuh mungil Susan.
"Kok kamu langsung tahu kalau ini ruanganku?" tanya David menyelidik.
Tidak mungkin di gedung yang sebesar itu Naimah tahu dengan sendirinya tanpa bantuan orang lain. Mengenal selama tiga bulan membuat David hafal dengan sifat Naimah yang sangat polos dan tak punya pengalaman apapun, termasuk kantor, lift dan sebagainya.
"Semua karyawan di sini baik-baik. Tadi pas aku masuk, mereka langsung memberitahu kalau ruangan kamu ada di lantai tiga. Mereka juga bantuin aku masuk dan keluar dari lift.
"O…" David hanya ber oh ria dan menggiring Naimah masuk ke ruangannya.
Naimah duduk di sofa, tepatnya di samping David yang sibuk menggoda Susan.
"Maaf ya, kalau aku merepotkan kamu, akhir-akhir ini banyak pekerjaan, jadi aku nggak bisa ke rumah Kak Raisya."
"Nggak papa. Mas mau makan sekarang?" tanya Naimah. Ia mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi dan ingin fokus meladeni David.
"Boleh, suapin ya!"
Naimah langsung mengangguk menyiapkan makanan untuk David dan Susan.
Suap demi suap akhirnya makanan yang Naimah bawa itu lenyap tanpa sisa. Ia sengaja membuat makanan kesukaan David, yang kebetulan juga sama dengan Susan.
"Susan betah di sini, apa semua orang yang ada di bawah baik sama Susan?" tanya David setelah meneguk segelas air putih.
Naimah meletakkan sendoknya dan menatap Susan, ia menggeleng kecil, memberi kode pada bocah itu untuk tidak cerita apa yang tadi terjadi di bawah.
"Betah ayah, tapi lebih betah di rumah," jawab Susan. Matanya terus menatap ibunya yang ada di samping David.
"Kok gitu?" tanya Devan penasaran.
Susan menunduk, umurnya yang masih sangat dini hanya bisa mencerna kode gelengan itu jika ia tidak berhak bicara apapun.
"Kan rumah tempat tinggal kita."
David tertawa lepas, padahal jantungnya sudah dag dig dug, khawatir apa yang ditakutkan terjadi.
__ADS_1
Ingin cepat pulang, David kembali bergelut dengan laptopnya.
Ruangan itu sangat ramai, kehadiran Susan dan Naimah sukses memberikan semangat baru bagi David yang sempat lelah karena pekerjaan yang menumpuk. Bahkan David mampu menyelesaikan tugasnya hanya separo waktu dari biasanya, meskipun Susan mengganggunya, tak menyurutkan konsentrasi David yang luar biasa.
"Kalau Susan ngantuk, bisa tidur di kamar Ayah." David menunjuk sebuah ruangan yang ada di belakang lemari buku.
"Tidak usah, Mas, biar aku ajak pulang saja."
Naimah merapikan bekas makan David lalu pergi ke kamar mandi.
"Jangan! Nanti kita pulang bareng saja, aku mau ajak kalian jalan-jalan," teriak David.
Naimah mengelap tangannya hingga kering, dari lubuk hati yang paling dalam, ia enggan pergi ke tempat umum bersama David, karena dari situ pastilah semua orang menilainya kembali dengan sesuatu yang negatif.
"Baju yang Mas belikan kemarin belum terpakai. Mainan Susan juga masih dibungkus, semalam kak Devan membelikan boneka dan sepatu baru. Mama Aya dan ayah mengirim beberapa Aksesoris, lalu kita jalan ke mana?"
David tersenyum melihat Naimah yang masih mematung di ambang pintu kamarnya. Semakin hari wajahnya semakin imut, apalagi baju yang dipakainya itu pas dengan warna kulitnya hingga menambah kecantikan wanita itu.
"Ke mana saja, yang penting kita bersama."
Susan tertawa kecil, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat ibunya sangat jengkel.
"Ayah, aku tidur dulu ya," izin Susan mencium kedua pipi David bergantian.
Susan mengangkat kedua jempolnya lalu masuk ke kamar dan menutup pintunya.
David menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.
"Mas, apa nggak sebaiknya aku dan Susan pulang saja, apa nanti kata karyawan?" Naimah tetap duduk di sisi David dan membantu merapikan beberapa map yang berantakan.
Hampir saja menjawab, pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" sahut David tanpa ingin pindah dari tempatnya.
Seorang wanita cantik yang membawa beberapa dokumen masuk menghampiri David, wajahnya sedikit pucat saat melirik Naimah yang menatapnya.
"Ma…. Maaf, Pak. Ini ada yang perlu bapak tanda tangani," ucap wanita itu sedikit gugup.
David tak menghiraukan wajah wanita itu yang sudah pucat pasi, ia langsung meraih map yang ada di depannya dan membacanya lalu menandatanganinya.
Naimah menunduk menatap sepuluh jarinya yang saling terpaut, ia belum lupa apa yang wanita itu katakan tadi, hingga membuatnya terus merasa gelisah dan semakin sadar diri.
__ADS_1
"Cuma ini saja?" tanya David.
"Iya pak, saya permisi." Wanita itu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu.
Benar apa kata mbak itu, seharusnya bukan aku yang menjadi pendamping mas David. Sudah janda, kampungan pisan.
Naimah menatap wajah David dari samping lalu beranjak.
"Mau ke mana, sini temani aku!" David meraih tangan Naimah.
"Mas, nanti kalau ada yang lihat gimana, aku malu."
"Kalau begitu kita harus secepatnya menikah, biar kamu nggak malu kalau kita berduaan."
Jika biasanya wajah Naimah bersemu saat David menggodanya dengan membahas pernikahan, kali ini wanita itu nampak menekuk wajahnya dan tersenyum kecut.
"Sekarang kamu kerja saja, aku akan temani sampai selesai." Naimah mengalihkan pembicaraan, ia tak mau lagi membahas pernikahan yang belum ditentukan.
Di sisi lain
Setelah melayani pasien yang terakhir, tiba-tiba mata Raisya berkunang-kunang, kakinya lentur serta tubuhnya lemas hingga ia terhuyung dan bersandar di bahu suster Ely.
"Dokter tidak apa-apa?" tanya Ely cemas seraya mengusap keringat yang mulai membasahi kening Raisya.
Raisya menggeleng, meskipun merasa pusing, ia tidak mau membuat semua orang panik.
"Bantu aku ke kamar," ucap Raisya sembari memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.
Perlahan Ely melepas sepatu Raisya dan membantunya berbaring lalu menyelimutinya.
"Apa perlu saya panggilkan dokter Syakila?" tawar Ely.
Raisya menggeleng lagi dan memejamkan matanya. Sekarang tak hanya kepala, tapi juga perutnya ingin muntah.
Aku kenapa ya, apa ini efek dari kecelakaan itu, atau hanya anemia, terka Raisya dalam hati.
Tubuhnya seketika menggigil hingga mendorongnya untuk meringkuk.
"Sus, tolong matikan ac nya," pinta Raisya dengan pelan.
Setelah melakukan apa yang diperintah Raisya, suster Ely langsung menghubungi Devan memakai ponsel Raisya. Ia takut disalahkan jika terjadi sesuatu dengan wanita itu.
__ADS_1
Mendengar kabar istrinya sakit, Devan melempar buku yang ada di tangannya dan berlari keluar meninggalkan Dodi yang penuh tanda tanya.