Pelangi Senja

Pelangi Senja
Rencana bulan madu


__ADS_3

Daffa membuka matanya. Ia menatap wajah teduh Airin yang masih terlelap. Ini adalah hari pertama di mana ia tidur dengan seseorang selain Daffi, rasanya aneh, tapi nyata. Namun, itulah yang terjadi. Daffa dan Daffi mulai merajut cinta bersama pasangan masing-masing, membangun rumah tangga yang bahagia dengan sebuah kepercayaan.


Daffa tersenyum, kejadian semalam masih terpahat di otaknya, dan ia menganggap itu adalah sejarah terindah dalam hidupnya.


Daffa meraih ponselnya yang ada di nakas, satu tangannya tetap menjadi bantal kepala Airin.


Ternyata sudah subuh, hingga terpaksa ia membangunkan Airin.


"Sakit," keluh Airin dengan mata terpejam.


Daffa memiringkan tubuhnya dan mengusap-usap punggung kecil Airin.


"Maaf," ucap Daffa lirih lalu mengecup kening gadis itu.


"Aku nggak mau pulang, malu sama semua orang."


Daffa mengatupkan bibirnya, menahan tawa saat wajah Airin nampak merajuk.


"Nggak papa, nanti kita tinggal di sini dulu."


Seketika Daffa  mengangkat tubuh Airin  dan membawanya ke kamar mandi. 


Daffa menurunkan Airin tepat di bawah shower lalu menarik selimut yang membalut tubuh gadis itu.


"Aaaaaa…. Kakak," teriak Airin sambil menutup kedua buah dadanya dengan kedua telapak tangan.


"Kenapa? Semalam kita sudah saling lihat, jangan malu."


Daffa kembali jahil, ia mendekati Airin dan membantu wanita itu membuka lingerie yang di pakai nya.


Berbeda dengan Daffi yang melakukannya di bawah lampu temaram, Daffa melakukannya dengan lampu terang hingga bisa menikmati tubuh Airin dengan jelas.


Terpaksa Airin diam menerima perlakuan  Daffa untuk yang kedua kali.


Usai subuh, Airin mencoba berjalan dengan normal saat mendapat pesan dari bunda yang menyuruhnya pulang, akhirnya rasa perih itu sedikit demi sedikit terurai hingga membuatnya bisa berjalan seperti biasa.


Mentari menyorot di balik tirai, Daffa dan Airin pun bersiap keluar. Keduanya tampil dengan baju yang senada. Bertepatan dengan pintu yang terbuka, Daffi dan Alara pun keluar hingga mereka saling menyapa di depan.


Daffa berlari memeluk saudaranya dan menepuk punggungnya.


"Selamat menempuh hidup baru," ucap Daffa dengan mata berkaca.


Kebersamaannya selama dua puluh empat  tahun mampu membuat mereka saling terikat dengan erat, saling membantu dan saling berbagi. Berputarnya waktu akhirnya membuat mereka harus berpisah dengan tanggung jawab pada keluarga barunya.

__ADS_1


"Kamu juga, semoga kita berdua diberi kebahagiaan sampai tua. Seperti ayah dan bunda."


Setelah sekian lama, ini pertama kali Daffa serius dan benar-benar melepas saudaranya yang sedikit pemalu itu.


"Sekarang kita ke mana?" tanya Daffi.


"Kita pulang, bunda sudah nungguin." Daffa menjawab pertanyaan Daffi.


"Selamat datang pengantin baru."


Devan menyambut kedua adiknya yang baru saja masuk, tidak ada yang berbeda, mereka tetap sama, Daffa dan Daffi dengan wajah yang khas dan perilaku yang absurd. Namun, mereka nampak berseri-seri saat menghampiri bunda.


Setelah berpelukan dengan kakak tercinta, si kembar menghampiri ayah dan bunda yang ada di ruang tengah. Diikuti Airin dan Alara dari belakang.


"Sekarang sudah ada Airin dan Alara pasti kalian melupakan bunda," celetuk Bunda Sabrina yang membalas pelukan Daffa.


"Kata siapa, Bunda?"


Daffa tak segan-segan mencium pipi bunda di depan istrinya, begitu juga dengan Daffi, ia melakukan hal yang sama.


"Sampai kapanpun aku dan Daffi tidak akan melupakan bunda, kami sudah menikah bukan berarti menggeser tempat bunda di hati kami, surga kami tetap ada di bawah telapak kaki bunda, bukan begitu, Sayang?"


Alara dan Airin mengangguk.


Daffa mundur, memberi ruang Airin dan Alara untuk memeluk bundanya.


Lagi-lagi Alara dan Airin mengangguk tanpa suara.


Sama seperti bunda, ayah pun memberi wejangan yang baik, meskipun dirinya pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal, ayah berharap putranya tidak mengulangi hal yang sama seperti dirinya di masa lalu.


"Ayah minta kalian berdua untuk serius kerja, sekarang tidak ada alasan malas dan tidak bisa, ada Alara dan Airin yang wajib kalian nafkahi."


Daffa dan Daffi mengangguk mengerti.


Tak berselang lama, Syakila datang bersama Raisya serta Afif, mereka baru saja belanja beberapa baju untuk Si kembar dan adik ipar tercinta.


"Fairuz…"


Daffi menghampiri Syakila dan Afif, lalu mengambil alih bayi mungil itu.


"Ikut om ganteng, ya."


Jiwa absurd Daffi mulai kumat saat di tengah keluarganya.

__ADS_1


"Wah, kayaknya ada yang baru dapat bonus nih semalam," goda Syakila saat melihat wajah kedua adiknya itu sedikit berbeda, aura bahagia terpancar dengan jelas saat Daffa dan Daffi terus mengulas senyum.


"Kakak apaan sih, nanti Alara dan Airin malu," tukas Daffa dan daffi pura-pura. Sebab, ia sangat suka jika istri kecilnya itu menampakkan wajah yang merona.


"Kakak juga pernah menjadi pengantin baru, dan kakak rasa semua sama, iya nggak?" imbuh Devan yang menaik turunkan alisnya ke arah Raisya yang duduk di samping bunda.


"Beda lah, kita satu bulan lebih pisah ranjang, kalau Daffa dan Daffi  semalam sudah jadi, iya kan, Fa?" sindir Raisya yang seketika membuat Devan gemas lalu mencium pipinya bergantian.


Jika kemarin semua keluarga berkumpul dalam acara resepsi di hotel, hari ini semua keluarga berkumpul di rumah bunda dan ayah.


Ayah Randu datang bersama mama Aya dan juga Nanda, begitu juga dengan dokter Agung yang datang bersama keluarga, ayah Emir pun datang bersama Asena. Tante Aida juga datang dengan om Andre. Selain bersilaturahmi, ayah Mahesa juga memberitahu keluarga Alara, jika Daffi akan tetap tinggal di Indo untuk mengurus salah satu perusahaannya.


"Lalu, kapan Daffi ke Turki?" tanya Ayah Emir di sela-sela makannya.


Daffi menatap Alara yang sibuk makan cumi-cumi asam manis.


"Belum tahu, Yah. Nanti aku bicarakan lagi dengan Alara,"  jawab Daffi yang masih menatap istrinya.


"Kalau kamu, ingin bulan madu kemana?" tanya ayah Randu pada sang menantu.


"Aku nggak terlalu minat untuk bulan madu, Yah. Tapi terserah Airin, maunya ke mana."


Airin hanya mengangkat kedua bahunya, karena ia tak punya pilihan. Ia juga bingung mau memilih tempat, pasalnya ia masih banyak tugas di kampus yang terbengkalai.


"Maldives," jawab Afif yang memegang empat tiket.


"Kakak yang bayar?" tanya Daffa antusias 


"Ini hadiah buat kalian, silahkan bulan madu ke Maldives." Afif menyodorkan tiket itu tepat di depan Daffa dan Daffi yang duduk bersejajar.


"Ya sudah, kalau begitu kalian bulan madu saja ke Maldives, nanti setelah pulang baru ke Turki," ucap ayah Emir setuju.


"Kak, gimana dengan tugasku?" Airin menggoyang-goyangkan tangan Daffa.


"Tenang sayang, nanti aku bantu."


Cup 


Sebuah kecupan kembali mendarat di pipi Airin.


"Kakak juga punya hadiah untuk kalian," ujar Naimah dan Raisya bersamaan.


"Apa?" tanya Daffa antusias.

__ADS_1


"Doa, kakak hanya bisa berdoa, semoga kalian diberi kelancaran saat bulan madu."


"Hadiah kak Raisya dan kak Naimah yang paling istimewa di antara semuanya."


__ADS_2