Pelangi Senja

Pelangi Senja
Pov bunda Sabrina


__ADS_3

Aku mengumpulkan semua putra putriku. Dari mereka hanya aku dan Mas Mahesa  yang duduk di kursi paling depan.


Sebenarnya dia juga tidak mau menemaniku, tapi karena aku memaksanya, akhirnya dia mau, katanya  insecure pada diriku yang jauh lebih sempurna, menurutku itu sangat berlebihan. Pasalnya aku yang menemani hidupnya selama puluhan tahun pun melihat banyak kelebihan dari dia.


Di deretan paling pinggir ada Devan dan Raisya, lalu Syakila bersama suaminya dan Fairuz di pangkuannya, lalu si kembar, mereka belum berdampingan dengan Airin maupun Alara karena belum sah, sedangkan Asyifa memilih duduk di antara  si kembar.


Aku seperti ibu negara di rumah suamiku, anak-anak menatapku dengan lekat menanti bibirku berbicara.


"Ada apa bunda mengumpulkan kami di sini?" 


Pertanyaan itu muncul dari Devan yang mungkin sangat penasaran. Tak biasanya aku seperti ini, dan lebih suka memendam segala sesuatu sendiri.


Aku menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk. Semua mimpiku menjadi kenyataan, membangun keluarga yang indah dan penuh kehangatan, meski awal hidupku bersama mas Mahesa sangat menyakitkan, aku berusaha sabar dan akhirnya mencapai puncak kebahagiaan yang tiada tara.


"Bunda hanya ingin mengatakan sesuatu," ucapku dengan jelas. 


Mereka saling tatap dengan pikiran masing-masing yang aku tak tahu. 


"Tentang apa?" imbuh Syakila yang sepertinya sedikit ragu-ragu menanyakannya. 


"Bukan tentang apa-apa, bunda hanya ingin berpesan pada kalian, terutama Daffa dan Daffi serta Asyifa yang belum menikah. Sebentar lagi kalian akan menjadi suami seperti kak Devan dan kak Afif, Alara dan Airin adalah pilihan kalian sendiri, jadi jangan sampai kalian menyakiti mereka. Dalam pernikahan bukan hanya harta dan cinta, tapi saling mengisi kekosongan. Harus ada disaat pasangan membutuhkan. Menyiapkan bahu untuk bersandar, dan menyiapkan hati untuk bisa menerima kekurangan dari pasangan. 


Mas Mahesa mengelus bahuku yang mulai bergetar, aku tidak kuat menahan tangis dan akhirnya air mata yang aku simpan itu tumpah, terharu saat melihat anak-anakku ternyata sudah dewasa.


"Selama ini kalian yang selalu meminta maaf pada bunda dan ayah, tapi hari ini bunda yang minta maaf pada kalian."


Kini tak hanya aku, Syakila Dan Raisya serta Asyifa pun mulai menitihkan air mata, sedangkan Devan dan Afif serta Si kembar menundukkan kepalanya.


"Mungkin Bunda banyak salah pada kalian, baik itu disengaja maupun tidak, sering marah-marah, dan juga sering memaksakan kehendak kalian semua, tapi dari hati yang paling dalam, bunda sangat menyayangi kalian. Tanggung jawab Bunda dan ayah sudah cukup sampai di sini, tapi bukan berarti bunda akan melepaskan kalian begitu saja, bunda akan tetap memantau kalian, jika bunda mendengar ada kesalahan, jangan panggil bunda dengan sebutan itu, tidak hanya sekali bunda menasehati kalian, tapi sudah berulang kali bunda melakukan ini, dan bunda harap kalian mengerti."

__ADS_1


Semua mengangguk, si kembar yang terbiasa pecicilan itu pun anteng meresapi kata-kataku. Devan menghampiriku dan duduk di depanku, sebagai anak pertama ia yang lebih mengerti akan diriku, ia yang lebih tahu kesedihanku dan beban yang menyelimutiku.


"Tidak ada kata maaf dari bunda untuk anak-anaknya, bagaimanapun juga bunda adalah surga bagiku dan si  kembar. Jadi jangan merasa bersalah, justru kami yang tidak bisa membalas jasa bunda, kami yang selalu merepotkan bunda, kami yang sering membuat bunda menangis dan kami __"


Devan ikut sesenggukan, dia mencium tanganku dengan lembut. Kehadirannya yang membuat aku dan mas Mahesa bersatu. Kehadirannya yang tak kuharapkan membawaku kepada sebuah kehidupan yang penuh liku-liku.


Syakila memberikan Fairuz pada Afif, dengan jalan pelan, ia duduk di tengah lalu merangkul ku dan mas Mahesa. 


"Bunda dan ayah adalah kebanaggaanku, kalian adalah cahaya yang terang bagi kami, setiap orang tua punya cara sendiri-sendiri dalam mendidik anaknya, bunda wanita yang terbaik bagi kakakku, aku dan adik adik."


Syakila berucap, dia pun sudah mempunyai pola pikir yang dewasa, sebagai seorang ibu mungkin ia juga mulai merasakan apa yang aku rasakan dulu.


Si kembar ikut berhamburan duduk di samping  Devan.


Mereka mencium kedua pipiku secara bersamaan, lalu beralih memeluk mas Mahesa. Aku malu, di depan Afif mereka semua memperlakukanku bak anak kecil. 


"Seandainya masih ada Sabrina Salsabila yang lahir, akupun ingin mempersuntingnya, sayangnya hanya ada satu, yaitu bunda, dan ayah adalah orang yang paling beruntung bisa mendapatkan hati bunda," ucap Daffa menjawil dagu ku, dia yang paling konyol, namun dia juga yang sering mencairkan suasana hatiku saat gelisah.


Mas Mahesa diam, dari raut wajahnya, ia pun memendam sesuatu, namun aku tak tahu dia adalah orang yang sulit di tebak dan penuh teka-teki.


"Aku tidak akan mengatakan apa-apa selain terima kasih untuk bunda dan ayah. Kalian hebat dan luar biasa," ucap Daffi yang lebih serius.


Aku tersenyum dan merentangkan tangan, menyambut Asyifa yang menghampiriku. 


"Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku sayang bunda." Asyifa duduk di pangkuan ku, umurnya yang baru saja menginjak tujuh belas tahun membuatnya sangat manja, namun juga bisa mandiri pada tempatnya. 


"Bunda sayang kalian, kalau kak Daffi dan kak Daffa sudah menikah, tinggal kamu yang akan menemani bunda dan ayah."


Raisya masih menunduk dan sibuk mengusap air matanya. Mungkin dia sama sepertiku, sangat menyayangkan saat menikah tidak dipeluk bunda tercinta, dan itupun terjadi pada diriku. 

__ADS_1


Aku beranjak dan menghampirinya lalu memeluknya. Memberikan kekuatan untuknya yang rapuh karena kehilangan seorang ibu dari kecil.


"Kamu putri bunda juga, dari kecil kamu pun tak lepas dari pelukan bunda, jangan pernah menganggap bunda ini mertua, meskipun kamu terlahir dari bunda Arum, bunda tetap menganggapmu sebagai putri bunda sendiri."


Raisya semakin terisak di pelukan ku. 


Aku terus mengelus tangannya, sedangkan Devan pun ikut duduk di sisinya lagi. 


Aku menatap Afif dengan lekat. 


"Fif, jaga Syakila dengan baik, meskipun dia cerewet dan suka marah-marah, dia kesayangan bunda dan ayah," pesanku tanpa ragu.


Afif mengangkat jempolnya dan tersenyum. 


"Semoga kalian diberi kebahagian seperti bunda dan ayah."


Aamiin 


Semua menjawab serempak 


Akhirnya aku lega, bisa mengeluarkan uneg-uneg yang aku pendam selama ini.


Ayah tersenyum lalu bertepuk tangan. Sebuah lagu ulang tahun terdengar sangat nyaring dari arah belakang.


"Siapa yang ulang tahun?" tanyaku.


Mas Mahesa memelukku dan mengecup kening ku.


"Selamat ulang tahun istriku tercinta, semoga panjang umur dan sehat selalu.

__ADS_1


Saking sibuknya, aku pun lupa hari ulang tahunku sendiri.


__ADS_2