
Keluarga ayah Mahesa tak pernah luput dari ramai, seperti saat ini. Syakila sudah dipindahkan ke ruang rawat. Suasana tempat itu bergemuruh hebat, saling berbincang dan saling bercanda, hanya tiga keluarga mampu menciptakan tawa. Hadirnya bayi Fairuz memberikan kehangatan baru. Menguatkan ikatan keluarga Afif dan keluarga Syakila. Mampu membawa warna baru dalam kehidupan rumah tangga pasangan yang menikah sebelas bulan lalu.
Syakila berbaring di atas ranjang. Ia dikelilingi keluarga Suaminya dan keluarga ayah Randu, sedangkan bunda sibuk dengan cucunya yang mulai rewel.
Devan dan Raisya baru datang, setelah mengucapkan salam, mereka berjabat tangan pada seluruh tamu yang hadir lebih dulu.
"Kenapa kamu ketinggalan?" tanya tante Ilma.
"Tadi ada drama sedikit di rumah."
Meskipun usia kandungannya sudah lima bulan, Raisya masih sering mual dan muntah, juga sedikit malas.
"Hati-hati, Nak." Mama Aya menuntun Raisya menuju sofa yang masih kosong.
"Tante nggak bisa bayangin kalau anak kalian sudah lahir, pasti kayak pasar tradisional." Tante Ilma ikut duduk di samping bunda Sabrina, memberi ruang pada Devan untuk memeluk sang adik.
"Anak kamu ada ceweknya? Atau barangkali cewek semua," tanya Alia, kakak dari Afif.
"Dua cowok satu cewek, Kak."
"Lengkap dong, kalau begitu nggak usah capek bikin lagi," celetuk Sisi.
Raisya melirik ke arah Devan yang tersenyum jahil.
"Kurang, Kak. Belum ada bonusnya," cicit Devan pelan, namun masih bisa didengar semua orang.
"Jangan tamak, ini saja dulu dipikir." Bunda mengelus calon cucunya yang masih anteng di dalam rahim Raisya.
"Bercanda, Bunda," jelas Devan.
Seluruh anggota keluarga memenuhi ruangan itu. Ditambah David dan Naimah serta Susan yang baru datang.
"Bu, itu adiknya Tante Syakila sudah lahir. Sebentar lagi adiknya tante Raisya juga lahir, terus kapan adikku?"
Susan merengek, bocah yang hampir berumur enam tahun itu menarik ujung hijab ibunya.
Semua orang menatap Naimah dan David bergantian. Mereka menikah sudah tiga bulan, namun belum ada tanda-tanda Naimah hamil.
"Adiknya Susan sedang diproses. Jadi harus sabar, karena orang sabar itu disayang Allah."
Susan mencerna ucapan David yang sudah didengar beberapa kali itu.
"Susan duduk sini." Bunda Sabrina menepuk sisi kirinya yang masih kosong.
Bocah itu berjalan dan duduk di samping bunda Sabrina lalu menatap bayi mungil yang sedang memainkan tangannya ke sana ke mari.
Ngambeknya Susan sudah mulai mereda saat Bunda bercerita. David dan Naimah beralih mendekati Syakila yang ada di atas pembaringan.
__ADS_1
"Bener kata Susan, dia pasti kesepian, apa belum ada tanda-tanda kamu hamil?" tanya Mama Aya pada Naimah.
"Belum, Ma," jawab Naimah singkat.
"Nggak papa, itu artinya Allah belum mempercayai aku menjadi ayah," timpal David meyakinkan, ia tak mau Naimah merasa tertekan dengan keadaannya.
"Apa kalian sudah periksa ke dokter?"
"Nggak usah, Kak. Kami menikah baru tiga bulan, nanti kalau lima bulan dan Naimah belum hamil juga, kami akan periksa."
Naimah merasa tidak enak, ia memilih diam dan mendengarkan semua orang yang saling bicara dengan lawan masing-masing.
Naimah menatap ke depan, saat dia melihat poster gambar KB yang ada di dinding, matanya langsung terbelalak dan istighfar dalam hati.
Aku kan pasang IUD setelah Naimah lahir, dan aku belum melepasnya, karena waktu itu terlalu sibuk dengan mas Ramlan yang sakit.
Seketika wajah Naimah meredup, ia menatap David yang tersenyum itu dari samping.
Kalau mas David tahu, dia marah nggak ya? Kenapa aku bisa lupa. Aku harus secepatnya bicara dengan mas David.
"Mas, aku mau bicara sebentar," ucap Naimah berbisik.
"Bicara apa?" tanya David juga berbisik.
"Tidak di sini, aku ingin berdua saja."
David menggandeng tangan Naimah, keduanya berjalan menuju lorong rumah sakit yang lumayan sepi.
"Ada apa?" tanya David dengan ramah. Menatap wajah Naimah yang nampak menyimpan sesuatu.
Naimah memutar bola matanya, ia masih ragu untuk bicara, takut jika David marah.
"Mas, aku pasang IUD." l
"Apa?" pekik David antusias, wajahnya sedikit berapi-api mendengar kata itu, pria yang sekalipun tidak pernah marah itu nampak menyeramkan dengan kedua bola mata melotot.
"Dengarkan aku dulu, Mas. Aku pasangnya setelah melahirkan Susan. Waktu itu aku dan Mas Ramlan orang miskin, dan tidak berani memiliki anak lagi, jadi aku putuskan pasang IUD."
Naimah menunduk, ia tak berani menatap wajah David.
Darah yang tadinya mendidih itu kembali menghangat, David merengkuh tubuh Naimah yang hampir membuatnya marah.
"Aku kira setelah kita menikah, dan kamu tidak mau mengandung anakku."
Naimah mendongak menatap wajah David tanpa melepaskan pelukannya.
"Maaf, jangankan mengingat IUD, yang aku ingat waktu itu hanya, bagaimana caranya aku makan. Setelah mas Ramlan meninggal, aku pun sibuk berpikir membesarkan Susan tanpa suami, dan aku nggak mengingat apa-apa."
__ADS_1
David tersenyum, "Mumpung di rumah sakit, kamu mau kan melepasnya sekarang?"
Naimah mengangguk.
"Tapi yang aku dengar, kalau mau melepas IUD nunggu haid dulu."
"Begitu ya, nggak papa, kalau kamu nggak datang bulan yang untung kan aku." David menoel hidung Naimah hingga membuat sang empu tersipu.
Baru beberapa langkah, David melihat dokter Meta yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Dokter Meta," seru David.
Dokter Meta tersenyum menatap David dan Naimah yang berjalan menghampirinya.
"Ada apa mas David? Apa sudah ada tanda-tanda."
"Begini, Istri saya ternyata pasang IUD, apa saya boleh bertanya? Tapi kalau dokter sibuk, nanti saja."
"Nggak papa silahkan masuk!" Dokter Meta kembali membuka pintu ruangannya.
David dan Naimah duduk di kursi tamu, sedangkan Dokter Meta duduk di tempatnya.
"Rencananya saya mau melepas IUD yang dipasang lima tahun lalu, kira-kira setelah itu apa yang harus saya lakukan biar cepat hamil, Dok?" tanya Naimah, tak seperti dulu yang selalu canggung, semenjak menikah dengan David, ia sudah mulai terbiasa berinteraksi dengan orang disekitarnya.
"Gencar bikinnya, jangan kasih kendor." Dokter Meta mengedipkan satu matanya ke arah David, disaat Naimah serius, Dokter Meta malah bercanda.
"Saya serius, Dok."
"Dokter Meta juga serius, Dek. Kalau kita sering bikin, pasti bakalan jadi."
Wajah Naimah semakin tersipu mendengar ucapan Absurd David. Ia tak menyangka kini suaminya berani bercanda tentang itu di depan orang lain.
"Saya serius, Mbak. Nanti setelah di lepas kalian harus giat membuat adik untuk Susan." Wajah yang bersemu itu semakin memerah karena godaan dokter Meta dan David.
"Apa kalau lepas IUD itu harus nungguin haid dulu?"
"Benar, Mas. Kalau nggak mau nungguin haid, Mas David harus puasa selama tujuh hari dulu, baru bisa dilepas. Terkadang ada efek pendarahan juga, kalau saya menyarankan lebih baik nungguin haid dulu."
David menjentikkan jarinya sembari manggut-manggut.
"Daripada puasa saya juga memilih itu."
Naimah hanya melirik ke arah suaminya tanpa ingin bicara, karena membantah seperti apapun ia tetap kalah dari David.
...****************...
Rekomendasi bacaan untukmu
__ADS_1