Pelangi Senja

Pelangi Senja
Jodoh untuk si kembar


__ADS_3

Devan turun dari mobil, ia membukakan pintu untuk Raisya. Rasanya seperti mimpi, akhirnya Raisya bisa kembali di tengah-tengah keluarganya. Tiga bulan tidak pernah berkomunikasi dengan bunda Sabrina dan Ayah Mahesa membuat Raisya merasa bersalah.


Mata Raisya menyusuri bangunan mewah yang ada di depannya. Tidak ada yang berubah, hanya ada beberapa pot baru yang berjejer rapi menghiasi samping halaman.


"Syakila ngidam bunga ya, Kak?" tanya Raisya. 


"Nggak tahu, aku jarang pulang, terakhir dia memintaku mengelus perutnya," ucap Devan seperti yang dilakukannya sebelum terjebak meeting di hotel.


"Kok jarang pulang?" tanya Raisya,  mereka mulai melangkah menuju teras.


"Aku tinggal di kantor, sama saja."


"Kok sama?" tanya Raisya lagi semakin penasaran.


"Iya, sama-sama memeluk guling, kalau sekarang harus pulang, pelukannya berbeda."


Raisya tersenyum simpul, malu karena Devan masih saja menggodanya.


Devan menggandeng tangan Raisya. Sedikit pun ia tak mau melepaskan tangan wanita itu, rasa takut kehilangan semakin besar mengingat tiga bulan yang lalu saat Raisya menyuruhnya membeli es tape.


"Assalamualaikum…" sapa Raisya dan Devan bersamaan.


Semua yang ada di rumah menjawab serempak, mereka berhamburan menghampiri Raisya dan Devan yang menghentikan langkahnya di belakang pintu.


Saudara Devan saling memeluk Raisya bergantian untuk melepas kangen, bahkan tiga bulan adalah waktu yang sangat lama bagi Syakila, hingga terkadang wanita itu menangis di kamar karena memendam rindu.


"Apa kakak tidak merindukanku?" tanya Syakila di tengah isakannya.


Raisya ikut meneteskan air mata, kejadian yang lalu memberikan banyak pelajaran bagi mereka hingga saat ini saling memikirkan lebih dalam sebelum bertindak.


"Aku sangat merindukanmu, maaf karena aku tidak bisa menghubungi kalian semua." Menatap seluruh keluarga bergantian, termasuk Afif yang berdiri di belakang Syakila.


Bunda terharu melihat putra-putrinya itu kembali rukun.


"Ternyata dibalik musibah yang menimpa Raisya ada hikmahnya. Syakila dan Devan sekarang lebih sabar ya, Yah?"


Ayah merangkul pundak bunda, meskipun sudah tua, ia pun tak mau kalah mesra dari Devan dan Syakila.


"Sekarang ayah lega, Devan dan Syakila sudah mendapatkan kebahagiaan bersama orang yang dicintainya, sekarang gantian mengurus di kembar supaya lebih baik lagi dan tidak suka menggoda setiap gadis."


Bunda menepuk lengan ayah Mahesa,  meskipun sikap mereka paling melenceng dari karakter ayah dan bunda. Tetap, Daffa dan Daffi juga sumber kebahagiaan mereka.


"Benar kan kata ayah, kayaknya mereka itu kebelet kawin,  kalau kita tidak waspada, takutnya mereka melewati batas."

__ADS_1


Panjang umur, baru saja diomongin, si kembar muncul dari balik pintu utama.


Setelah puas dengan saudara-saudaranya, Raisya menghampiri bunda dan ayah.


"Bunda, aku minta maaf karena tak mengizinkan bunda datang," ucap Raisya sembari mencium punggung tangan mertuanya.


"Tidak apa-apa, yang penting kamu kembali pada kami, karena bunda nggak tau apa yang akan terjadi pada Devan jika kamu pergi selamanya."


Pria itu menunduk malu, bisa-bisanya ayah membongkar rahasianya saat kehilangan Raisya di depan semua orang.


Bunda tak bisa melupakan bagaimana kacaunya Devan saat Raisya pergi, bahkan Devan sempat putus asa dan mengurung diri hingga akhirnya dorongan dari seluruh keluarga membuatnya bangkit.


Semua berkumpul membuat suasana semakin ramai.


Mama Aya dan ayah Randu pun datang,  selain ingin bertemu Raisya, mereka juga sudah lama tak berkunjung di rumah sang besan.


"Ayah mertua dan calon istri datang," goda Daffa  menaik turunkan alisnya.


Airin mundur dan bersembunyi di belakang David, ia masih malu-malu saat Daffa terus mendekatinya.


"Tu lihat, Airin takut sama kamu," cetus Devan yang menggeser duduknya, memberi tempat untuk Raisya.


"Bukan takut, Kak. Tapi dia masih malu." Daffa ikut mundur dan berdiri di samping Airin, meskipun ia masih suka menggoda gadis-gadis luar sana, tapi hati Daffa sudah mantap memilih Airin untuk mendampingi hidupnya.


Daffa hanya memanyunkan bibirnya, tidak mungkin ia membantah orang yang berkedudukan paling tinggi di rumah itu, sedangkan ia pun tak mungkin minta bantuan bunda, sang permaisuri yang selalu patuh dengan ucapan kanda nya.


"Iya Yah,  tapi kalau tunangan boleh, kan? Supaya Airin tidak diambil orang," ucap Daffa melirik ke arah gadis manis itu dengan ekor matanya.


"Boleh,  asalkan tidak kelewat batas, dan mudah-mudahan hubungan ini membuat kamu lebih rajin lagi."


"Kalau aku bagaimana?" Daffi ikut protes, sebagai saudara kembar yang lahir hanya selisih beberapa menit, ia iri dengan keputusan sang ayah.


"Mana calon kamu?" tanya Ayah.


Daffi menggaruk alisnya yang tidak gatal.


"Di Turki," jawab Daffi pelan.


Semua membulatkan matanya mendengar ucapan Daffi.


Disaat semua orang memperhatikan Daffi, ponsel yang ada di saku celananya berdering. Devan yang duduk paling dekat pun merebut ponsel yang baru Daffi ambil dari saku celananya.


"Ternyata kamu ada hubungan dengan Alara?" celetuk Devan saat menatap nama yang berkedip di layar.

__ADS_1


Daffi menatap sang ayah, ia tidak tahu apa ekspresi ayahnya, yang pastinya timbul rasa takut saat semua keluarga mengetahuinya.


"Angkat!" titah ayah.


"Halo Ra, ada apa?" tanya Daffi dengan nada kaku. Ia takut kalau Alara yang ada di balik ponsel itu kena marah oleh ayahnya.


"Halo, Kak. Maaf aku ganggu ya."


Daffi diam, ia menatap ayah sekilas lalu bundanya.


Ayah menarik sebuah kertas yang ada di meja lalu menulis sesuatu,  dan menyodorkannya ke arah Daffi.


"Umur kamu berapa, Ra?" tanya Daffi.


"Memangnya kenapa, Kak?" Alara balik tanya.


"Nggak papa, aku cuma ingin tanya saja." 


"Sembilan belas."


"Kalau begitu, apa keluarga kamu tahu tentang hubungan kita?" tanya Daffi seperti yang ditulis sang ayah.


"Mama dan ayah tahu, Kak. Mama bilang katanya aku tidak boleh menanggapi kakak terlalu serius, takut kisahku sama seperti kak Alisa," ucap Alara dengan suara pelan.


Semua hanya bisa mendengar suara gadis itu dan Daffi.


"Seandainya orang tuaku setuju, apa kamu mau menikah denganku?" tanya Daffi,  masih mengucap tulisan itu.


"Daffi, jangan terlalu memberi harapan, tante tidak mau anak tante kecewa untuk yang kedua kali,  jika hubungan kalian hanya main-main,  tante mohon jangan berlebihan," ucap Camelia.


Semua menatap ayah, karena hanya pria itu yang mempunyai jawaban untuk hubungan Daffi dan Alara.


Setelah beberapa menit, akhirnya ayah Mahesa mengangguk kecil, dan itu sukses membuat semua orang tersenyum.


"Ayah setuju, Tante." ucap Daffi dengan hati yang berdebar-debar. 


Ayah menatap Devan. Meskipun pria yang saat ini memangku istrinya itu tersenyum, ayah melihat jika Devan memendam banyak pertanyaan. 


Ini saatnya ayah jelaskan pada kamu, Van.


Rekomendasi bacaan untuk kalian


__ADS_1


__ADS_2