Pelangi Senja

Pelangi Senja
Diterima dengan baik


__ADS_3

Bukan keinginan Alisa berada di posisi ini. Ia ingin keluarga utuh seperti yang lain. Namun apa daya, ia harus menerima nasib mempunyai dua ibu dan dua ayah.


Alisa menatap rumah mewah ayahnya dari dalam mobil, kedua tangannya saling terpaut tanpa ingin turun. Ia ragu dengan istri ayahnya, yang kemungkinan besar akan menolaknya.


"Ayo, Kak, kita turun!" ajak Mayra menarik tangan Alisa yang masih kaku. Dua kali bertemu membuat Mayra merasa nyaman saat berada di samping Alisa.


"Kamu masuk aja dulu, nanti aku nyusul." Alisa berusaha meredam rasa takut yang semakin menjadi. Cerita tentang ibu tiri yang jahat kerap ia dengar, bukan dari dongeng, akan tetapi di kehidupan nyata saat ia masih tinggal di Izmir.


Setelah Mayra menjauh, Ayah Andre membuka pintu mobil sebelah kiri di mana Alisa duduk.


"Kamu tidak usah takut, ada ayah yang akan selalu melindungimu."


Alisa merasa lega, ternyata ayah kandungnya sangat baik padanya. Itu artinya ia tak sendirian.


Tujuanku kesini mencari ayah, dan sekarang aku sudah menemukannya, aku tidak peduli, seandainya mama tidak menerimaku, aku akan tetap tinggal di apartemen.


Alisa turun dari mobil, membuang jauh-jauh rasa takut yang membelenggu.


Andre menggiring Alisa menuju pintu utama. Baru saja menginjakkan kakinya di teras depan, pintu terbuka dari dalam.


Aida menyambut kedatangan suaminya dengan penuh senyuman. Namun, seketika guratan senyum itu lenyap saat melihat Alisa yang ada di samping Andre.


Apa gadis ini yang dimaksud Mayra? Kenapa dia memanggil mas Andre ayah? Memangnya dia anak siapa? 


Sedangkan Alisa hanya bisa membelalakkan matanya saat melihat wanita yang ada di depan ayahnya.


Bukankah dia bundanya Devan, tapi kenapa jadi istri ayah? batin Alisa bertanya-tanya. 


"Dia siapa, Mas?" Aida mencium punggung tangan Andre setelah itu menatap Alisa dengan lekat.


"Kita masuk dulu, ada yang ingin aku bicarakan."


"Ra,  kamu ke kamar dulu ya, ayah mau bicara sama mama."


Melihat wajah suaminya yang tegang, Aida merasa penasaran, tak biasanya suaminya itu bersikap serius, bahkan sampai menyuruh Mayra ke kamarnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Aida menyelidik.


Alisa menundukkan kepalanya, menunggu ekspresi wajah mama tirinya saat mengetahui jati dirinya.

__ADS_1


"Ini Alisa," Andre meraih tangan dingin putrinya yang sedikit gemetar.


"Dia adalah putri kandungku," lanjutnya. 


Bak disambar petir, dada Aida terasa panas, urat nadinya terasa lemas tak berdaya saat mendengar ucapan suaminya.


"Ini nggak lucu, Mas," ucap Aida tak percaya.


Wanita yang sudah mendampingi hidup Andre selama belasan tahun itu bagaikan dihujami dengan seribu tusukan jarum yang menyakitkan. Selama ini Aida tak ingin tahu tentang masa lalu Andre, dan ia tak menyangka jika pria yang ada di sampingnya itu mempunyai anak dari wanita lain.


"Kamu bohong kan, Mas?" Mata Aida mulai digenangi cairan bening, ia berharap sebuah jawaban yang sesuai dengan isi hatinya saat ini.


Andre menghela napas panjang. Apapun yang terjadi, ia harus mengakui Alisa,  darah dagingnya dari malam yang kelam itu. 


"Aku nggak bohong."


Pertahanan Aida runtuh, ia merasa kecewa dengan ungkapan Andre, dari lubuk hati yang terdalam, Aida merasa ditipu oleh Andre yang menutupi semuanya.


"Maafkan aku, Da." 


Aida menepis tangan Andre yang hampir menyentuhnya, selama menikah, ini pertama kali Andre membuatnya kecewa hingga terasa di atas ubun-ubun.


"Ma, aku ke sini hanya ingin bertemu dengan ayah, jika kedatanganku membuat mama tidak nyaman, aku akan pergi."


"Jangan pergi! Kamu akan tetap tinggal di sini bersama Ayah dan mama Aida."


"Mas kita harus bicara." Aida pergi meninggalkan Andre menuju kamarnya. 


"Kamu tunggu di sini, apapun yang terjadi kamu akan tetap tinggal di rumah ini."


Andre kembali meyakinkan Alisa untuk tetap tenang.


Di dalam kamar


Andre menghampiri Aida yang duduk di tepi ranjang dan berlutut di depannya. 


"Pukul aku sepuasmu." Andre meraih tangan Aida dan menamparkan di pipinya berulang-ulang.


Aida semakin sesenggukan saat melihat wajah suaminya yang frustasi.

__ADS_1


"Cukup, Mas!" teriak Aida diiringi dengan tangisannya, saat ini hati Aida hancur berkeping-keping, dan rasanya semakin sakit saat mengingat Alisa.


"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu punya anak?" tanya Aida. 


Andre menceritakan apa yang terjadi padanya dan Camelia. Kali ini ia tak ingin menyembunyikannya lagi dari Aida. Rumah tangga yang sudah dibangun bertahun-tahun itu tak boleh roboh begitu saja hanya dengan satu fakta yang terjadi di masa lalu.


Aida menjadi pendengar setia ucapan suaminya, ia mencerna setiap rangkaian kata yang meluncur dari bibir Andre dengan lugas dan jelas, bahkan Andre menjelaskan bagaimana ia bisa terjerat satu malam dengan Camelia.


"Itu artinya aku tidak pernah selingkuh dari kamu, aku hanya melakukan kesalahan sebelum kita saling kenal."


Sekarang tak ada alasan bagi Aida untuk tidak memaafkan Andre, apa bedanya dengan dirinya yang juga pernah melakukan kekhilafan. Dengan terang-terangan Aida pun pernah ingin merebut kakak iparnya dari saudara kembarnya sendiri.


"Sekarang terserah kamu, tapi aku akan tetap mempertahankan Alisa," ucap Andre pasrah. 


"Baiklah, aku akan menerima Alisa sebagai putriku."


Seketika Andre memeluk Aida. Ia bersyukur karena istrinya bisa menerima putrinya dari wanita lain, dan itu sangat luar biasa.


"Terima kasih."


Setiap orang pasti punya kesalahan, begitu juga denganku. Alisa adalah anak mas Andre, itu artinya dia juga anakku. Aku harus menerimanya sebagaimana mas Andre menerimaku apa adanya. 


Alisa berdiri dari duduknya, berjalan menuju meja makan menatap para pembantu yang berlalu lalang melakukan aktivitasnya. Sesekali menatap ke arah pintu kamar ayahnya yang tertutup rapat.


"Lama sekali, apa sebaiknya aku pergi saja."


Alisa mendengus mengingat ekspresi Aida yang sangat datar, Alisa merasa harapannya tipis untuk diterima di keluarga itu.


"Nama mama, Aida. Sedangkan nama bundanya Devan, Sabrina. Kenapa mereka sangat mirip. Apa mereka saudara? Jika benar, itu artinya aku juga masih saudara dengan Devan, dan kemungkinan besar ayah juga tahu tentang Devan."


Alisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seandainya semua yang pikirkan itu benar,  pasti akan semakin rumit, dan dipastikan ia akan sering bertemu dengan Devan yang statusnya adalah sepupu. 


"Alisa," panggil Aida dari depan pintu kamarnya. 


Alisa menoleh, tak seperti tadi yang dilingkari rasa takut, kini Alisa merasa lebih tenang saat berhadapan dengan mama tirinya. 


Aida berjalan menghampiri mamanya.


"Mulai hari ini kamu akan tinggal di sini."

__ADS_1


Seketika Alisa memeluk Aida dengan erat.


Perjuangannya datang ke Indo tak sia-sia. Nyatanya, ia  tak hanya menemukan sang ayah, akan tetapi menemukan keluarga baru yang hangat. 


__ADS_2