Pelangi Senja

Pelangi Senja
Maldives


__ADS_3

Republik Maladewa adalah sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan atol (suatu pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna) di Samudera Hindia. 


Maladewa terletak di sebelah selatan – barat daya India, sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka.


Selain terkenal dengan keindahan alamnya yang menarik, lingkungan yang bersih dan bebas dari polusi, Maldives juga dikenal dengan penduduknya yang sopan dan ramah. Tidak heran kalau tempat itu diburu para wisatawan dari berbagai manca negara. Siapapun yang berlibur di sana akan merasa sangat puas. Di samping pemandangannya yang indah, juga pelayanannya yang menyenangkan.


Hampir delapan jam perjalanan, akhirnya Daffa dan Daffi tiba di bandara internasional Male, karena kelelahan, Airin dan Alara hanya memejamkan mata saat mereka melanjutkan perjalanannya menuju hotel. 


Daffa dan Daffi memilih untuk menginap di sebuah resort mewah yang bernama Sheraton Maldives Full Moon Resort & Spa. Tempat yang terletak di Furanafushi Island, Pulau Male, Maladewa ini  menyediakan beberapa jenis kamar yang bisa dipesan. Mulai dari Deluxe Room, Cottage (3 Dewasa & 1 Anak) dengan pilihan Guest Room, King, atau Beach View, serta Beachfront Cottage with Beach View. 


Fasilitas yang ditawarkan di penginapan ini sangat lengkap. Tersedia pula kolam renang, spa, gym, area bermain anak, serta restoran Chinese Food di T4 Tea House.


Dua orang memakai seragam warna hitam membantu Daffa dan Daffi menuju kamar yang sudah dipesan.


"Silakan, Tuan!"


Daffa merangkul pundak Airin, keduanya masuk ke kamar yang sangat mewah dan berkelas, berbagai hiasan yang sangat menarik, tempat tidur yang sangat besar dan empuk juga  jendela yang langsung menghubungkan dengan keindahan alam itu sudah memanjakan mata. Juga fasilitas yang lengkap membuat Daffa langsung merasa nyaman saat menginjakkan kakinya di tempat itu.


Airin membuka tirai, matanya berbinar-binar, rasa kantuknya seketika hilang saat melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Kak, aku mau foto dengan Alara," pinta Airin merengek, meskipun sering berlibur ke luar negeri, ini pertama kali Airin ke tempat itu, dan yang paling membuatnya bahagia adalah datang bersama orang yang spesial dalam hidupnya. 


"Bentar, aku telepon Daffi dulu."


Daffa membuka jaket dan melepas jam tangannya, ia terus menatap Airin yang berselfie ria di depan jendela.


Setelah menghubungi Alara, Daffa pun langsung menghubungi ayah dan bunda memberi kabar jika dirinya sudah sampai.


"Kamu mau renang?" tanya Daffa menggoda, sebenarnya ia sudah tahu jawabannya, namun kurang afdol jika tidak membuat Airin manyun. 


"Nggak, aku mau mandi di kamar mandi saja," ucap Airin dan langsung ke kamar mandi, ia pun mengunci pintunya, takut kejadian di rumah Bunda terulang lagi, di mana Daffa nyelonong masuk saat dirinya telanjang bulat. 


Tok tok tok 


Pintu diketuk dari luar, Daffa segera membukanya. Ternyata seorang pelayan yang mengantar makanan.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak," ucap Daffa setelah menerima dua porsi makanan. 


Setelah menikmati hidangan yang tersaji dan berselfie bersama Alara dan Daffi, mereka pun mulai menikmati keindahan tempat itu, kali ini si kembar berpisah karena keinginan sang istri yang berbeda-beda, jika Airin ingin ke pantai, Alara ingin mengelilingi pulau tersebut. 


Deburan ombak terdengar riuh, pasir putih yang menghiasi bibir pantai dengan air yang berwarna biru itu sangat indah, Airin menghirup udara dalam-dalam, hijab dan baju yang dipakainya terus bergerak  diterpa angin hingga sesekali menyapu wajah Daffa.


"Apa kamu bahagia?" tanya Daffa sambil merentangkan kedua tangannya.


"Aku bahagia," teriak Airin, suaranya mengambang menerjang angin yang terus menerpa. 


"Kak, aku ingin ke sana?" Airin menunjuk ke arah laut biru yang nampak memukau. 


Daffa meraih tangan gadis itu, keduanya berlari bersama hingga kakinya menyentuh air. 


"Sekarang ucapkan dengan keras isi hati kamu."


Airin menatap ke arah tengah. 


"Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang Engkau berikan."


Teriakan Airin membuat Daffa tersenyum.


"Terima kasih Ya Allah, Engkau telah memberiku istri yang cantik dan baik juga sholehah."


Seketika Airin mendorong tubuh kekar Daffa. Pria itu terjatuh dan basah kuyup, tak mau kalah, Daffa pun menarik tubuh Airin hingga wanita itu ikut  jatuh ke pangkuannya, akhirnya keduanya sama-sama basah. 


"Kan basah, gimana cara kita pulang?" Airin mengikat hijabnya ke belakang, Tak hanya bagian bawah, ternyata semua basah hingga bagian dadanya.


"Nggak papa, lagipula resort nya dekat."


Berbeda dengan Daffa yang main basah-basahan untuk mengawali liburannya. Daffi memilih aman, ia terus berkeliling memutari pulau untuk menikmati keindahan alam lainnya.


Dua hari di tinggal si kembar, rumah terasa sepi. Kini Devan dan Raisya, mereka berdua tinggal di rumah setelah si kembar pergi.


"Nanti setelah melahirkan kamu tinggal disini lagi, kan?" tanya Bunda penuh harap. 

__ADS_1


"Iya, Bunda," jawab Raisya tanpa meminta persetujuan Devan.


"Makasih ya, Sayang. Kamu memang selalu mengerti bunda," Bunda mengecup ubun-ubun Raisya.


"David kemana, kok nggak ikut ke sini?" tanya Bunda, dari kemarin David yang jarang nimbrung dengan keluarga.


"Dia ke luar kota, ada kerjaan yang harus diurus, kalau Naimah di rumah mama dengan Susan."


"Kakak…." teriak Asyifa yang baru datang, kali ini bukan gadis itu yang menjadi pusat perhatian, melainkan laki-laki yang ada di ambang pintu.


"Itu siapa? Kenapa tidak diajak masuk?" tanya bunda. 


Asyifa menoleh ke arah pintu dan melambaikan tangannya. 


Seorang pria tampan memakai kemeja warna putih menghampiri Asyifa. 


"Ini temanku, namanya Fadil," jawab Asyifa lirih sembari menunduk, ia teringat pesan ayah yang mengatakan jika tidak boleh berteman sembarangan, terutama dengan laki-laki. 


"Ajak duduk, nggak baik berdiri! ucap Ayah dengan lembut. 


Asyifa melongo, ia tak percaya dengan sambutan ayahnya. Jika dulu pria itu terlalu tegas dan membawa semua masalah dengan bentakan, kini ayah Mahesa sangat halus saat menyapa.


"Itu ayahku," bisik Asyifa seraya menyungutkan kepalanya ke arah arah Mahesa. 


"Maaf Om, Kalau saya lancang mengantar Syifa pulang," ucap Fadhil sambil berlutut di depan ayah. 


"Itu yang ingin aku tanyakan, Kenapa dia pulang bersama kamu?"


"Tadi mobil Asyifa mogok dan di bawa ke  bengkel, sedangkan cuaca sangat panas, jadi saya ajak Asyifa pulang, maaf, saya tidak ada maksud apapun selain itu, Om."


"Nggak papa, silahkan minum." Bunda menyodorkan es jeruk di depan Fadhil yang nampak menciut.


"Sepertinya ada calon menantu berikut nya?" ucap Devan yang ada di sisi ayah. 


Ayah dan Bunda menatap calon ayah itu dengan lekat. 

__ADS_1


"Aku bercanda." Devan menggeser duduknya dan menjauh dari ayah yang nampak marah.


Tampan juga, ternyata Asyifa pintar memilih calon suami, batin Devan.


__ADS_2