
Devan terus menatap layar ponselnya, mencari sesuatu yang berjejer di rak sebuah supermarket yang ada di samping kantor, catatan yang menggunung membuatnya bingung, niat ingin menawarkan jasa pengantar makanan ke rumah sakit, justru ia mendapat pesanan cemilan yang banyak hingga kepalanya terasa berdenyut.
"Ini kira-kira mau dijual apa dimakan," gerutu Devan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia masih heran dengan dua troli yang dipenuhi dengan snack dan coklat. Terakhir Devan meraih kotak yang ada di rak paling atas lalu meletakkannya di tengah tumpukan jajanan yang lain.
"Alhamdulillah, semoga nggak ada yang terlewat.
Dari berbagai camilan keripik, warna-warni cokelat, es krim varian rasa, aneka biscuit, kacang atom dengan tiga merk, permen pencegah kantuk, semua di angkut Devan.
Ia tak peduli dengan pasang mata yang menatapnya aneh, yang pastinya saat ini memenuhi apa yang diinginkan istrinya lah yang lebih utama.
Devan menghitung satu persatu isi troli yang didorongnya. Setelah itu ia mengambil beberapa minuman isotonik, dan langkah terakhir ia harus rela mengantri di kasir.
Bunyi ponsel kembali menggema, Devan langsung membukanya. Ternyata Raisya yang kembali mengirim pesan padanya.
"Gimana kak, apa pesananku sudah dapat semua? Cepetan, aku lapar." emoji sedih.
Seketika Devan langsung membalasnya, takut kalau Raisya akan mengharap kedatangannya.
"Sudah, cantik. Tunggu sebentar ya, aku baru mau ambil makanan ke restoran Alfan." emoji love.
Setelah menunggu beberapa orang yang ada di depannya, akhirnya tiba giliran Devan.
"Sama yang ini juga." Devan menarik satu troli lagi yang ada di sampingnya.
Petugas kasir membelalakkan matanya, terkejut dengan barang-barang Devan yang terlampau banyak.
Tampannya Naudzubillah, tapi masih saja mau jualan.
"Nanti tolong bantuin bawa ke mobil saya!" Devan menunjuk mobilnya yang terparkir di depan.
"Baik, Mas."
Setelah membayar, Devan membawa dua kantong kresek dan keluar, baru saja membuka pintu, ia harus mengalami insiden tabrak-menabrak. Seketika kresek yang menggantug di tangannnya itu terjatuh di lantai.
Devan langsung berjongkok, memungut barang-barangnya yang terjatuh tanpa menatap seseorang yang ada di depannya. "Maafkan saya, Tuan."
Deg deg deg
Jantung Devan berpacu dengan cepat, dadanya bergemuruh hingga ia harus menepis apa yang didengar. Devan mensuplai oksigen untuk memenuhi paru-parunya yang terasa terimpit. Ia menatap kedua kaki yang berdiri tegak tepat di depan matanya lalu mendongak.
Devan dan wanita itu saling bertukar pandangan. Ia berdiri dan menjatuhkan kresek yang ada di tangannya.
"Devan, Alisa," keduanya menyebut nama dengan serempak.
"Ini beneran kamu?" Hampir saja Devan menyentuh pipi Alisa, bayangan Raisya melintas di otaknya membuatnya sadar. seketika Devan menurunkan tangannya kembali dan beristighfar dalam hati.
__ADS_1
"Maaf," ucap Devan seraya mengusap wajahnya kasar.
Alisa meraih tangan Devan dan menggenggamnya erat, menyalurkan rasa rindu lewat air mata yang sudah membasahi pipi wanita itu. Dari lubuk hati yang paling dalam, Alisa belum bisa melupakan Devan, dan pertemuan ini menjadi obat kangennya yang menggebu.
"Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Alisa dengan suara lirih.
Dari sorot mata Devan yang sayu, Alisa sudah bisa menangkap bahwa masih ada puing-puing cinta yang tertinggal untuknya, hanya saja Alisa ingin memastikan dari bibir pria itu.
Devan tersenyum renyah, mengusir kegugupan yang mulai menampar wajahnya. "Maaf aku harus pergi."
Devan menarik tangannya dan melewati Alisa yang masih bercucuran air mata.
Perempuan seperti apa yang membuat kamu melupakan aku begitu cepat.
Devan membuka bagasi mobilnya, menata barang-barang yang sudah diantar salah satu karyawan minimarket."
"Terima kasih," ucap Devan saat kantong kresek yang terakhir itu tiba. Ia menatap sekilas Alisa yang masih ada di depan pintu.
"Maafkan aku, Lis. Bukan maksudku menyakitimu, tapi rumah tanggaku lebih penting."
Devan menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari gerbang.
Tiba di ujung jalan, Devan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Meskipun banyak tanda tanya, Devan tetap berusaha memantapkan hatinya untuk melupakan gadis itu.
...----------------...
"Aku datang," seru Devan seraya membuka pintu ruangan Raisya.
"Kok nggak salam, sih." Raisya beranjak dari duduknya, menyongsong kedatangan Devan yang nampak kesusahan meletakan barang-barangnya.
"Assalamualaikum….Devan meraih tubuh mungil Raisya dan memeluknya dengan erat. Baru beberapa jam berpisah, Devan sudah merasa rindu berat.
Raisya menjawab dengan suara khas manjanya, seperti yang dilakukan Devan, ia pun melingkarkan tangannya di punggung kekar suaminya.
Sekarang aku yakin kalau Raisya adalah hidupku.
"Ini diletakkan di mana, Mas?" sapa seorang satpam dari ambang pintu.
Seketika Raisya mengendurkan pelukannya dan merapikan hijabnya.
"Di situ saja, Pak." Menunjuk meja yang ada di samping tempat kerja istrinya.
"Kok lama sih, Kak?" protes Raisya.
__ADS_1
Devan membuka satu persatu barang yang dibelinya, ia tak menghiraukan ucapan Raisya saat mengingat kejadian yang menimpanya tadi.
"Kak," panggil Raisya meninggikan suara.
Masih tak ada respon, Devan menatap dengan tatapan kosong.
Kak Devan kenapa, apa dia marah karena aku dan Syakila memintanya membelikan semua ini.
"Kak, aku minta maaf. Tadi aku hanya bercanda." Raisya berlutut di depan Devan yang masih bengong.
Seketika Devan gelagapan saat Raisya mencium punggung tangannya, ia terkejut dengan istrinya yang tiba-tiba terisak.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Devan mengangkat lengan Raisya hingga duduk di pangkuannya.
Keduanya bersitatap, Devan mengusap air mata yang menetes membasahi pipi istrinya.
"Aku minta maaf karena sudah merepotkan kakak," ucap Raisya dengan bibir mengerucut.
Devan tertawa dan mencubit kedua pipi Raisya. "Aku tidak merasa direpotkan, sekarang kita makan, biar aku yang panggil Syakila."
Devan mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau kehadiran Alisa menggoyahkan cintanya yang sudah hampir tumbuh. Baginya saat ini hanya ada Raisya yang selalu menemaninya di setiap langkah.
"Tadi bagaimana, apa ayah memarahi kakak?" tanya Raisya antusias.
"Tidak, hanya saja besok aku harus berangkat lebih pagi. Kata ayah ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus."
Raisya membuka cokelat kesukaanya yang seketika disambar oleh Devan.
"Makan dulu, jajanannya nanti."
Devan menyodorkan burger bekas gigitannya, namun langsung diterima Raisya.
"Sebenarnya aku hanya pingin ngemil," jawab Raisya sembari mengunyah makanannya dengan pelan.
Syakila terus cekikikan saat menatap layar ponselnya, kali ini ia tak peduli dengan keromantisan kedua makhluk di depannya karena ada sesuatu yang lebih penting.
"Kamu kenapa si, La? Kayaknya seneng banget?" tanya Devan menyelidik.
Syakila menutup bibirnya yang terus menerbitkan senyum.
"Besok mas Afif mau datang, katanya dia langsung mau ketemu ayah," ucap Syakila malu-malu.
Kini tak hanya Syakila, Raisya ikut terkejut mendengar berita yang menarik.
Alhamdulillah Ya Allah, semoga ini awal kebahagiaan mas Afif dan Syakila, Ridhoilah hubungan mereka sampai menjadi pasangan yang suci, doa Raisya dalam hati.
__ADS_1