
Hampir setengah hari Susan berada di kamar pribadi Raisya. Bocah itu memainkan beberapa boneka milik Raisya yang dibelikan Devan beberapa hari yang lalu khusus untuk menemaninya saat istirahat.
Sambil melayani pasien yang datang, Raisya sesekali menghampiri Susan yang ada di atas ranjang.
"Susan betah di sini?" Raisya melepas sarung tangan dan kacamata setelah menangani salah satu pasien yang terkena Konjungtivitis.
Penyakit ini adalah Peradangan atau infeksi pada membran luar bola mata dan kelopak mata bagian dalam.
Konjungtivitis, atau mata merah, adalah iritasi atau peradangan pada konjungtiva, yang menutupi bagian putih bola mata. Kondisi ini dapat disebabkan alergi atau infeksi bakteri atau virus. Konjungtivitis bisa sangat menular dan menyebar melalui kontak dengan sekresi mata dari orang yang terinfeksi. Dari itu Raisya selalu memakai kacamata saat menangani pasien yang terkena penyakit tertentu.
"Betah dong, di sini kasurnya empuk, banyak bonekanya juga."
Setelah mencuci tangan, Raisya duduk di tepi ranjang dan mengelus pucuk kepala Susan.
"Susan mau boneka seperti itu?" tanya Raisya.
Bocah itu tak menjawab malah menundukkan kepalanya. Dari lubuk hatinya yang terdalam, Susan ingin memiliki semua yang ada di kamar itu. Namun, ia tak berani meminta setelah mendengar ucapan ibunya sebelum dibawa ke ruang rawat untuk berpuasa.
Jangan minta terus, ingat bu dokter sudah baik sama kita, Suzan jangan merepotkannya.
"Kalau mau, nanti bu dokter akan belikan, tapi nunggu suami bu dokter dulu ya."
Pintu ruangan terbuka diiringi suara salam yang sangat familiar, Raisya segera keluar menyambut seseorang yang ada di belakang pintu.
"Kakak sudah datang?" Meraih tangan Devan dan mencium punggung tangannya.
"Iya, ini untuk makan siang." Menyodorkan dua kantong kresek yang menggantung ditangannya.
"Kakak tidak membelikan untuk Syakila juga?" tanya Raisya, meskipun hubungannya sedang tak baik-baik saja, Raisya teringat kebiasaan mereka sebelum Syakila menikah. Makan siang bersama di ruangannya.
"Sekarang sudah ada Afif, pasti mereka makan bersama."
Devan menatap punggung Susan.
"Namanya Susan, dia anak dari ibu yang aku ceritakan tadi, karena operasinya baru akan dilakukan nanti malam, jadi Susan akan tinggal bersama kita," jawab Raisya sebelum pertanyaan Devan meluncur.
Devan manggut-manggut mengerti lalumenghampiri bocah itu.
"Halo… cantik, nama kamu siapa?" Devan mengulurkan tangannya.
Susan menatap penampilan Devan dari atas sampai bawah, sangat gagah seperti artis yang sering ia lihat di tv.
Susan menggeser tubuhnya. Wajahnya pucat saat Devan duduk di sampingnya.
"Jangan takut, om hanya mau kenalan," bujuk Devan dengan mengelus boneka yang ada di pangkuan Susan.
"Kenalan saja sayang, dia suami bu dokter," timpal Raisya ikut mendekat.
__ADS_1
Akhirnya Susan menerima uluran tangan Devan dan mencium punggung tangannya seperti yang dilakukan Raisya.
"Apa kita bisa jalan sekarang?" tanya Devan melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Sebentar, aku tanya suster Pia dulu."
Raisya menghubungi suster untuk memastikan jika tak ada pasien lagi. Setelah mendapat jawaban, ia melepas jas nya dan merapikan penampilannya lalu meraih tasnya.
"Bisa kak, sekalian makan siang di luar, yang itu kasih ke suster saja."
"Mau om gendong?" Devan merentangkan kedua tangannya di depan Susan, dan dengan sigap bocah itu mendaratkan tubuhnya di dekapan Devan.
Sepertinya kak Devan menyayangi Susan, apa dia sudah ingin punya anak?
Sebelum keluar dari rumah sakit, Raisya juga pamit pada Naimah dan suster yang menjaganya.
Di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota, Raisya dan Devan serta Susan masuk ke sebuah toko baju khusus anak.
Mereka bagaikan keluarga kecil yang bahagia. Devan ada di sisi kiri, sedangkan Raisya di sisi kanan, ada Susan di tengah-tengah mereka.
"Susan mau baju yang mana?" tanya Raisya menyibak beberapa baju yang menggantung rapi.
Devan memilih beberapa sepatu cantik yang ada di bagian pinggir.
"Kata ibu Susan tidak boleh merepotkan Bu Dokter, jadi tidak usah beli."
"Kali ini Suzan mau, kan mendengarkan bu dokter?"
Raisya berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Susan.
Antara malu dan takut, Susan memilih diam tanpa ekspresi.
"Sayang, kayaknya ini bagus untuk Susan." Devan membawa beberapa stel sepatu dan meletakkannya di samping kaki Susan.
"Cantik sekali, pasti ini lebih cantik kalau di pakai Susan." Dengan bujuk rayu Raisya, akhirnya Susan menerima pemberian Raisya dan Devan, tak hanya baju dan sepatu, aksesoris serta perlengkapan sekolah juga mainan pun dibeli. Devan mengembalikan sepatu yang menurutnya terlalu longgar, tanpa sengaja ia menyentuh perlengkapan bayi hingga terjatuh.
Lucu sekali, Ya Allah semoga istriku cepat memberiku momongan.
Devan terhipnotis dengan setelan rok jumper yang berwarna pink. Ia memungutnya dan menggenggamnya erat.
"Kakak ngapain?" Tiba-tiba suara Raisya membuyarkan Devan yang masih berkelana dengan otaknya.
"Ini tadi kesenggol."
Itu kan baju untuk bayi?
Raisya tersenyum tipis, ia menangkap ada sesuatu yang Devan sembunyikan, namun ia hanya bisa menerka dalam diam.
__ADS_1
"Sekarang kita makan, yuk!" ajak Raisya.
Setelah puas berbelanja, mereka masuk ke sebuah restoran yang masih ada di mall itu.
Seorang wanita cantik dan berpenampilan menarik menghampiri meja yang Devan tempati.
"Susan mau makan apa?" tanya Devan sembari membuka buku menu di depannya.
"Ayam kentucky," jawab Susan polos.
"Cuma itu?" tanya Raisya.
Susan mengangguk, matanya terpana pada gambar paha ayam yang dipajang di depan restoran.
"Kalau kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Devan pada Raisya yang nampak termenung.
"Sama kayak Kakak saja."
“Kalau begitu saya pesan Chicken steak saus enoki dua, sama oseng cumi asin pedas satu, sama ayam kentucky satu, minumnya jus alpukat dua, sama es kelapa muda satu," ucap Devan pada waitress yang ada di samping meja.
"Baik, Mas. Mohon ditunggu sebentar."
Setelah wanita itu pergi, Raisya menarik kursinya tepat disamping suaminya.
"Kok banyak, untuk siapa lagi? Kita kan cuma bertiga?
"Aku dong, takutnya nanti malam lemes," bisik Devan.
Seketika Raisya mengerutkan alisnya, bulu halusnya merinding mendengar ucapan absurd suaminya.
"Kakak, nanti kalau Susan denger gimana?" Raisya mencubit pinggang Devan hingga memebuat sang empu meringis.
"Anak kecil tidak akan paham, paling dia mikir, tadi bajuku habis berapa ya?"
Begitulah Devan membaca pikiran Susan yang nampak bengong.
"Nanti malam aku nggak bisa. Bu Naimah operasi, dan kita harus menemani Susan untuk sementara."
Semangat Devan lebur seketika, tak mungkin ia memaksa Raisya disaat kesibukan yang melibatkan kesehatan orang lain.
"Berarti malam Ini kita libur lagi?" tanya Devan lemah.
"Iya, besok baru bisa kalau nggak datang bulan," goda Raisya cekikikan, ia tak bisa menahan tawa melihat wajah Devan yang ditekuk.
Mampir juga yuk
__ADS_1