Pelangi Senja

Pelangi Senja
Icip-icip


__ADS_3

Sudah hampir tiga jam pesta itu berlalu, tapi tak kunjung usai juga membuat Daffa bosan. Ia hanya bisa duduk berdiri berulang-ulang menanti semua tamu pulang. Beberapa orang yang mengucapkan selamat padanya pun terus mengalir tiada henti. Terpaksa Daffa menyalami nya meskipun hatinya kesal. 


"Wah, hebat juga kamu, tidak pernah pacaran tahu-tahu nikah."


Beberapa sahabat Airin yang diundang pun datang, selain mengucapkan selamat mereka juga memberi kado untuk pengantin. 


Airin tersenyum tipis dan membalas pelukan sahabatnya.


"Aku ingin pacaran setelah menikah, bukan menikah setelah pacaran, dan Insya Allah akan lebih indah." 


Istri idaman.


Daffa kembali duduk dan mendengus, "Bunda kapan selesainya?" tanya Daffa kesal. Menarik-narik pucuk baju bunda.


"Bentar lagi, ini baru jam sebelas, nanti jam dua belas baru selesai."


Seperti yang lain, bunda pun ikut menggoda Daffa yang terus berdecak.


Lantunan musik masih menggema memanjakan telinga tamu yang hadir. Ada pula yang menikmati hidangan yang tersedia, ada juga yang sibuk memotret pengantin.


"Bunda, aku mau ke kamar," pamit Daffa dengan suara pelan.


"Ke kamar saja, tapi nanti balik ya!" 


Bunda mengingatkan Daffa kalau masih ada beberapa acara yang belum terlaksana.


"Iya, bentar doang." 


Daffa menarik tangan Airin dan mengajaknya pergi.


Sesampainya di lantai dua, Daffa menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menatap wajah Airin dengan lekat. 


"Kamu nggak capek?" tanya Daffa basa-basi. 


Airin menggeleng tanpa suara, padahal Daffa sudah berharap jika wanita itu mengangguk, faktanya semua tak sesuai ekspektasinya dan tak mungkin ia memaksa kehendak istrinya.


Daffa melanjutkan langkahnya menuju kamar. Sesampainya, ia menutup pintu dan membawa Airin menuju ranjang yang sudah dipenuhi dengan kelopak mawar. 


"Aku ingin menciummu." 


Kepala Daffa terasa ngebul, ia tak bisa menahan napsunya jika melihat bibir Airin yang nampak merah cerah.


Seketika Airin menutup bibirnya dengan kedua tangannya, wajahnya yang cantik dengan make up natural itu mulai mengurai dan berganti pucat.


"Kok ditutup?" protes Daffa. 


Airin terus menggeleng, tangannya mendadak gemetar saat Daffa terus maju mendekatinya. 


Mama tolong aku, seperti itulah hati Airin menjerit.


Ini bukan tipuan dan juga bukan pura-pura, selama ini Airin belum pernah berdekatan dengan laki-laki selain Daffa, dan itu membuatnya takut sekaligus panik.


Daffa duduk di samping Airin, ia mengelus pucuk hijabnya yang masih dihiasi dengan mahkota. 


"Ciuman saja, nggak lebih," bujuk Daffa melas.

__ADS_1


Kamu harus melayani suami kamu dengan baik, jangan pernah menolak keinginan dia, itu dosa besar.


Sekilas ucapan mama Aya melintas di otak Airin.


"Tapi aku masih takut, Kak."


"Aku bukan singa yang akan menggigit, tapi aku Daffa, suami kamu." 


Daffa berusaha meyakinkan.


Perlahan Airin menurunkan tangannya dan meletakkannya di pangkuan, lalu menatap wajah Daffa dengan lekat.


Sorot mata itu penuh harapan, dan menahan sesuatu yang tak bisa Airin artikan.


Airin mengangguk kecil, sedangkan Daffa tersenyum.


Ia mendekatkan wajahnya di wajah Airin hingga keduanya sangat dekat dan saling merasakan hembusan napas lawan.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuyarkan  konsentrasi Daffa yang hampir saja mencapai finish, ia menghembuskan napas kasar lalu membuka pintunya.


"Kak Alfan, ngapain ke sini?" tanya Daffa ketus. 


Alfan melirik ke arah Airin yang nampak cemas.


"Kamu yang ngapain, icip-icip?" tebak Alfan. 


"Seharusnya gitu, tapi kakak keburu ketuk pintu, batal deh."


"Iya," jawab Daffa jutek sambil menutup pintu dengan keras.


Daffa kembali mendekati Airin, "Kita lanjutkan nanti, ya."


Airin mengangguk kecil, saat di ambang pintu, Airin menggenggam tangan Daffa hingga pria itu memutar tubuhnya.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di bibir Daffa dengan kilat.


Airin yang merasa malu langsung melepas high heelsnya dan berlari kecil menuju ke arah tangga.


"Nanti malam akan lebih dari ini."


Daffa mengusap bibirnya, rasa kecupan itu masih meninggalkan bekas hingga urat mesumnya naik level.


Suasana berangsur sepi, beberapa tamu sudah meninggalkan acara, dan sebagian menunggu sang mempelai, seperti sahabat Daffa dari kampus dan kerabat dekat, mereka ingin berpamitan langsung.


"Kalian dari mana saja sih, lama banget." 


"Icip-icip, Tante," jawab Daffa konyol.


"Gimana rasanya, pasti kecanduan."


"Gagal, karena tadi kak Alfan keburu datang."

__ADS_1


Semua orang tertawa termasuk ayah Mahesa. 


Kado menumpuk di sisi pelaminan, meskipun acara sudah hampir selesai, sang artis masih melantunkan lagu yang indah untuk memanjakan sisa tamu yang masih berada di sana.


Devan dan Raisya menghampiri si kembar dan juga Keluarga lainnya untuk sesi photo. 


"Silahkan menikmati masa pengantin kalian, setelah itu kita harus siap bertempur di kantor," ucap Devan seraya memeluk si kembar bergantian.


Daffa dan Daffi mengangkat tangannya tanda hormat.


Akhirnya selesai juga


Daffi menghempaskan tubuhnya di kursi pengantin, kesabarannya berbuah manis, ia yang tak pernah mengeluh dengan acara yang sangat lama itu pun merasa lega. 


Alara menghampiri suaminya dan ikut duduk di sisinya. Ini pertama kalinya ia membaur dengan keluarga Daffi yang hampir keseluruhan adalah orang indo, dan itu membuatnya bingung. 


"Kak, aku capek," keluh Alara. 


"Kita ke kamar, yuk!"  


Tak mau bertele-tele seperti Daffa yang banyak merayu, Daffi langsung mengangkat tubuh Alara dan membawanya ke kamar. 


Daffa pun menyusul beberapa saat kemudian yang juga melakukan hal yang sama.


Usai sholat dzuhur, Alara membuka tirai jendela, cuaca sangat panas hingga menembus ke dalam. Meskipun AC nya menyala, Alara masih berkeringat. 


"Kak, boleh nggak, aku lepas baju ini?" Alara menjewer baju gamis yang di pakainya. 


"Lepas saja, nggak papa. Lagi pula kita sudah halal, kamu nggak pakai baju juga tidak apa-apa," goda Daffi yang membuat Alara tersipu. 


Alara melepas bajunya, menyisakan kaos berlengan pendek dan celana pendek. Tak seperti Airin yang malu-malu meong, Alara tampak  biasa saat Daffi mendekatinya. 


Daffi memeluk Alara dari belakang dan mengecup pundaknya. Keduanya  menatap ke arah yang sama.


"Mulai hari ini kamu adalah milikku," ujar Daffi. 


Alara mengusir rasa panik yang mengendap, bagaimanapun juga hal itu tidak bisa ia hindari. 


"Aku tahu, dan aku siap mengarungi samudra bersamamu," timpal Alara, menggenggam tangan Daffi yang melingkar di perutnya. 


"Kak, aku ingin tidur, ngantuk."


Daffi menggandeng Alara menuju ranjang lalu mencium bibirnya hingga membuat sang empu terbelalak.


Semakin lama ciuman itu semakin dalam hingga Alara merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Ia terbuai dan memilih memejamkan mata menikmati  sensasi baru yang diberikan Daffi.


Lima menit, Daffi melepaskan ciuman itu dan menempelkan keningnya di kening Alara.


"Sekarang kita tidur, supaya nanti malam bisa lembur."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cuhuiiii setelah ini chapter malam pertama si kembar 🤭🤭🤭


Terima kasih untuk kalian yang sudah menemani othor sejauh ini

__ADS_1


Lope you pulll


__ADS_2