Pelangi Senja

Pelangi Senja
Malam pertama si Kembar


__ADS_3

Hening, Usai sholat Isya', Daffi langsung menyalakan lampu temaram. Meskipun menyala remang, ia masih bisa melihat wajah Alara dengan jelas. Gadis itu tampak malu saat naik ke atas ranjang, jika tadi siang lebih santai, tidak untuk saat ini, bahkan cara bicara Alara pun terdengar gugup.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Daffi memastikan.


Keduanya duduk di atas ranjang dan saling berhadapan, tangan Daffi menggenggam tangan Alara yang terasa dingin dan bergetar.


Alara dan Daffi memakai piyama dengan warna yang senada. Sebelum berada di tempat pembaringan, mereka berdua sempat selfie untuk mengabadikan momen pertama kali saat bersama.


Alara menunduk malu, ia menatap jari-jari lentik suaminya yang terus mengelus punggung tangannya.


"Aku sudah siap," jawab Alara setelah lima menit kemudian.


Kenapa jadi aku yang grogi?


Daffi menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan halus. Langkah pertama, ia menangkup kedua rahang Alara lalu mencium ubun-ubunnya dengan lembut dan lama, setelah itu turun ke mata lalu kedua pipi, setelah itu hidung hingga turun ke bibir. 


Alara mengusir rasa gugupnya, ini kedua kali Daffi menciumnya, dan lagi-lagi pria itu membuatnya terbuai.


Perlahan Daffi membaringkan tubuh Alara, ia menggunakan kedua lutut untuk menopang tubuhnya, satu persatu Daffi membuka kancing piyama nya.


Alara menoleh ke arah samping saat melihat Daffi telanjang dada.


"Lihat aku!" pinta Daffi dengan suara lirih.


Hanya butuh satu kali perintah, Alara kembali menatap Daffi yang masih mengungkungnya. 


Daffi beralih membuka baju Alara, setelah semua kancing lepas, gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menutupi dua buah gunung kembar yang menonjol. 


Daffi berkacak pinggang, ia terus menatap wajah Alara dengan lekat.


"Apa kita akan seperti ini sampai nanti, Kak?" ucap Alara saat tidak ada pergerakan dari Daffi hingga waktu menurutnya terbuang sia-sia.


"Kalau kamu nggak mau merentangkan tangan, kita akan tetap seperti ini semalaman, Sayang." Daffi membalasnya dengan suara pelan juga.


Akhirnya Alara mengalah, ia langsung mengulurkan tangannya ke arah masing-masing hingga Daffi bisa melihat pemandangan indah itu dengan jelas.


Daffi memulai aksinya, tak segan-segan bibirnya langsung menelusuri setiap jengkal wajah Alara dengan lembut. Meskipun ini yang pertama kali, Daffi nampak lihai dan membuat Alara terbawa suasana.


Daffi mulai melepas semua baju Alara dan bajunya hingga keduanya polos tanpa sehelai benang, hanya menutup tubuh keduanya dengan selimut.


"Maafkan aku jika nanti rasanya sakit," bisik Daffi saat senjatanya sudah tegak dan siap bertempur.


Alara mengangguk pelan. Daffi kembali menautkan bibirnya, ia memberikan sentuhan lembut pada Alara untuk mengurangi rasa sakit saat pusaka naganya itu menerobos gawang.


Benar saja, baru satu hentakan, Alara sudah menggeleng, Daffi tak melepaskan tautan bibirnya, tangannya mulai nakal ke sana kemari untuk membuat Alara lupa akan rasa sakit yang di bawah sana. 

__ADS_1


Aku harus cepat-cepat, kasihan Alara. 


Daffi menatap kedua mata Alara yang digenangi air mata, ia kasihan, namun akan lebih kasihan lagi jika itu harus gagal di tengah jalan.


Daffi kembali menghentakkan senjataya dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya  bisa masuk menerobos gawang milik Alara. Antara percaya dan tidak, Daffi kini sukses menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami hingga beberapa menit akhirnya ia tumbang di atas tubuh  Alara.


Ucapan terima kasih bertubi-tubi Daffi ucapkan diiringi ciuman lembut di kening Alara yang dipenuhi dengan keringat.


Waktu yang bersamaan di kamar sebelah. 


Hampir satu jam Daffa duduk di tepi ranjang, ia terus menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


"Kenapa lama banget si," keluh Daffa yang akhirnya mengetuk pintu. 


"Sebentar, Kak," teriak Airin dari dalam.


"Aku harus bagaimana, Mama tolong aku."


Airin menatap wajahnya dari pantulan cermin, entah kenapa rasa takutnya kembali menyeruak saat ia mendengar suara Daffa.


"Sayang, kalau kamu nggak keluar, aku dobrak pintunya," imbuh Daffa. 


Airin berlari dan membuka pintu, ia tak mau membuat Daffa marah  karena sikapnya yang kekanak-kanakan dan mengulur waktu.


"Maaf, Kak," jawab Airin merasa bersalah.


Apa ini?


Airin menelan ludahnya dengan susah payah saat tangannya menyentuh sesuatu yang mengeras di bawah sana.


"Elus-elus saja terus, dan tuntun ke jalan yang lurus ya," bisik Daffa setelah melepaskan ciumannya.


"Itu apa kak?" ucap Airin yang benar-benar masih polos, meskipun ia tahu ada senjata di balik sarung Daffa, ia tak menyangka akan sepanjang dan sebesar tadi.


"Itu keris sakti mandraguna yang akan membuatmu merem melek."


Wajah Airin semakin memerah, ia tak pernah membayangkan jika malam pertamanya di penuhi dengan ketakutan.


"Kak, aku takut." Daffa tak menghiraukan ucapan Airin dan terus menciumnya lalu menggiringnya ke atas ranjang yang masih dipenuhi dengan kelopak mawar.


Rin kamu harus tahu, kalau malam pertama itu pedang milik suamimu akan merobek milikmu, dan pasti rasanya akan sakit. Apalagi suamimu itu sangat gagah pasti senjatanya panjang kayak bule.


Ucapan Uis tiba-tiba melintas di otak Airin yang diliputi rasa takut. Seketika Airin mendorong tubuh Daffa hingga pria itu tersentak ke belakang.


Airin menutup dadanya yang sedikit terbuka lalu menggeser tubuhnya. Hampir saja ia turun, tangan Daffa meraih kakinya hingga ia tak bisa bergerak.

__ADS_1


"Mau ke mana, Sayang," ucap Daffa dengan suara parau.


"Kak, aku takut," ucap Airin merengek.


Airin itu penakut, kalau kamu minta hak harus dengan cara yang halus, jangan memaksanya dan jangan cengengesan kayak pelawak.


Daffa teringat ucapan mana Aya. 


"Sayang, sekarang atau besok pasti akan terjadi juga," ucap Daffa dengan lembut, ia mulai serius untuk membuat Airin nyaman.


Airin diam, ia nampak berpikir keras dengan keputusannya yang akan diambil.


Daffa mengelus pucuk kepala Airin dan kembali memeluknya, menyandarkan kepala gadis itu di dada bidangnya yang masih tertutup piyama.


"Kalau kamu tidak mau, ya sudah, aku tidak akan memaksa."


Daffa membaringkan tubuh Airin di sampingnya, tak lupa ia memeluk tubuh gadis itu dari belakang.


Kasihan kak Daffa, pasti dia sangat menginginkanku.


Airin mengumpulkan semua keberaniannya lalu membalikkan tubuhnya hingga keduanya saling tatap.


"Kak, aku mau," ucap Airin malu-malu. 


Daffa yang kelaparan itu pun melahap bibir Airin dengan rakus. Tak hanya itu, tangannya mulai merayap ke mana-mana. Dalam hitungan detik, Daffa mampu membuang semua baju Airin hingga menggantinya dengan selimut. 


"Tuntun pedangnya!" 


Disaat Airin tegang menerima perlakuan nya yang memabukkan, bisa-bisanya Daffa membuat candaan yang sangat konyol. Ia  merenggangkan kedua kaki Airin dan memulai ritualnya.


Hampir saja memasukkan pistolnya, Daffa kembali mencium ubun-ubun Airin karena tadi lupa berdoa.


"Satu dua tiga."


Kekonyolan lagi yang membuat Airin jengkel.


Mana ada mau itu di hitung, kayak mau lomba lari saja.


Airin menggeleng, jangankan untuk menyentuh itu, saat ini keringat nya mulai bercucuran. Kedua tangannya mencengkeram erat punggung Daffa yang berada di atasnya. 


Tanpa tuntunan, pedang itu akhirnya tahu jalan menuju surga dunia. 


Airin menjerit sekencang-kencangnya, ia tak bisa menahan rasa sakit yang melanda hingga sekujur tubuhnya panas dingin, dorongan benda keras itu benar-benar merobek miliknya hingga terasa berdenyut sampai ke dada.


Daffa tak bodoh, ia terus melakukan sesuatu yang bisa mengurangi rasa sakit pada diri Airin, dan lama kelamaan akhirnya keduanya menikmati rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah sekian menit, Daffa menyemburkan lahar panas di rahim Airin. 

__ADS_1


"Aku dan kamu satu selamanya."


Daffa mendekap tubuh Airin dengan erat lalu memejamkan matanya untuk mengatur napas yang sempat ngos-ngosan. 


__ADS_2