Pelangi Senja

Pelangi Senja
Kebaikan Raisya


__ADS_3

Raisya menatap ke arah luar jendela dengan tatapan kosong. Bayangan wajah Syakila yang merengut terus melintasi otaknya saat ini. Sikap dingin wanita itu seakan mengurai tali persaudaraan di antara mereka. Ingin sekali ia bertanya masalah yang membuat Syakila diam, namun tak ada waktu untuk bertemu, bahkan  dengan jelas Syakila menghindarinya.


"Kamu kenapa sih?" Suara berat Devan diiringi dengan tangan yang melingkar membuatnya merasa lega. Untuk saat ini hanya Devan lah tiang yang bisa membuatnya berdiri kokoh menghadapi masalah yang menampar.


"Aku masih kepikiran sama Syakila, dia kenapa ya?"


Sebuah kecupan mendarat di pundak kecil Raisya dengan lembut. Devan menganggap hari-harinya tak berwarna jika tak menjahili istrinya.


"Biarin saja, mungkin dia lagi PMS, biasanya kalau wanita suka marah-marah, banyak diam kan lagi datang bulan."


Raisya meletakkan pisau yang ada di tangannya. Hampir satu jam di dapur, ia belum menghasilkan apapun selain wortel yang di rajang dengan asal. Semenjak pulang dari rumah Ayah Mahesa, ia tak bisa berpikir jernih dan terus melamun.


"Tapi aku takut, Kak. Apa ini ada hubungannya dengan masa laluku dan Afif, apa mungkin dia sudah tahu semuanya?" 


"Bisa jadi," jawab Devan santai sembari menatap jam yang melingkar di tangannya.


"Pagi ini kamu masak apa?" tanya Devan menatap penggorengan yang masih menggantung dengan rapi. Kompor padam tanpa alat masak di atasnya.


Raisya memanyunkan bibirnya dan menggeleng. 


"Ya sudah, aku pesan makanan, nanti kamu makan di rumah sakit saja, aku juga ada rapat pagi ini."


"Kakak mau ke kantor?" Raisya memeriksa kening Devan yang ternyata sudah baik-baik saja.


"Tenang saja, kalau sakit terus, ntar malam kamu nganggur lagi dong."


Raisya hanya bisa tersipu malu mendengar ucapan absurd suaminya.




"Nanti siang aku ke sini lagi sekalian bawa makanan." Raisya mengangguk, melambaikan tangannya ke arah Devan yang mulai menutup pintu mobilnya.



Setelah mobil Devan keluar gerbang rumah sakit, Raisya pun masuk ke dalam.



"Pagi, Dok," sapa seorang suster yang membawa beberapa dokumen di tangannya. 



"Pagi, apa dokter Syakila sudah datang?"



"Sudah, Dok. Tadi bersama Dokter Afif."



*Jadi hari ini Afif sudah mulai masuk*.



"Terima kasih. Saya permisi."



Raisya melanjutkan jalannya, Setibanya di depan lift ada anak kecil yang terjatuh dan menangis. Syakila menoleh ke arah kanan kiri, tak ada siapapun di sana kecuali wanita paruh baya  yang sedang meraba tongkat yang ada di bawahnya.



"Astagfirullah, apa itu ibunya?" Raisya berlari kecil menghampiri dan menyerahkan tongkat kayu yang berwarna putih lalu mengangkat tubuh mungil bocah itu. 



Beberapa suster yang baru melintas ikut mendekati Raisya yang sedang mengelus punggung bocah cilik itu.



"Susan, kamu tidak apa-apa kan, Nak? Apa ada yang luka?" 



Tangisan bocah yang bernama Susan mereda setelah Raisya mendekapnya dan mendekatkan pada ibunya.



"Ini putri, Ibu?" tanya Raisya, ia menuntun wanita itu menuju kursi panjang yang terbuat dari besi mengkilap.



"Kamu siapa?" tanya wanita itu, membuka kacamata bening yang menghiasi mata sipitnya.

__ADS_1



Samar-samar ia bisa melihat wajah cantik Raisya yang tersenyum renyah.



"Nama saya Raisya, dokter mata di rumah sakit ini."



Seketika wanita itu menitihkan air mata, tangannya menjulur entah ke mana hingga meraba lengan Raisya.



"Alhamdulillah, akhirnya Allah mendengar doaku." Seperti mendapatkan anugerah terindah, wanita itu menangis tersedu-sedu sambil menggenggam erat tangan Raisya yang duduk di sampingnya, sedangkan Susan mendongak menatap wajah cantik Raisya yang dibalut dengan make up natural. 



"Bu, saya kesini mau periksa, sudah hampir tiga bulan pandangan saya buram. Kata pihak puskesmas saya terkena katarak dan harus operasi, tapi saya tidak ada biaya," ucap wanita yang belum diketahui namanya itu dengan melas.



Raisya merengkuh tubuh mungil Susan. Dilihat dari penampilannya, wanita itu sudah pasti orang miskin, dan itu membuat Raisya tak tega. 



" Nama ibu siapa?" tanya Raisya. 



"Nama saya Naimah."



"Ibu kesini hanya sama Susan?" tanya Raisya lagi.



"Iya, suami saya meninggal setahun yang lalu, dan saya hidup dengan Susan saja." 



*Ya Allah kasihan ibu ini, begitu kuatnya harus hidup dengan putrinya tanpa suami di sisinya*. 




"Baiklah, saya akan bantu ibu." 



Raysa berdiri menuntun Naimah menuju ke arah lift. Beberapa suster yang menyaksikan itu ikut terenyuh melihat kebaikan Raisya. 



"Bu Dokter ini lift, ya?" tanya Susan dengan polos saat masuk ke ruangan kosong di depannya.



Raisya berjongkok menatap wajah bocah itu dengan lekat.



"Iya sayang, ini namanya lift, apa kamu belum pernah naik lift seperti ini?"



Bocah itu menggeleng tanpa suara.



Raisya menatap baju Susan yang sedikit kusut. Ia merasa bocah itu lebih miris dari nasibnya dulu.



"Nanti jalan-jalan sama Bu dokter mau nggak?" tawar Raisya.



Susan mendongak menatap ibunya yang mematung di sampingnya. Ia meminta sebuah persetujuan dari wanita itu. 



"Boleh ya, Bu?" tanya Susan penuh harap. 

__ADS_1



Naimah mengangguk diiringi dengan senyuman kecil.



Saking senangnya bocah itu merangkul Raisya dengan erat.



Lift terbuka



Seperti yang dilakukan tadi, Raisya menuntun Naimah keluar, sedangkan di tangan kirinya ada Susan yang memegang pucuk bajunya.



"Suster, tolong antarkan bu Naimah keruangan saya. Saya ke resepsionis sebentar."



"Baik, Dok," jawab suster cantik itu dengan ramah. 



Sebelum masuk lift, Raisya merogoh ponselnya yang ada di tas dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.



Tersambung 



"Assalamualaikum, Kak. Maaf aku ganggu, kakak sudah sampai kantor apa belum?" tanya Raisya dengan suara khas.



"*Baru sampai, ada apa? Kangen ya*?" goda Devan sembari melepaskan seat belt yang terpasang. 



"Iya, tapi ada yang lebih penting selain itu."



"*Apa*?"



"Ada ibu-ibu yang mau operasi katarak, dia nggak punya uang. Apa aku boleh ambil uang kakak?" tanya Raisya sedikit ragu.



Terdengar suara tawa dari seberang sana yang membuat Raisya mengerutkan alisnya. Disaat serius Devan masih saja menganggapnya lucu.



"*Boleh, semua milik aku itu milik kamu juga, pakai saja*." 



Raisya menggigit jarinya, ia terlalu malu untuk mengatakan permintaan yang kedua, karena sudah berjanji pada Susan, terpaksa Raisya harus mengatakannya.



"Kak, nanti siang mau nggak antar aku jalan-jalan ke mall?" Mengatakannya dengan malu-malu.



"*Siap, bu Dokter*," jawab Devan dengan cepat tanpa ingin tahu tujuan Raisya. 



"Ya sudah, kalau begitu  aku tutup ya."



Setelah mengucap salam perpisahan, Raisya kembali menekan tombol lift untuk turun. Sebenarnya ia bisa menyuruh suster untuk mengurus semuanya, tapi Raisya ingin melupakan kejadian yang sejenak semrawut dalam benaknya dengan kesibukan lainnya. 



Rekomendasi bacaan


__ADS_1


![](contribute/fiction/3949049/markdown/11309449/1645370705903.jpg)


__ADS_2