
Senyum merekah menghiasi sudut bibir Raisya. Langit masih cenderung gelap, mukena yang dipakainya belum juga di lepas, di ambang pintu nampak bocah mungil itu tersenyum padanya. Susan datang bersama ibunya setelah dijemput supir ayah Mahesa.
Dengan langkah pelan, Susan menghampiri Raisya yang bersandar di atas brankar. Devan merangkul kaki Raisya, takut Susan akan menyentuhnya yang pastinya menciptakan rasa nyeri seperti semalam saat tak sengaja ia menyenggolnya.
"Susan kangen sama Bu Dokter," ungkap Susan polos, matanya terus menatap tangan Devan yang sedikit pun tak melepaskan pegangannya.
"Bu dokter juga, maaf ya, belum bisa pulang."
Raisya hanya bisa menerima uluran tangan Susan tanpa memeluknya.
Bahagia, itu pasti, apalagi disaat dirinya sakit banyak orang yang memberi semangat.
"Bagaimana keadaan Bu Dokter?" tanya bu Naimah menyusul, kini wanita tidak lagi menggunakan bantuan tongkat, meskipun baru satu yang dioperasi, Bu Naimah sudah bisa melihat wajah cantik Raisya serta ketampanan Devan dengan jelas.
"Alhamdulillah, Bu. Aku baik, maaf ya semalam ibu harus tidur dengan Susan sendirian di rumah." Raisya merasa bersalah karena ketidak hati-hatiannya harus meninggalkan Bu Naimah dan Susan.
"Tidak apa apa, Bu. Saya khawatir terjadi sesuatu dengan ibu, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa."
"Kaki Bo Dokter kenapa, Om?" tanya Susan penasaran.
Devan menatap Susan dan mengulas senyum.
"Kaki bu dokter terluka, Sayang, dan untuk beberapa hari ke depan bu dokter tidak boleh berjalan dulu," jelas Devan dengan lembut.
"Om, aku ingin melihatnya," rengek Susan.
Perlahan Devan menyibak selimutnya, hingga kaki selonjoran yang dibalut perban itu nampak dengan jelas.
Bu Naimah mengernyit saat melihat kaki Raisya sedikit membengkak. Balutan bahan itu mengingatkannya akan sesuatu.
"Seperti kakiku waktu itu ya, Bu."
Deg
Seketika Devan menarik selimutnya hingga menutupi kaki Raisya keseluruhan. Ia tak mau Raisya mengawali paginya dengan sebuah drama yang akan menguras air mata.
"Memangnya kaki Susan kenapa?" tanya Raisya.
"Sayang, sepertinya matahari sudah mulai terbit, kita ke taman yuk!" Devan mengalihkan pembicaraan yang seketika membuat Susan bersorak.
Apa kaki Bu Raisya patah? terka Bu Naimah dalam hati.
Devan mengambil kursi Roda yang sudah disiapkan, lalu membantu Raisya melepas mukenanya dan merapikan hijabnya, dengan penuh hati-hati Devan mengangkat tubuh Raisya dan memindahkannya di kursi tersebut dengan pelan.
"Apa kursinya nyaman?" Untuk yang kedua kali Devan menyela Susan yang sudah membuka mulutnya.
"Nyaman kok," jawab Raisya pelan, ia terus mencerna ucapan Susan yang baru saja meluncur hingga tak terasa kursi yang di dorong Devan itu tiba di taman.
__ADS_1
Benar saja, sinar mentari yang menyoroti mulai menghangatkan. Banyak pasien yang menghabiskan paginya di sana. Seperti Raisya, mereka pun ditemani keluarga masing-masing.
"Kakak…" Suara familiar itu terdengar jelas dari arah samping. Seketika Raisya menoleh menatap wanita yang berbaju khas itu berdiri tak jauh darinya.
"Syakila."
Raisya terkejut, panggilan yang beberapa hari tak ia dengar, kini kembali menghiasi telinganya, hatinya berseri-seri hingga melupakan tubuhnya yang terasa sakit.
Syakila menghampiri Raisya dan berlutut di depannya, cairan bening mulai bercucuran membasahi pipi wanita itu.
"Kak, aku minta maaf. Aku yang sudah membuat kakak seperti ini, aku yang membuat kakak kecelakaan, aku bodoh," ucap Syakila penuh penyesalan. Ia terus merutuki sikapnya yang sudah membuat Raisya kacau.
Kini Kakak beradik itu tenggelam dalam penyesalan yang sangat dalam, terlebih Devan.
Raisya ikut berkaca dan menggenggam tangan Syakila.
"Jangan bilang seperti itu lagi, ini murni kecerobohanku, seandainya aku lebih berhati-hati, pasti semua ini tidak akan terjadi."
"Apa aku boleh memeluk, Kakak?" tanya Syakila ragu. Takut Raisya membalas perlakuannya beberapa hari yang lalu.
Raisya mengangguk diiringi dengan senyuman.
Alhamdulillah, akhirnya mereka akur lagi.
Dari jauh, Bunda merasa bahagia bisa melihat anak-anaknya rukun kembali.
"Fif, kamu baru datang?" tanya ayah Mahesa.
Afif hanya tersenyum simpul, ia malu karena sudah terlambat lima menit gara-gara menunggu Syakila memasak.
Bunda menatap makanan yang ada di tangan Afif. Itu makanan yang sangat ia hafal, dari warna dan segi tampilannya pasti orangnya tak asing lagi.
"Itu Syakila sendiri yang masak?"
Afif mengangguk, "Kata Syakila, selama kak Raisya dalam masa pemulihan harus makan masakannya."
Bunda dan ayah kagum dengan putrinya yang kini mulai perhatian dengan saudaranya.
"Ya sudah, kamu bawa saja ke sana, bunda dan ayah pergi dulu. Nanti siang kalau kalian sudah bekerja, Bunda yang akan menamani Raisya."
Sudah tiga hari Afif dan Syakila pindah ke rumah barunya, dan itu yang membuat ayah Mahesa dan bunda Sabrina kini tak bisa lagi leluasa mengetahui aktivitas mereka.
"Pagi semua," sapa Afif dengan wajah cerianya.
"Kamu bawa apa?" tanya Devan, matanya tertuju pada ikan salmon panggang kesukaannya.
Syakila berdiri dan mengambil makanan yang ada di tangan Afif.
__ADS_1
"Ini spesial untuk kak Raisya, aku masak sendiri lo, Kak."
Raisya tersanjung.
Aroma yang menggoda mulai menyeruak menembus rongga hidung Devan, kini perutnya sudah mulai keroncongan saat Syakila menyendok makanannya.
"Sekarang kakak harus makan."
Syakila menyodorkan sendok yang sudah diisi makanan itu tepat di depan mulut Raisya.
"Aku bisa makan sendiri, La. Malu sama Susan,'' ucap Raisya malu-malu.
"Ayolah Kak, sekali-kali aku yang menyuapi."
Bu Naimah ikut terharu melihat keakraban mereka berdua.
Terpaksa Raisya membuka mulutnya, ia malas jika harus berdebat dengan saudaranya sendiri.
Di tengah-tengah candanya Raisya, seseorang pun sedang termenung meratapi nasibnya, meskipun dikelilingi keluarga, hatinya terus merasa hampa saat orang yang dicintainya kini tak bisa lagi di sisinya.
Dia adalah Alisa yang ada di sudut taman, dengan jelas ia bisa melihat Devan itu terus mengelus pipi Raisya di depan semua orang.
"Ayah, nanti kalau mama ke sini, aku ingin kembali ke Turki," ucap Alisa gemetar.
Om Andre merangkul pundak Alisa dari belakang.
"Di manapun kamu berada, ayah tidak mempermasalahkannya, hanya satu yang ayah minta, lupakan Devan," tegas om Andre.
Tapi ini masalah hati, Yah. aku belum bisa melupakan dia, setiap aku mencoba hati aku merasa sakit.
Tiba-tiba Alisa terisak di pelukan tante Aida. Disaat hatinya rapuh setidaknya masih ada yang menyayanginya.
"Kamu pasti bisa, mama yakin kamu akan mendapatkan laki laki yang baik seperti Devan."
"Stop, La!" Raisya menghentikan Syakila yang hampir saja menyendok makanan saat melihat Alisa menangis di pelukan tante Aida.
"Kak, aku izinkan kakak merawat Alisa sampai sembuh," ucap Raisya yang membuat semua orang termangu.
Devan yang dari tadi ada di belakang Raisya itu ikut berlutut dan menatap wajah istrinya dengan lekat.
"Apa maksud kamu?" tanya Devan antusias, ia benar-benar tak mengerti jalan pikiran Raisya saat ini.
"Aku tidak mau egois, Kak. Aku tidak mau bahagia di atas penderitaan orang lain, rawatlah Alisa, aku ikhlas kakak membagi waktu antara aku dan dia," tegas Raisya.
Sebab, Aku tahu kalau cinta akan kembali pada tuannya.
__ADS_1