Pelangi Senja

Pelangi Senja
Minta jamu


__ADS_3

"Kakak, ikut ayah sebentar!"


Ayah berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Meskipun sebenarnya ingin bertanya tentang keputusan sang ayah, Devan mengurungkan niatnya mengingat saat ini ada kebahagiaan yang jauh lebih besar.


Tak menunggu waktu lagi, Devan mengikuti ayah dari belakang. Setidaknya menghargai panggilan ayah Mahesa.


Setibanya di kamar utama, Devan duduk di tepi ranjang, menatap punggung ayah yang mematung di depan jendela. Mentari pagi menyorot hingga membuat mata ayah silau dan menutup tirainya kembali. Masih memunggungi Devan, Ayah menghela napas panjang lalu menghembuskannya pelan.


"Ada apa, Yah?" tanya Devan mengawali pembicaraan.


Ayah membalikkan tubuhnya dan bersandar di dinding, memasukkan kedua tangannya di saku celana dan menatap Devan dengan lekat.


"Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa ayah menyetujui hubungan Daffi dan Alara?" Seperti bisa membaca bahasa kalbu Devan, pertanyaan ayah sangat tepat. 


"Sebenarnya iya, tapi tidak usah dibahas lagi, itu hanya masa lalu. Sekarang aku dan Raisya sudah bahagia, jadi ayah tidak perlu khawatir kalau aku akan menuntut."


Mata Ayah berkaca dan merentangkan tangannya, menyambut putra sulungnya untuk memeluknya. Betapa lapang hati Devan hingga terkadang membuat Ayah menyesal tiada ujung.


Devan menghampiri ayah dan memeluknya dengan erat. Tak ada lagi jarak di antara mereka, Devan tak pernah memperdulikan kesalahan Ayah yang pernah dilakukan di masa lampau.


"Ayah tenang saja, apapun keputusan Ayah, tetap yang terbaik untuk semuanya. Aku pernah protes dengan sikap ayah padaku, aku tidak terima saat ayah menyuruhku menikahi orang yang tidak aku cintai, tapi sekarang aku mengerti, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya."


Devan menjeda ucapannya sejenak untuk menarik napas, masih dengan posisi memeluk sang ayah.


"Bunda dan ayah adalah orang tua yang terbaik, bisa mendidik aku dan adik-adik tanpa mengeluh. Tanpa kalian aku tidak akan bisa seperti ini. Tanpa Ayah dan bunda aku tidak akan bisa menjadi Devan yang bertanggung jawab. Terima kasih ayah, dan jangan pernah menyesal karena sudah merawat dan membesarkan aku, dan jangan pernah mengungkit dengan apa yang terjadi."


Ayah Mahesa tergugu, ia tak sanggup membendung air matanya, tak menyangka  anaknya sangat bijak menyikapi semuanya. Kini Devan menjadi pribadi yang lebih dewasa dan peka dengan keputusannya.


"Sekarang ayah jangan sedih lagi, aku dan Raisya sudah bahagia, aku tidak akan mengingat masalah itu lagi."


Ayah menepuk punggung Devan berulang kali lalu merenggangkan pelukannya.


"Jadilah suami yang terbaik untuk Raisya, jaga dia seperti bunda Arum yang pernah menjagamu saat bunda koma, jadilah pelindungnya seperti yang dilakukan ayah Rindu padamu."

__ADS_1


Devan hanya menganggukkan kepalanya, tanpa disuruh pun ia ingin menjadi segala-galanya bagi istrinya.


Devan dan ayah keluar dari kamar dengan hati yang lega, akhirnya persetujuan ayah tak membuat Devan marah.


Ucapan selamat bertubi-tubi diterima Daffa dan Daffi, sejak saat ini mereka dinobatkan sudah mempunyai calon istri.


Devan menghampiri Raisya yang duduk di sebelah Syakila, sesekali istrinya itu mengelus perut adik iparnya yang sudah mulai membuncit.


"Sayang, kita pulang," ajak Devan.


"Nggak bareng kita sekalian?" tutur mama Aya yang juga sudah bersiap pulang.


"Terserah mama saja, enaknya gimana?" Mendengar suara mama mertuanya, Devan mengingat jamu yang pernah ia minum kemarin. Jamu yang membuat malamnya menjadi malam yang spesial. Devan bisa merasakan reaksi jamu itu sangat luar biasa dan membuatnya liar.


"Kita pulang bareng, mama mau ikut ke rumah kalian, sekalian jenguk Susan."


Raisya pamit pada bunda dan ayah, setelah itu adik-adik Devan, termasuk si kembar yang terus cengengesan.


Saat berada di halaman, Devan memanggil mama Aya yang hampir saja masuk ke mobil. 


"Ada apa, Van?" tanya mama Aya serius. 


Devan tersenyum malu lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jantungnya berirama lebih cepat, sebenarnya enggan untuk bicara, namun ia ingin mengulang malam itu lagi.


"Mama bisa nggak buatin aku jamu lagi!"


Mata Ayah Randu terbelalak dan menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana bisa menantunya itu meniru jejaknya yang ketagihan dengan jamu ala mama Aya.


"Memangnya kamu pernah minum jamu yang dikasih mama?" tanya ayah Randu yang membuat David tertawa menggelitik.


"Pernah," jawab Devan, ekor matanya melirik David yang terus tertawa.


"Memangnya kenapa?" ucap mama Aya dengan sinis, "jangan dengerin ayah, tenang saja, nanti mama buatkan. Jamu itu turun temurun dari nenek moyang mama dan cospleng untuk membuat Devan junior," jelas mama Aya dengan lantang. 

__ADS_1


"Ayah pikir Airin dan Nanda itu tanpa __" 


Seketika ayah Randu membungkam mulut mama Aya, takut keceplosan dengan adegan mereka berdua waktu masih pengantin baru, yang menurut ayah sangat memalukan. Bagaimana tidak, sampai sekarang pun mama Aya masih ingat kejadian itu dan sering menertawakan ayah.


Ayah Randu membuka pintu mobil, mendorong mama Aya masuk, setelah itu ayah membuka kaca dan melambaikan tangannya ke arah Devan yang masih mematung di tempat. 


"Hati hati, jangan ngebut," teriak mama Aya saat David mulai melajukan mobilnya menuju gerbang.


Devan masuk ke mobil dengan wajah yang berseri-seri, entah apa yang dibicarakan dengan mama Aya yang artinya membuat Raisya penasaran. 


"Kakak dan mama bicara apa?" tanya Raisya menyelidik. Tak biasanya, Raisya melihat mama dan suaminya bicara dengan nada serius seperti tadi.


Devan tersenyum dan menyalakan mesinnya. Menatap Airin yang duduk di jok belakang dari pantulan spion yang menggantung.


"Tidak ada apa-apa, tenang saja," jawab Devan santai.


"Ayolah kak, kita baru bertemu, masa kakak mau main rahasia-rahasiaan sama aku." Tanpa sengaja Raisya mencubit pinggang Devan yang membuat sesuatu di bawah sana mulai terusik.


"Sayang, jangan mulai deh, nanti kalau aku pingin gimana, ini masih pagi."


Raisya menoleh ke belakang menatap Airin yang sibuk dengan ponselnya.


"Malam ini libur ya, Kak. Aku masih capek." Raisya memasang wajah memelas. Namun, itu tak menyurutkan keinginan Devan yang masih saja memuncak.


"Tidak bisa, pokoknya nggak ada kata libur kecuali datang bulan, oke," ucap Devan menjelaskan.


"Rin, kamu beneran mau sama Daffa?" tanya Devan mengalihkan pembicaraan.


Airin mengangkat kedua bahunya.


"Kak Daffa itu suka bercanda, Kak. Jadi untuk apa di dengerin, sekarang bilang merah, besok lagi hijau dan seterusnya, jadi aku tidak terlalu menanggapinya dengan serius."


Devan mengangkat satu jempolnya, ternyata adik iparnya sangat cerdik menghadapi playboy cap kelinci.

__ADS_1


"Tapi, seandainya Daffa serius gimana?" imbuh Raisya.


"Aku ingin seperti kakak, nurut sama orang tua, karena memilih sendiri pun belum tentu mendapatkan orang baik, dan aku yakin ayah dan mama memilihkan yang terbaik untuk aku."


__ADS_2