
Naimah mengelus perut rata Raisya yang masih rata, ia mengantar calon kakak iparnya yang akan berangkat ke rumah sakit itu hingga ke depan. Keduanya berjalan bersejajar melewati pintu utama dan mematung di teras, menunggu Devan yang belum kelar. Pagi ini Susan belum bangun karena semalam tidurnya telat.
"Kamu baik-baik di rumah, jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja, nanti David marah." Raisya menepuk lengan Naimah, pagi ini wanita itu tampak cantik dengan balutan make up natural dengan dres warna hijau botol serta hijab yang senada.
"Aku lama, ya?" Devan keluar dengan buru-buru, bahkan rambutnya masih sedikit acak-acakan serta dasi yang melenceng.
"Ya ampun, Kak. Kamu nggak menyisir rambut?" Menyugar rambut suaminya hingga rapi.
Hehehe
Devan hanya tertawa dan mengecek isi tas yang dibawanya. Untuk saat ini ia tak pernah mempedulikan penampilan, karena terlalu sibuk dengan Raisya dan kantor.
Seperti yang dilakukan sebelumnya, Devan membukakan pintu untuk Raisya sebelum dirinya masuk di tempat kemudi.
"Da….da… Kak," mereka saling melambaikan tangan ke arah Naimah yang tersenyum. Begitu juga sebaliknya, dan lambaian tangan itu semakin melemah saat Devan mulai melajukan mobilnya ke arah gerbang.
Setelah mobil Devan menghilang di ujung jalan, Naimah masuk ke dalam, ia berlari kecil menuju kamarnya.
Dilihatnya Susan sudah duduk di tepi ranjang. wajahnya masih kusut dengan tatapan kosong.
''Sekarang Susan mandi, kita langsung pulang," ucap Naimah seraya melepas baju putrinya.
"Tapi Susan belum pamit sama Om, tante dan ayah."
Naimah meletakkan baju kotor Susan di keranjang lalu kembali menghampiri Susan dan menangkup kedua pipinya.
"Maafkan ibu, untuk saat ini kita tidak bisa pamit secara langsung, tapi ibu sudah menulis surat untuk mereka," kata Naimah dengan lembut.
Akhirnya Susan turun dari ranjang dan ke kamar mandi.
Hampir lima belas menit, Susan dan Naimah keluar dari kamarnya. Mereka berjalan mengendap-endap menuju pintu utama.
Selamat tinggal semuanya, selamat tinggal Mas David, pasti aku akan merindukan kalian. Maafkan aku karena tidak bisa menepati janji.
Naimah mengusap satu buliran bening yang sempat lolos membasahi pipinya lalu melanjutkan langkahnya.
Alhamdulillah, kayaknya bibi nggak lihat.
__ADS_1
Naimah mengelus dadanya saat ia berada di luar gerbang. Ia meraih tubuh mungil Susan dan menggendongnya. Pagi itu sangat redup, seredup hati Susan yang akan berpisah dengan orang-orang yang disayanginya.
Apa aku tidak akan bertemu ayah David lagi, seperti ayahku dulu, itulah isi hati Susan yang saat ini menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu. Sepasang bola matanya terus menatap rumah Raisya yang nampak semakin jauh.
Maafkan ibu, Nak. Ibu hanya bisa berdoa, semoga suatu saat kamu bisa mendapatkan kebahagiaan tanpa ada olokan dari orang lain.
Dengan jalan yang terseyok-seyok, akhirnya Naimah tiba di sebuah pangkalan angkut. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang, itu bukan dari Raisya ataupun David, akan tetapi itu adalah uang yang ia bawa dari rumah sebelum bertemu dengan Raisya.
Naimah duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu. Ia menatap ke arah kiri kanan jalan berharap ada kendaraan yang datang.
"Bu, aku lapar," rengek Susan yang masih ada di pangkuannya.
"Nanti ibu belikan di warungnya Bu Min."
Susan mengangguk senang. Selain tahu dan tempe seperti yang dibeli ibunya setiap hari, di sana juga ada ayam goreng kesukaan Susan, dan ia berharap nanti ibunya membelikan makanan itu seperti yang di makan di rumah Raisya.
Hampir dua puluh menit, akhirnya ada sebuah angkut yang berwarna biru berhenti di depannya. Naimah segera beranjak dan masuk.
"Pak ke jalan manggis," ucap Naimah seraya membayar pada pak sopir.
***
"Wah, kelihatannya kamu seneng banget," goda ayah yang baru tiba.
David mematikan ponselnya, ia nampak gugup saat melihat tubuh tegap ayahnya sudah berada di belakangnya. Entah, sejak kapan datangnya, David pun tak tahu.
David mengelus tengkuk lehernya, wajahnya sedikit merona saat ayahnya mengetahui tingkahnya.
"Ada apa?" tanya ayah Randu yang ikut duduk di sampingnya. Meskipun sempat melihat foto Naimah yang ada di layar walpaper, setidaknya ayah ingin tahu sendiri dari David.
"Nanti malam ulang tahun Naimag yang ke dua puluh enam. Rencananya aku ingin memberi kejutan untuk dia. Aku ingin mengatakan tanggal pernikahan kami. Menurut ayah gimana?"
Ayah termangu, tak menyangka jika putranya sudah semakin dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri tanpa dirinya.
"Ide bagus, apapun yang menurut kamu baik, ayah akan mendukung. Asalkan di jalan yang lurus."
Mama Aya datang membawa dua cangkir kopi hitam sesuai request suaminya.
__ADS_1
"Kakak nggak kerja?"
David menggeleng, bibirnya masih mengulas senyum tipis. Otaknya merancang untuk persiapan nanti malam. Ia ingin malam itu menjadi saksi bisu akan cintanya untuk Naimah.
"Hari ini dia sibuk, Ma. Mau merayakan ulang tahun calon istrinya."
Mama manggut-manggut mengerti.
"Mama punya ide."
Ayah Randu dan David beralih menatap mama Aya dengan lekat.
"Apa?" tanya David dan ayah Randu bersamaan.
"Seharian ini kamu jangan hubungi dan jangan temui Naimah, jika dia yang telepon kamu duluan, jangan diangkat. Istilahnya pura-pura cuek, pasti dia akan bertanya-tanya. Ada apa dengan mas David? Apa dia marah padaku dan bla bla bla," ucap mama Aya menjelaskan.
"Ide bagus tu ma, kenapa ayah nggak pernah pakai ide itu kalau mau merayakan ulang tahun mama? Tapi nanti ayah janji akan menggunakan ide itu kalau nggak lupa."
Mama Aya berkacak pinggang dan mendekatkan wajahnya di pipi ayah Randu.
"Ayah ingin tahu kenapa ayah nggak pernah punya ide cemerlang?" tanya mama Aya dengan suara pelan, tapi itu malah membuat Ayah Randu menciut, tapi tetap mengangguk pelan, karena ingin tahu kekurangannya selama ini.
"Itu karena ayah nggak peka."
Ayah Randu menunduk, ia sangat malu saat David menertawakannya.
"Mana ada Ayah mengistimewakan mama, bahkan ulang tahun mama pun ayah nggak pernah ingat kalau mama nggak pancing duluan," ucap mama Aya ketus.
"Maaf," ucap Ayah Randu.
David menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat ayahnya yang merasa terpojok, ia juga kasihan dan akhirnya memilih pergi.
Setelah tubuh David menghilang di balik tembok, Ayah meraih tubuh mama Aya dan membawa ke pangkuannya.
"Meskipun ayah sering lupa hari ulang tahun mama, ayah masih aktif membuat mama melayang, kan?"
Kali ini gantian wajah mama Aya yang merah merona karena malu.
__ADS_1
Untung David sudah pergi, kalau belum, pasti dia akan mengejekku setiap hari.