
Setelah bergulat dengan bumbu dapur, Naimah merebus air sembari menunggu Adzan Subuh. Semalaman penuh ia berjaga, jika setelah Isya' sampai jam satu disibukkan dengan tamu dan pernikahannya, jam selanjutnya ia harus nenemani David yang tak bisa tidur karena tempatnya yang gak memadai. Namun, akhirnya David bisa memejamkan mata setelah mendengar cerita tentang masa kecil Naimah yang juga tidak dibesarkan orang tua, melainkan sang bibi yang kini sudah meninggal.
"Mas David sudah bangun apa belum, ya?" Bertanya pada diri sendiri.
Naimah melepas sandal. Ia berjalan mengendap-endap, takut mengusik David yang baru tidur satu jam yang lalu. Senyum mengembang di bibirnya saat melihat suaminya yang masih terlelap dengan selimut tipis yang membalut sebagian tubuhnya.
Engh
Suara lenguhan David membuat Naimah terkejut, ia yang hampir saja kembali ke dapur terpaksa memutar tubuhnya menghampiri pria itu dan mengusap keningnya yang tertutup rambut.
Ini tangan siapa, begitulah pertanyaan David dalam hati.
David membiarkan tangan itu terus mengusap wajahnya, ia sengaja tak membuka mata dan mengumpulkan nyawanya yang tercecer. Setelah kesadarannya kembali penuh, David hanya bisa tersenyum tipis.
Awww
David meringis dengan mata yang terpejam. Naimah panik, sontak wanita itu meraih tangan David dan menggenggamnya erat.
"Mana yang sakit, Mas?" tanya Naimah berbisik. Ia merasa bersalah tidak bisa memberikan tempat yang nyaman untuk suaminya.
David memegang punggungnya dan memiringkan tubuhnya, memindahkan kepalanya dari bantal ke pangkuan Naimah hingga wajahnya tepat berada di depan perut Sang istri.
Aroma sabun menyeruak masuk ke rongga hidung membuat David merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.
Perlahan Naimah memijat punggung David, ia tidak sadar jika pria itu sudah membuka mata yang menatap wajahnya dari bawah. Tidak hanya itu, David melingkarkan tangannya di pinggang Naimah yang membuat sang empu terbelalak.
"Mijitnya pelan-pelan," protes David dengan suara serak.
"Ini sudah pelan, Mas. Kamu sudah bangun, ya?"
Hemmm…" jawab David tanpa ingin pindah posisi. Ia semakin mengeratkan tangannya hingga membuang jarak antara keduanya.
"Aku ingin seperti ini," ucap David dengan manja.
Naimah beralih mengelus lengan David, sedangkan yang satu tangannya masih aktif menekan punggungnya dengan lembut. Hingga beberapa menit, keduanya saling diam saat lantunan Adzan menggema.
David terbangun dan menyandarkan punggungnya di dinding. Naimah tetap duduk di sisinya, keduanya menatap ke arah yang sama dan saling menautkan kedua tangannya.
"Aku ambilin kopi dulu." Hampir saja beranjak, Naimah kembali jatuh di pangkuan David, pria itu sengaja menarik tubuhnya dan mendekapnya. Tanpa minta izin, David mencium kedua pipi Naimah bergantian lalu mengecup bibirnya sekilas.
Seketika wajah Naimah merona. Untuk menutupi rasa malu, Naimah pura-pura membenarkan hijabnya yang sedikit pun tak melenceng.
Meskipun sudah pernah menikah, Naimah tetap gugup, apalagi David nampak menahan sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.
"Mas, aku mau ambil kopi," ucap Naimah dengan bibir bergetar. Ia mencari alasan untuk bisa lepas dari David.
__ADS_1
David menatap pintu kamar Susan yang masih tertutup rapat, dan kembali mendaratkan ciuman lembut di bibir Naimah. Tiba-tiba dering ponsel membuyarkan David dan terpaksa melepas ciumannya.
Naimah meraih benda pipih yang ada disampingnya dan menyodorkannya di depan David. Ternyata itu pesan dari mama Aya yang memberitahukan jika bajunya ada di mobil.
David kembali meletakkan ponselnya dan fokus pada wajah istrinya.
"Siapa, Mas?" tanya Naimah.
"Mama Aya."
"Bentar ya, aku ambilin kopi."
Naimah beranjak dan meninggalkan David, sedangkan David langsung keluar berjalan ke arah mobilnya.
Baru saja membuka bagasi, samar-samar David mendengar siulan dari arah jalan.
Langit masih gelap. Namun, David bisa melihat sekitar dengan jelas, termasuk pagar kayu rumah Naimah.
David menoleh ke arah sumber suara. Ternyata ada gadis cantik dengan rambut panjang melambaikan tangan ke arahnya, tak ketinggalan memakai baju seksi yang sangat menggoda.
David memalingkan pandangannya dan mengambil bajunya, tanpa menutup bagasi, ia berlari masuk dan menutup pintu.
"Ada apa, Mas?" tanya Naimah yang baru keluar dari dapur dengan secangkir kopi di tangannya.
"Ada kuntilanak di depan," ucap David.
"Aku sudah hidup di sini selama lima tahun lebih, nggak pernah ada kuntilanak."
David menggeser tubuhnya, memberi jalan Naimah untuk membuka pintu.
"Jangan keluar, nanti kalau kamu ditangkap gimana?"
Naimah menangkup kedua pipi David.
"Nggak ada kuntilanak, percaya sama aku."
Naimah keluar, ia tak menghiraukan David yang mencegahnya.
David mengikutinya dari belakang dan menutup bagasi nya setelah mengambil beberapa kotak kue.
"Mana?" tanya Naimah mengedarkan pandangannya ke arah semak-semak.
"Di sana." David menunjuk gadis yang masih mematung di jalan.
Naimah tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ngapain di situ mbak?" tanya Naimah dengan suara lantang tapi tetap halus.
Tak menjawab, gadis itu malah pergi.
"Wah, dia takut sama kamu," ucap David lega.
"Bukan takut, mungkin dia sungkan karena kamu sudah ada yang punya."
"Maksud kamu?" tanya David antusias.
"Namanya mbak Mumun, kata orang-orang sih dia pekerja malam dan suka godain suami orang, tapi aku nggak tahu juga itu benar apa tidak, karena aku nggak pernah berkumpul sama warga sini," jelas Naimah.
"Bajunya seksi ya, Mas?"
"Iya, tapi malah bikin jijik dan mual," jawab David.
Naimah memutar bola matanya lalu membalikkan tubuhnya dan menghadap David.
"Tapi gimana kalau aku yang pakai?"
"Beneran?"
Naimah mengangguk cepat.
Sebuah kecupan kembali mendarat di pipi Naimah.
"Nanti aku borong baju seksi untuk kamu, dan pakai nya hanya boleh di dalam kamar kita."
"Siap, Bos. Apapun yang Mas minta pasti aku penuhi. Insya Allah," lanjut keduanya.
David masuk dan kembali duduk menikmati kopinya bersama Naimah. Ini pertama kali ia berbagi dengan wanita. Jika biasanya mama Aya yang melayaninya setiap pagi, kini dengan seseorang yang disebut dengan istri, dan itu sangat spesial.
David meraih ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.
Ma, aku nitip Susan ya, jemput di rumah.
Mama Aya yang ada di seberang sana pun langsung membalas chat dari David.
Tenang sayang, Mama akan ajak Susan tinggal di sini supaya kami dan Naimah bisa bebas.
Mama Aya memang bisa diandalkan.
"Mas, sekarang mas mandi dulu, aku sudah siapkan air hangat, setelah itu kita sholat berjamaah."
"Di sini ada shower?" tanya David, pasalnya semenjak datang ia belum ke kamar mandi sekali pun.
__ADS_1
Naimah menggeleng, "Pakai air rebusan dari kompor, dan aku sudah siapkan, Mas tinggal mandi."
David kembali memeluk Naimah, istri yang diidam-idamkan sudah didapatkan, dan ini adalah awal baginya merajut cinta dalam tujuan yang sama, membina rumah tangga yang bahagia dan mencari Ridho Allah untuk mencapai Surga bersama.