Pelangi Senja

Pelangi Senja
Ungkapan Raisya


__ADS_3

Syakila masih berada di kamar bersama Raisya. Setelah dirias, gadis itu enggan untuk turun, takut kalau si kembar terus menggodanya. Parasnya cantik bak bidadari tak bersayap, waktu yang ditunggu itu tiba, namun Syakila semakin gugup saat mendapat pesan dari afif yang sudah tiba di kotanya.


Syakila yang berada di depan cermin itu menoleh, menatap Raisya yang duduk di tepi ranjang, wanita yang juga mulai mendapatkan cinta dari suaminya itu pun sibuk dengan ponselnya sembari tersenyum kecil. 


"Kakak lagi chat an sama siapa?" tanya Syakila penasaran, sembari menatap layar ponsel kakak iparnya.


"Siapa lagi kalau bukan kakakmu. Seorang wanita jika sudah bersuami, tidak boleh bermain-main dengan pria lain, meskipun masalah penting harus mendapat izin dari suaminya," tutur Raisya.


Meskipun awalnya harus dipenuhi drama, kini Raisya bahagia bisa menempati ruang hati Devan sepenuhnya, ia tak pernah menyesal dengan apa yang terjadi dan menganggap itu semua adalah ujian menuju kebahagiaan.


"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri? Apa kamu yakin dengan mas Afif?" tanya Raisya.


Syakila menundukkan kepalanya dan menautkan sepuluh jarinya. Ia teringat dengan kasus yang menimpa Devan, bahkan dengan sangat dramatis hingga pria itu diwajibkan menerima perjodohan. Ia tak mau semua itu terjadi padanya.


"Yakin, Kak. Semalam aku sholat istikharah, dan setelah itu aku semakin yakin kalau mas Afif adalah jodohku."


Raisya merangkul pundak Syakila dan saling menyandarkan kepalanya. 


"Kita berbeda, kamu lebih beruntung daripada aku." Wajah ceria Raisya seketika lenyap saat mengingat awal ia harus putus dari Afif.


"Aku dan Kak Devan dijodohkan, tapi sudahlah, sekarang aku sudah bahagia, dan masa lalu tidak usah diungkit."


Raisya mengalihkan pembicaraan, ia tak mau mengingat masa itu, di mana jarang orang yang mau bertahan dengan sikap suaminya, dan kini ia hanya bisa bersyukur karena mampu membalikkan keadaan.


"Sayang, ternyata kamu masih di sini." Devan masuk membawa sepotong kue di tangannya. Ia duduk di samping Raisya, mendorong kepala Syakila hingga tegak. 


Tanpa aba-aba Devan menyuapi istrinya dan Syakila bergantian.


Suara klakson mobil terdengar, Syakila beranjak dan membuka tirai jendela, ia menatap tiga mobil yang berhenti di depan rumahnya.


"Apa itu keluarga mas Afif?"  terka Syakila seraya menatap beberapa orang yang turun. 


Raisya dan Devan menyusul, mereka pun menatap satu persatu keluarga Afif.


Tante Ilma, Om Thoha, mbak Sisi, Mbak Alia, Mas Edo, bagaimana ini? Apa mas Afif sudah cerita tentang aku, kalau belum mereka pasti akan salah bicara. 


Kali ini Raisya yang diselimuti rasa takut.  Takut, jika semua akan menjadi salah paham dengan dirinya dan Afif. 

__ADS_1


"Kakak, temani aku turun!" Syakila menggoyang-goyangkan lengan Raisya.


Sedangkan Raisya menatap Devan dengan tatapan memohon, meskipun pria itu tidak tahu sepenuhnya maksud Raisya, ia lebih peka terhadap mata Raisya yang penuh dengan permintaan.


"Aku panggil Asyifa saja, biar dia yang menemani kamu."


Devan menggenggam tangan Raisya dan membawanya keluar dari kamar Syakila.


"Fa,  kamu temani kak Syakila turun, kak Raisya kurang enak badan."


Asyifa hanya mengangguk setuju.


"Kak.." cicit Raisya dengan bibir bergetar. 


Devan merengkuh tubuh Raisya dan mendekapnya. 


"Aku tidak tahu sejauh mana hubungan kamu dengan Afif, tapi aku tahu di antara kalian ada masa lalu yang mungkin sulit untuk dilupakan, lebih baik sekarang kita di kamar, nanti biar aku yang bicara dengan Afif."


Raisya mengikuti langkah suaminya menuju kamar, ia merasa bersalah karena sudah menyembunyikan tentang hubungannya dengan pria yang sebentar lagi menjadi adik iparnya.


"Daffa, nanti kalau bunda dan Ayah tanya, katakan aku di kamar."


"Ada apa dengan Kak Raisya, sepertinya dia bersedih," tanya Daffa.


Daffi hanya mengangkat kedua bahunya, mereka mulai turun dan menunjukkan pesonanya.


Di dalam kamar


"Kak, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Raisya dengan pelan.


Devan mengusap kepala Raisya dan duduk di sampingnya.


"Tentang apa?" Merangkul pundak Raisya dan menyandarkan kepala wanita itu di pundaknya.


"Ini tentang aku dan mas Afif," jawab Raisya dengan penuh keraguan.


Devan tertegun, ia menyinkronkan pikiran dan hatinya yang selalu saja berbeda. Selama ini ia hanya menerka dalam hati, tapi saat ini Raisya sendiri yang akan menjelaskan kepadanya.

__ADS_1


"Dulu kami pernah berteman sangat dekat. Mas Afif pernah mengenalkan aku pada keluarganya sebagai calon istri. Setelah itu aku bertekad menjalin hubungan dengan serius, kami berjanji akan menikah setelah umurku dua puluh lima tahun. Akan tetapi Allah berkata lain, sebelum itu terjadi, Ayah menjodohkanku dengan, Kakak." Raisya menitihkan air mata, ia tak sanggup membendung air matanya yang menumpuk di pelupuk.


Terdengar helaan napas panjang, Devan mencerna setiap kalimat yang meluncur dari bibir Raisya.


"Tapi percayalah kak, setelah kita menikah, aku sudah menghapus semuanya. Aku sudah tidak mencintainya lagi."


Raisya berusaha meyakinkan Devan. Apapun keputusan suaminya, Setidaknya saat ini ia sudah jujur. 


"Aku hanya akan mencintai suamiku, meskipun kita dijodohkan, aku menerima dengan ikhlas," imbuhnya.


Hati Devan perih bak disayat pisau, ia tak menyangka, di balik wajah ayu istrinya terdapat hatinya yang lembut dan bersinar.


Devan tak bisa berkata apapun, lidahnya terasa kelu dan tak sanggup untuk bicara. Ia menarik tubuh Raisya dan kembali mendekapnya.


"Tapi bagaimana jika Syakila sampai tahu?"


Raisya menggeleng. "Jangan sampai dia tahu, itu cuma masa lalu, dan sekarang yang ada hanya Devan dan Raisya. Syakila dan Afif."


Devan mengecup pucuk kepala Raisya berulang-ulang. 


"Baiklah, semoga semuanya baik-baik saja."


Maafkan aku, La. Saat ini adalah hari bahagia kamu, dan aku tidak akan merusaknya hanya karena masa yang sudah lewat.


"Kakak, dipanggil bunda." Bersamaan dengan teriakan Daffa dari luar, ponsel yang ada di genggaman Devan berdering. 


"Iya sebentar," sahut Devan seraya membuka ponselnya.


Ajak Raisya turun, jangan takut, aku sudah menceritakan semuanya pada keluargaku dan mereka sudah menerimanya dengan baik. 


Akhirnya senyum Raisya dan Devan mengembang setelah membaca pesan dari Afif.


Devan meraih tisu dan membersihkan sisa cairan bening yang membasahi pipi Raisya.


"Sekarang kita turun, bunda dan ayah pasti sudah menunggu."


Dari ujung tangga, Raisya sudah mulai mengulas senyum saat melihat keramaian di bawah, dan lagi-lagi keluarganya ikut andil dalam setiap acara yang digelar di rumah besar Mahesa Rahardjo. 

__ADS_1


Pertama kali Raisya memeluk ibu Afif yang duduk paling tepi. Setelah itu beralih ayah Afif dan saudara yang lain. Seperti yang dikatakan lewat pesan, mereka hanya bicara sewajarnya sebagai seorang tamu dan tuan rumah.


"Kamu sudah hamil apa belum? Kamu semakin cantik saja." Tante Ilma (Mama Afif) mengelus perut rata Raisya. Sontak itu menjadi pusat perhatian semua orang termasuk Syakila. 


__ADS_2