
Devan Membuka pintu depan. Ia berlari menghampiri Raisya yang ada di pelukan mama Aya.
"Kenapa kakak lama sekali," tegur Raisya, janji lima belas menit, namun sampai tiga puluh menit baru sampai. Itu membuat Raisya semakin kesal.
"Maaf sayang, tadi macet." Devan memberi sebuah kecupan lembut di kening Raisya.
"Jangan bohong!" Raisya merebut kantong kresek yang menggantung di tangan Devan, ia membukanya dan langsung menggigit mangganya.
"Kok nggak sabar si, ada getahnya nanti bibir kamu gatal." Devan duduk dan meraih tisu. Ia membersihkan bibir Raisya.
Mama Aya langsung ke belakang mengambil pisau dan mencuci beberapa mangga yang masih utuh.
"Salah siapa lama, anak kita kan sudah nangis," ucap Raisya manja.
"Iya, aku minta maaf, mana David dan ayah?" tanya Devan mengedarkan pandangannya ke arah ruang tengah.
"Mereka mengurus persiapan pernikahan David. Kata ayah Mahesa disuruh nikah sekalian, biar Naimah nggak bisa kabur lagi."
Devan menjentikkan jarinya, "Ide bagus Itu, Ma. Tapi di mana nikahnya?" tanya Devan.
Mama Aya kembali membawa mangga yang sudah dikupas dan siap makan.
"Di rumah Naimah, untuk malam ini David akan tidur di sana, besok mau ziarah ke makam suami Naimah, setelah itu ke makam bunda Arum dan yang lain."
"Siapa saja yang ikut?" Devan menyuapi Raisya sepotong mangga.
"Ayah kalian berdua, si kembar, penghulu, Nanda, dokter Agung, Bunda Sesil dan Bunda Sabrina, kalau mama bertugas menjaga Raisya karena hamil muda, kasihan kalau terkena udara malam. Afif juga nggak ikut, dia nemenin Syakila di rumah."
Devan manggut-manggut mengerti dan langsung nyengir setelah merasakan asamnya buah yang ia cicipi.
"Kak, ini tadi beli di toko dekat rumah sakit, kan?"
"Iya, tapi ibunya gak mau di kasih duit."
Raisya menghentikan kunyahannya dan menatap Devan dengan lekat.
"Bu Hasna memang seperti itu, aku kira kalau kakak yang beli mau, tapi ternyata sama."
"Dia juga nitip salam ke kamu, semoga kamu dan bayi kita sehat."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam semakin larut, setelah sholat Isya, Naimah membaringkan tubuhnya di samping Susan. Ia tak bisa memejamkan mata memikirkan keluarga Raisya. Ia terus menatap pijar yang menyala di dinding. Beralih lemari yang terbuat dari kayu lalu langit-langit kamarnya yang sudah lapuk.
Besok aku harus cari kerja, mungkin di kedai depan ada yang butuh pembantu.
Naimah memiringkan tubuhnya dan merengkuh tubuh mungil Susan, memberikan kehangatan untuk bocah itu.
__ADS_1
Naimah memejamkan mata saat rasa kantuk itu mulai menyerang. Namun, matanya kembali terbuka saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya.
Naimah menarik selimutnya dan semakin mengeratkan pelukannya, ia mendekap Susan dan kembali memejamkan matanya.
Ya Allah, lindungilah aku dan anakku, doa Naimah dalam hati.
"Assalamualaikum…. "
Setelah suara mobil itu berhenti, kini beralih suara salam yang menggema. Naimah hanya menjawab dalam hati tanpa ingin turun, dadanya bergemuruh, jantungnya berirama lebih cepat, selama tinggal di rumah itu, ini pertama kali ada orang yang datang ke rumahnya di waktu malam.
Suara salam kembali menggema untuk yang kedua kali, terpaksa Naimah turun dari ranjangnya. Ia merapikan hijabnya dan mengambil sapu yang ada di depan pintu kamarnya.
Terdengar suara berisik dari teras rumahnya, ia berjalan mengendap-endap mendekati jendela depan.
Jika benar yang datang itu perampok, berarti mereka buta. Apa yang mau di ambil dari rumah jelek seperti ini, barang berharga pun tak ada.
Sebelum membuka tirai jendela, Naimah menatap barang-barangnya yang sudah rusak.
Tidak ada suara salam lagi, tapi suara-suara orang bercakap itu masih menghiasi telinganya sehingga Naimah membuka tirai dengan pelan, satu tangannya memegang gagang sapu dan waspada.
Pertama kali Naimah menatap tiga mobil yang berjejer rapi di halaman. Setelah itu ia menatap David yang berdiri tepat di depan jendela.
Itu kan mas David, dari mana dia tahu rumahku, lalu apa tujuannya datang ke sini, kenapa bawa orang banyak.
Naimah menatap ke arah ruang tamu, kursi di sana tak layak di duduki, namun ia masih punya beberapa kursi plastik yang berwarna biru.
Naimah berlari ke belakang dan mengambil kursinya, ia tak mengindahkan suara ketukan yang terus memberondong.
Naimah melempar sapunya lalu membuka pintu.
Berapa terkejutnya saat ia melihat beberapa orang yang berdiri di sana.
"Bunda, Mas David, Ayah." Mulut Naimah terkunci, ia tak bisa bertanya apapun saat melihat ayah Mahesa dan ayah Randu serta yang lain.
Bunda Sabrina dan Bunda Sesil memeluk Naimah bergantian dan menanyakan kabarnya.
"Kakak tidak mempersilahkan kami masuk?" Kakiku gatal digigit nyamuk," keluh Daffa sambil menggaruk tangannya yang mulai memerah.
"I…iya silahkan masuk." Naimah menggeser tubuhnya memberi jalan semuanya.
Mata David menyapu ruangan depan, lalu menatap pintu kamar yang terbuat dari triplek.
"Sebentar, saya ambilkan minum."
"Tidak usah," tukas ayah Mahesa, ia pindah ke kursi sebelah dan memberikan tempat untuk si kembar.
David hanya bisa berdiri di sisi Naimah karena sudah tidak ada tempat lagi.
__ADS_1
"Susan mana?" tanya David.
"Dia tidur di kamar, Mas."
"Yang itu?" David menunjuk pintu yang ada di belakang Naimah.
Naimah mengangguk tanpa suara.
David membuka pintu kamar yang berbunyi
Kreeekkkk
Si kembar menahan tawa, ia tidak mau Naimah tersinggung.
Bunda terus melotot memberi kode pada kedua putranya untuk menjaga sikap.
David menghampiri ranjang dan duduk di tepi, ia mengusap kening Susan lalu menciumnya.
"Besok kamu akan tinggal di rumah yang lebih layak," ucapnya pelan.
Naimah bingung dan memilih masuk mengikuti David.
"Mas, yang duduk di pojok itu siapa? Saudara kamu juga?" tanya Naimah mendekati David dan mematung di depannya.
David tersenyum, "Dia penghulu yang akan menikahkan kita."
Naimah tertawa, ia menarik kursi kecil milik Susan dan duduk di depan David.
"Jangan bercanda, Mas!"
"Aku tidak bercanda, ini serius. Malam ini kita akan menikah."
"A aku __"
Sssttt…. David mendaratkan jarinya di bibir.
"Tidak usah membantah dan bicara lagi, pokoknya malam ini kita menikah, dan besok kita akan tinggal di rumah sendiri, kamu jangan dengar omongan orang lain yang ingin mengusik hidup kita. Aku sudah tahu semuanya, sekarang kamu siap-siap!"
David keluar sebentar lalu masuk dan memberikan sebuah paper bag untuk Naimah.
"Pakai ini, malam ini kita hanya menikah, untuk merayakannya bulan depan."
Naimah menerimanya tanpa mengucapkan apapun, ia tak mungkin menolak lagi, jika ini yang kedua baginya, ini adalah yang pertama bagi David dan pasti akan dirayakan mengingat keluarga mereka yang sangat kaya raya.
Braaakkkk
Suara dari luar mengurungkan niat Naimah yang akan membuka hijabnya. Ia membuka pintu dan keluar.
__ADS_1
"Inna lillahi wainna ilaihi rojiun."
Naimah mendekati Daffa dan Daffi yang jatuh karena kursi yang di duduki runtuh.