Pelangi Senja

Pelangi Senja
Hukuman Fadhil


__ADS_3

4 tahun kemudian 


"Kakek… " seru bocah mungil dari ambang pintu dengan serempak hingga membuat ayah Mahesa tersedak kopinya.


Bunda yang baru saja keluar ikut tersenyum menyambut cucu-cucunya yang sudah tiba. Mereka sangat menggemaskan hingga membuat ayah tak bisa tidur saat berpisah. 


"Sini semuanya." Ayah Mahesa menepuk kedua pahanya. Mempersilahkan mereka untuk saling berebut tempat duduk. 


Mereka adalah Farid, Farida, Farhan (anak Raisya dan Devan) Azma, Azmi(anak Daffa dan Airin) Lathif, Lathifah (anak Daffi dan Alara) Fairuz (anak Syakila dan Afif) Zahra (anak David dan Naimah) Susan paling belakang menggiring adik-adiknya. 


Disusul Afif menggendong putri kecilnya yang bernama Fathimah, bayi mungil yang baru berumur satu tahun, sedangkan David pun menggendong  Fathur, anak ketiganya yang berumur sembilan bulan.


"Ayah Randu mana?" tanya Ayah dari kejauhan


"Masih dalam perjalanan, Yah," jawab David. 


Kediaman Mahesa Rahardjo sangat ramai, hanya dari dua pasangan yang terikat dalam pernikahan kini bisa mencapai puluhan jiwa. Ayah sengaja mendekorasi rumahnya lebih luas dan mewah, bukan untuk menghamburkan uang, namun untuk memberi tempat cucunya jika berkumpul. 


Setelah pelantikan Fadhil menjadi anggota perwira beberapa bulan yang lalu, kini pria yang berstatus TNI AU itu akan segera meminang gadis yang bernama Asyifa Rahardjo untuk mendampingi hidupnya. 


Ayah dan bunda tak lagi sibuk dengan pekerjaan. Namun, mereka sibuk pada cucunya yang saling berebut berada di pangkuannya dan ayah Mahesa. 


Seperti Lathifah yang cenderung pemalu dan pendiam itu menangis karena tidak mendapatkan tempat, ia memilih duduk di lantai, akhirnya Bunda Sabrina mengambil karpet lebar untuk mereka duduk. 


Asyifa yang baru saja fitting baju itu pulang dengan wajah yang berseri-seri. 


"Kakak…" Orang yang pertama kali mendapat pelukan dari calon pengantin itu adalah Devan. Selain saudara sulungnya, Devan juga selalu memberi wejangan hingga dirinya dan Fadhil sampai ke jenjang yang lebih serius. 


Devan membalas pelukan Syifa dan menoyor jidatnya. 


"Dari mana, sama siapa? Calon pengantin kok keluyuran," tanya nya. 


Bukan kali ini saja, setiap ia melihat Asyifa dari luar, itu lah yang pertama kali ditanyakan Devan. 


"Dari butik dengan Henna."


"Fadhil ke mana, kenapa dia tidak menemanimu?" 


Wajah Asyifa cemberut mengingat hari ini calon suaminya tak bisa mengantarkannya karena sebuah tugas. 


"Biasa," jawab Asyifa lirih. 


"Assalamualaikum… " sapa seseorang dengan suara lantang. 

__ADS_1


Semua menjawab serempak lalu menatap seseorang yang berdiri tegak dengan tangan hormat di ambang pintu. 


"Aku sudah pulang, kenapa baru datang?" dengus Asyifa dalam hati. Ia memilih duduk dan menyalakan tv dan tak menghiraukan kedatangan calon suaminya. 


Ayah dan bunda beranjak dan menyambut kedatangan pria gagah itu. 


Ayah pun ikut mengangkat tangannya hormat. 


"Maaf Ayah, Bunda, saya terlambat, tadi ada tugas dari komandan, karena tidak bisa tepat waktu, silahkan ayah hukum saya."


Devan mengatupkan kedua bibirnya menahan tawa, jika di tempat lain, Fadhil adalah pria yang wajib dihormati dan disegani, namun saat ini ia lebih berkuasa untuk menjahili calon adik iparnya. 


"Silakan masuk!" titah Ayah sambil merangkul pundak Fadhil. Keduanya berjalan bersejajar menuju ruang tengah. 


Devan, Daffa dan Daffi berdiri di depan Asyifa, seolah-olah mereka menjadi penghalang bagi Fadhil untuk bertemu dengan calon istrinya. 


"Selamat siang, Kak," saapa Fadhil, kali ini dengan nada santai. 


"Siang," jawab tiga serangkai dengan serempak. 


Asyifa diam, ia hanya bisa mengintip dari sela-sela tubuh kakaknya yang berjejer. Ia tak mungkin melawan mereka yang senantiasa menjaganya dengan segenap jiwa raga. 


"Dimanapun tempatnya, kalau salah pasti mendapat hukuman, iya kan?" tanya Devan basa-basi. 


Ayah kembali duduk bersama cucunya, membiarkan anak-anaknya menguji sang calon mantu. 


"Yang sabar." 


Bunda menepuk bahu Fadhil dengan lembut. 


"Push Up 100 kali," titah Devan. 


Daffa dan Daffi menelan ludahnya dengan susah payah. Pria kembar itu menatap wajah Devan dari samping. 


"Kakak kejam amat," ucap Daffi berbisik. 


"Biasa aja, itu enteng bagi seorang TNI," tukasnya. 


Kalau aku, ogah banget, lanjut Devan dalam hati.


Seketika Fadhil melakukannya tanpa membantah, baginya, Asyifa sangat berharga dan berhak diperjuangkan sepenuh hati. 


Daffa dan Daffi bertugas menghitung gerakan Fadhil, Asyifa duduk di lantai, tepatnya di samping Fadhil yang saat ini menjalankan hukumannya. 

__ADS_1


"Maafkan kak Devan," ucap Asyifa merasa bersalah. Ia tak bisa membantu Fadhil jika urusannya dnegan pengawal pribadinya.


"Kak, izin istirahat sebentar," pinta Fadhil saat melihat Asyifa menangis. 


Devan menjawab dengan anggukan kecil. 


Fadhil duduk bersila di depan Asyifa. Ia menatap wajah gadis itu dengan lekat. Cantik dan manis yang membuatnya selalu terbayang-bayang saat tugas.


"Untuk menjadi abdi negara butuh pengorbanan besar, dan aku sudah berhasil melewati rintangan itu, begitu juga  memilikimu, aku harus berkorban, ini belum seberapa dibandingkan saat aku harus berjuang membuka hatimu untukku." 


Suara tepuk tangan menggema, mereka yang hanya menjadi pengusaha dan dokter salut dengan Fadhil yang sangat romantis. Tak menyangka, orang yang selalu serius menghadapi sesuatu itu bisa lunak saat di depan wanita.


Fadhil merentangkan kedua tangannya dan siap menjadi sandaran gadis yang ada di depannya itu. Namun, suara deheman lagi-lagi membuatnya tak bisa bebas.


"Kalian belum halal, tidak boleh berpelukan, cukup aku yang pernah salah di masa lalu," sergah Devan dengan nada cuek. 


Ashifa semakin terisak, ia bahagia mendapatkan sosok laki-laki yang sangat hebat seperti Fadhil.


"Lanjutkan!" titah Devan saat melihat Fadhil mengusap air mata Asyifa dengan tisu. 


Seketika Fadhil kembali melanjutkan hukumannya yang tinggal lima puluh kali.


Bunda ke belakang, mendekati ketiga menantunya juga Syakila dan beberapa pembantu yang sibuk dengan peralatan dapur. 


"Bi, tolong siapkan makan juga untuk Fadhil."


"Sudah aku siapkan, Bunda," ucap Syakila  membawa sepiring olahan kerang. 


"Calon Kakak ipar yang sangat pengertian," puji bunda.


Setelah itu bunda mendekati Raisya dan mengelus perut buncitnya. Saat ini wanita itu hamil anak keempat yang berjenis kelamin perempuan, dan umur kandungannya sudah menginjak 22 minggu. 


"Gimana kabar dedeknya?" tanya Bunda. 


"Alhamdulillah sehat, Bunda."


Dikehamilan ini, Raisya tak merasakan apapun, justru ia lebih mandiri dan bisa bekerja di rumah sakit.


Bunda duduk di tengah-tengah anak dan menantunya yang saling rukun. Tidak ada sirat permusuhan di wajah mereka hingga membuat hati bunda semakin damai di masa tuanya.


"Hukuman selesai, sekarang kamu makan." Devan menyungutkan kepalanya ke arah meja makan.


Fadhil mengusap peluh yang membasahi wajahnya dan mengangguk.

__ADS_1


"Baik, Kak."


__ADS_2