Pelangi Senja

Pelangi Senja
Bab 31


__ADS_3

Pak Ridwan menghembuskan nafas terakhirnya sebelum sempat melihat keadaan putri-putrinya serta cucu pertamanya. Siang itu pak Ridwan yang sedang duduk di teras rumah bersama dengan seorang perawat yang disediakan oleh anak dan menantu untuknya, tiba-tiba ada kabar dari anak buah Nathan kalau kedua putrinya sedang dilarikan kerumah sakit karna kecelakaan, pak Ridwan yang syok lantas memegang dadanya dan pingsan. Perawat dibantu dengan beberapa pekerja membantu membawa pak Ridwan ke klinik milik keluarga yang terletak di sebelah rumah mereka, penangan pun fi lakukan oleh para suster dan dokter jaga yang bertugas namun setelah 1jam lamanya pak Ridwan menghembuskan nafas terakhirnya. mereka yang berada di klinik langsung menghubungi boy dan Nathan untuk memberi tahu kabar duka tersebut.


Saat ini Rey menangis tersedu memegang tangan sang istri yang tergolek lemah, perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat lama.


"sayang tolong bertahan, sebentar lagi sampai. tolong jangan tinggalkan kami, aku sangat membutuhkan mu sayang" lirih Rey mengusap lembut rambut sang istri. sesampainya di rumah sakit Rey menggendong sang istri menuju ruang UGD, raut wajah panik dan kecemasan tergambar disana dokter memintanya menunggu di luar, Rey duduk di depan ruangan UGD dengan tertunduk mengetuk dirinya yang tak mampu menjaga dan melindungi sang istri. setengah jam terlah berlalu saat dokter menyampaikan bahwa rahim Cleo harus diangkat karna terdampak dari tusukan itu.


"keluarga ibu Cleo" tanya dokter


"iya, saya suaminya" jawab Rey


"karna pisau yang ditusukkan terlalu dalam dan mengenai dinding rahimnya, saya ingin meminta persetujuan dari bapak untuk melakukan operasi pengangkatan rahim pada ibu Cleo" terang dokter


"lakukan yang terbaik fok, tolong selamatkan istri saya" ucap Rey lirih


"baik pak, silahkan menandatangani surat persetujuan operasinya pak" jelas dokter lalu di anggukan tanda setuju olah Rey yang bergegas menuju meja resepsionis dan administrasi untuk menyelesaikan semuanya. Betapa hatinya hancur, saat kehamilan baby twins ia tak ada disamping sang istri untuk menemani dan memanjakannya, saat ini ia tidak di beri kesempatan lagi untuk itu, namun keselamatan sang istri jauh lebih penting baginya, lagi pula kedua putra-putri mereka pun sudah cukup meskipun ia ingin sekali mempunyai banyak anak agar rumah besar mereka tidak terasa sepi.


Cleo sudah masuk keruang operasi, Rey menanti dengan perasaan bersalahnya, ia merasa sangat gagal menjadi suami yang tak mampu memberikan keamanan untuk sang istri, kepalanya tertunduk lemah semua berkecamuk di dalamnya perasaannya cemas, sesekali Rey melirik lampu operasi yang masih saja menyala meskipun sudah 2jam lamanya Cleo masuk untuk operasi. Rey menyandarkan punggungnya, matanya menatap langit-langit atap rumah sakit lalu memejamkan matanya yang sudah basah karna air mata, memikirkan cara menjelaskan kepada sang istri tentang kondisinya nanti.


"keluarga ibu Cleo" ucap sang suster yang baru saja membuka ruang operasi dan di ikuti oleh sang dokter


"iya, saya suaminya" jawab Rey seraya berdiri


"gimana operasinya dok,sus" tanya Rey


"semua telah selesai dan berhasil, kita tunggu pasien siuman dl ya pak" jelas dokter


"terimakasih banyak dokter" ucap Rey


"sama-sama, sebentar lagi kita akan pindahkan ibu Cleo keruang perawatan" jelas dokter


"terimakasih dok" ungkap Rey. meskipun masih kalut namun saat ini perasaannya sudah sedikit lebih tenang karna operasi Cleo sudah selesai dan berhasil. Rey menelpon bibi untuk menanyakan keadaan anak-anaknya.


"halo bu, gimana keadaan anak-anak" tanya Rey


"mereka baik nak, sekarang sedang istirahat, nak Cleo bagai mana" tanya bibi yang tak kalah cemas

__ADS_1


"baru selesai operasi, bi aku titip anak-anak ya" ucap Rey


"iya nak, tenang saja" jawab Bibi


"terimakasih bi" ucap Rey


"sama-sama nak, kamu juga hati-hati ya" jawab bibi lalu telpon pun terputus


Ruangan Nabila dan Rani sedang dalam keadaan duka, Nabila yang masih dalan masa pemulihan pasca operasi meminta ijin kepada sang dokter untuk dapat melihat dan mengantar sang ayah ke peristirahatan terakhirnya. airmata kedua wanita cantik ini tumpah tak kala menyaksikan sang ayah masuk kedalam liang lahat, Nabila dan Rani yang duduk di kursi roda saling berpegangan tangan menyalurkan kekuatan yang mereka miliki, sejak kepergian sang ibu, keduanya hanya memiliki ayah yang selalu siap menjadi teman ngobrol mereka. Senyum pagi tadi sebelum mereka pergi belanja adalah senyum terakhirnya, senyum yang selalu mereka rindu.


"bapak, istirahat yang tenang ya. Maaf kalau kami selalu membuat bapak merasa cemas" ucap Nabila dengan derai air mata


"pak, terimakasih sudah mengantar kami hingga hari ini" kata Rani


"kami janji akan menjadi anak yung seperti ayah inginkan dan kami pasti akan baik-baik saja" lanjut Nabila


"pak, terimakasih telah membesarkan wanita hebat yang mendampingi ku saat ini, terimakasih telah merestui ku mengambil permata hatimu. aku berjanji akan membahagiakannya", Ucap Nathan


"terimakasih banyak pak, sudah mengajarkan kami banyak hal. bapak tidak perlu khawatir kan bidadari bapak ini, karna aku akan menjaga dan membahagiakannya" lanjut Boy


"kkakk" ucap Cleo saat melihat suaminya terisak


"sayang, kamu sudah sadar. apa ada yang sakit sayang" tanya Rey


"aku haus kak" jawab Cleo lalu dengan segera Rey mengambilkan minum untuknya


"apa ada yang sakit sayang" tanya Rey khawatir


"tidak, kak anak-anak bagaimana" tanya Cleo.


"mereka baik-baik saja bersama bibi" ucap Rey


"kakak kenapa nangis, aku tidak apa-apa kak" tanya Cleo


"maaf, maaf kan suami mu ini sayang, aku gagal tidak bisa melindungi dan memberikan mu kenyamanan dan keamanan" terang Rey dengan derai airmata yang membasahi pipinya

__ADS_1


"kak, ini tidak sepenuhnya salah mu" jawab Rey


"tetap saja sayang, karna aku kamu jadi terluka dan seperti ini" jelas Rey


"kak, Nabila dan Rani gimana keadaannya" tanya Cleo yang tak melihat kedua saudaranya


"mereka kecelakaan, Nabila harus melahirkan dini dan Rani ada sedikit luka dan memar tapi keduanya sekarang sudah stabil lagi" ucap Rey


"syukur lah kalau mereka baik-baik saja" jawab Cleo dan jawab dengan anggukan kepala Oleh Sang suami


"kak, kapan aku boleh pulang, aku rindu anak-anak" ucap Cleo


"iya sayang, nanti ya setelah kondisi pasca operasi mu sudah membaik" jawab Rey


"operasi kak, aku operasi apa kak" tanya Cleo dan Rey bingung menjelaskannya. digenggamnya tangan Cleo penuh kasih, menatap sang istri yang sangat disayanginya.


"kak, ada apa" tanya Cleo bingung


"aku operasi apa kak" tanya Cleo lagi


"sayang, akibat tusukan pisau itu rahim mu juga tertusuk dan tadi para dokter harus mengangkat rahim mu sayang" jelas Rey yang di barengi air mata yang keluar dari mata indah Cleo


"jadi aku sudah tidak memiliki rahim lagi kak, aku tidak sempurna" ucap Cleo frustasi


"sayang, kamu tetap wanita sempurna" ucap Rey lalu memeluk Cleo


"aku tidak sempurna lagi kak, kakak pasti nanti akan jijik pada ku" ungkap Cleo berlinang air mata


"sayang, kita sudah punya Rev dan Clowy, bagi ku kamu tetap wanita paling sempurna dan kamu tetap akan menjadi istri satu-satunya ku, pemilik seluruh jiwa dan raga ku sayang" jawab Rey yang terus memeluk mesra sang istri


"apa kakak akan menceraikan ku" tanya Cleo sendu


"tidak, tidak akan sayang, istri ku selamanya hanya satu dan hanya kamu tidak akan ku ganti dengan siap pun" ucap Rey yakin


"tapi aku tidak bisa lagi memberikan keturunan" ucap Cleo yang tahu bahwa sang suami menginginkan anak lagi

__ADS_1


"sayang, kita sudah punya Rev dan Clowy dan sekali pun aku menginginkan anak tidak dari siapa pun kecuali kamu sayang, jadi bila Tuhan tidak mengijinkannya lagi aku tidak masalah. Yang terpenting bagi ku adalah kamu, nafas dan nyawa ku" jelas Rey dibalas tangis tersedu Cleo


__ADS_2