
Devan membantu Raisya menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala. Lagi-lagi ia melayangkan sebuah ciuman lembut di kening sang istri yang baru saja di jelajahi. Melihat bajunya yang teronggok di lantai senyum Devan melebar mengingat aksinya yang sangat brutal dan tak terkendali. Namun, akhir-akhir ini Raisya sudah mampu mengimbanginya hingga membuat Devan lebih puas.
Awalnya Raisya menolak dan menyuruh Devan mandi terlebih dulu. Akan tetapi, dengan bujuk rayunya yang penuh dengan drama dan wajah memelas mampu memikat Raisya hingga jatuh ke dalam lautan gairah dan tak menghiraukan keadaan suaminya yang masih bau keringat.
Tak pernah merasa bersalah sering membuat Raisya terkapar, Devan justru bangga dengan senjatanya yang mampu menembus gawang untuk yang kesekian kali.
Raisya memejamkan mata, mengembalikan tenaga yang terkuras habis. Ia tak mengindahkan bisikan-bisikan cinta yang terus dilontarkan Devan saat ini.
"Kak, aku ngantuk." Raisya memiringkan tubuhnya, menggunakan lengan Devan sebagai bantal dan membenamkan wajahnya di bawah ketiak suaminya yang masih polos tanpa sehelai benang.
Devan meraih jam tangan yang beberapa saat diletakkan di atas nakas.
"Tidur saja, Magrib masih lama, nanti aku bangunin." Mengelus pucuk kepala Raisya dengan satu tangannya, sedangkan yang satunya lagi memainkan ponsel. Ia mengabaikan sepuluh panggilan tak terjawab dari bundanya.
Baru saja membuka sebuah aplikasi game, panggilan masuk kembali menghalanginya untuk santai, dan sialnya itu juga dari Bunda Sabrina yang tak bisa dihindarinya lagi.
Kapan bunda membuatku tenang, apa dia nggak mau punya cucu.
Devan menggeser lencana hijau tanda menerima, dan menempelkan benda pipihnya itu di telinga.
"Iya Bunda, ada apa?" jawab Devan dengan suara serak.
"Ya Allah, Devan, kamu dan Raisya Ada di mana, Bunda sekarang ada di depan rumah kalian." Bunda meninggikan suaranya.
Devan membulatkan matanya lalu menelan ludahnya yang semakin mengering, lidahnya terasa kelu dan sulit untuk mengucap kata-kata yang sudah dirangkai dengan rapi. Devan menoleh menatap Raisya yang terlelap dengan napas teratur, ia jadi tak tega kalau harus membangunkannya.
"Bunda, aku dan Raisya ada di rumah sakit, tadinya pulang kantor aku mau jemput istriku, tapi dia ketiduran," ucap Devan.
Terdengar hembusan napas panjang dari ujung ponsel.
"Tapi Raisya nggak sakit, kan?" tanya bunda khawatir.
Devan tersenyum geli saat bundanya itu terus kepo jika menyangkut menantu kesayangannya.
"Tidak, Bunda. Raisya hanya kelelahan saja."
"Halah, paling-paling juga habis itu," cetus suara berat dan dipastikan itu ayah Mahesa.
__ADS_1
"Kamu itu memang mewarisi sifat ayah kamu, tidak pernah membiarkan istri untuk santai dan tenang," imbuh Bunda dengan ketus.
Devan semakin cekikikan kecil, takut kalau Raiysa terusik dengan suaranya.
Setelah sambungan terputus, Devan menciumi pipi Raisya dengan lembut. Tanpa disadari jemari yang tadinya merapikan anak rambut kini turun meraba perut rata Raisya yang dibalut dengan selimut.
"Semoga Devan junior cepat hadir di sini, aku mencintai kamu," ucap Devan dengan penuh harap.
Sebelum ikut tenggelam dalam mimpi, Devan mematikan ponselnya, takut kalau bunda Sabrina mengganggunya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lantunan Adzan menggema, samar-samar menghiasi telinga Devan yang masih memejamkan matanya.
Engh
Lenguhan mengiringi satu tangan Devan yang mengulur ke atas, sedangkan tangan yang lain masih menyangga kepala sang istri.
Devan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang ia tempati, dan pelan-pelan membuatnya sadar jika dirinya berada di rumah sakit bersama istrinya.
Devan menoleh menatap wajah sendu Raisya yang masih betah berada di alam mimpinya.
"Sayang, udah Maghrib. Kita belum mandi," ulang Devan untuk yang kedua kali.
Akhirnya yang dibangunkan menggeliat dan menguap.
Raisya meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, setiap selesai melakukan ritual itu pasti seluruh tubuhnya terasa remuk dan sakit.
"Kita mandi bersama, ya. Setelah ini kita makan malam di luar."
Tanpa aba-aba Devan mengangkat tubuh mungil Raisya beserta selimut yang menutupi tubuhnya.
Devan dan Raisya keluar dari ruangan itu setelah menunaikan kewajibannya, banyak pasang mata yang menatap keduanya dengan tatapan aneh. Pasalnya ini pertama kali Devan maupun Raisya masih berada di rumah sakit di luar jam kerja, dan itu membuat mereka bertanya-tanya.
"Malam Bu dokter, mas Devan," sapa salah satu suster yang berjaga malam itu membungkuk ramah.
"Malam," balas Raisya yang juga ramah.
__ADS_1
Devan memencet tombol lift, setelah terbuka ia menarik tangan Raisya yang sibuk merapikan hijabnya.
Di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua, dan lagi-lagi Devan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin. Ia menarik tubuh Raisya dan menyatukan bibirnya, melahap benda kenyal wanita itu dengan rakus.
"Apa nggak bisa kita lakukan ini di rumah?" tanya Raisya merapikan rambut Devan yang sedikit acak-acakan.
"Tidak bisa, aku maunya di sini juga, dimanapun pokoknya kamu harus siap," ucap Devan menekankan. Meskipun hanya bercanda itu sukses membuat Raisya deg-degan.
"Dasar mesum tingkat dewa," gerutu Raisya dalam hati.
Di tengah kegelapan malam yang ditemani lampu penerang jalan, Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak seperti pagi yang sangat ramai, malam itu sedikit sepi hingga membuat mobilnya cepat sampai ke arah tujuan.
Saat mobil memasuki halaman restoran milik Alfan, Raisya memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Kenapa ke restoran kak Alfan?" protes Raisya. Ia enggan jika harus bertemu si tukang penggoda itu.
"Kenapa? Kamu nggak suka makanannya?"
Raisya menggeleng pelan. "Bukan begitu, kalau ada kak Alfan pasti dia suka godain aku."
"Kan ada aku, mana mungkin dia berani, " tukas Devan sembari membantunya melepas seat belt.
Devan menggandeng tangan Raisya dan masuk, seperti biasa ia memesan tempat khusus untuk mereka yang ada di lantai dua. Sebab, jika berada di tengah-tengah pengunjung yang lain, Devan jadi kurang selera makan, karena berisik.
"Kakak tunggu di atas saja, aku mau ke toilet."
"Aku tunggu di sini saja."
"Kalau perlu ikuti ke dalam sana sekalian," sahut Alfan yang ada di balik ruangannya.
Tak peduli dengan cibiran sang sahabat, yang pastinya sedikitpun Devan tak mau jauh dari Raisya.
Hampir lima menit, akhirnya Raisya keluar dan kembali menerima uluran tangan Devan.
"Mesra terus, bikin yang lain iri saja," celetuk Alfan sinis.
Devan hanya menanggapinya dengan senyuman mengejek melihat Alfan yang emosi dengan kemesraannya.
__ADS_1
Bersamaan dengan ucapan itu, seorang gadis cantik dengan memakai topi hitam dan kacamata yang senada menoleh menatap ke arah Devan dan Raisya yang sedang menyusuri anak tangga.
Jadi itu istrinya Devan, dia cantik sekali, pantas saja dia cepat melupakan aku.