
"Akhirnya kita sampai juga." Alfan melepas sejenak kursi roda dan membuka pintu ruangan kamar Alisa. Setelah terbuka lebar, ia kembali mendorong kursi itu masuk ke dalam.
Ruangan yang sangat menjenuhkan bagi Alisa, namun ia tak bisa pulang karena kondisinya yang belum membaik.
Tak ada siapapun di sana. Om Andre dan tante Aida pun tak nampak hingga ruangan itu terasa hening.
"Aku buka pintunya saja ya, takut terjadi fitnah," ujar Alfan.
Alisa mengangguk tanpa suara. Semenjak pertemuannya dengan Alfan yang berlanjut dua jam, Alisa sering mengulas senyum saat melihat tingkah lucu pria itu. Pasalnya tak hanya padanya, Alfan pun nampak manja pada bundanya.
Melihat Alisa berusaha bangun, Alfan mendekat dan mengulurkan tangannya tepat di depan Alisa.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," ucap Alisa yang sedikit demi sedikit mulai terbiasa.
Alfan mundur satu langkah, menyaksikan Alisa yang nampak kesusahan hingga tubuhnya yang lemah itu terhuyung ke arahnya.
Dengan sigap Alfan menangkap punggung Alisa yang hampir rubuh, sedangkan Alisa mencengkeram erat lengan Alfan hingga keduanya saling tatap dengan jarak dekat.
Dada Alisa bergetar, jantungnya berdegup dengan kencang saat mata Alfan tak teralihkan dari wajahnya. Hembusan napas pria itu menerpa wajahnya hingga membuat Alisa gugup.
"Aku mau tiduran," ucap Alisa malu-malu.
Alfan tersenyum dan mengangkat tubuh Alisa, Perlahan ia membaringkan tubuh gadis itu dan menyelimutinya.
Alfan menarik kursi dan duduk di samping ranjang, menatap setiap pergerakan Alisa yang nampak tak nyaman.
Bunda Sesil datang bersama bunda Sabrina dan tante Aida, mereka tersenyum melihat Alfan yang serius menjaga Alisa.
"Gimana, Fan? Apa Alisa mau makan?" tanya bunda Sesil yang tak sempat menyaksikan mereka karena urusan lain.
"Kalau sama aku semua pasti beres," ucap Alfan percaya diri.
Alisa menundukkan kepalanya karena malu.
"Tadi Alisa disuapi pakai apa, Kak?" sahut Dokter Agung yang ada di ambang pintu.
Seketika Alfan menoleh menatap ayahnya yang menggodanya.
"Pakai ini, Yah." Menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
Seketika bunda Sabrina dan yang lain tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Alfan.
Wajah Alisa semakin bersemu, sedikitpun tak berani melihat orang-orang yang ada di sana.
Mumpung ada Om Andre dan tante Aida, mungkin ini waktu yang tepat untuk melamar Alisa.
Alfan beranjak dari duduknya dan mendekati Alisa yang saat ini meremas kedua tangannya.
__ADS_1
Alfan menatap om Andre dan tante Aida yang ada di seberang ranjang itu bergantian.
"Om, Tante, sebenarnya ada yang ingin aku katakan," ucap Alfan serius, matanya beralih menatap wajah Alisa yang masih menahan malu.
Suasana yang sempat ramai itu kembali canggung. Ayah Mahesa berada di ambang pintu bersama Dokter Agung. Bunda Sabrina dan bunda Sesil berdiri di belakang Alfan.
"Bicara apa?" tanya om Andre yang tak kalah serius.
"Aku ingin melamar Alisa."
Ayah Agung tersenyum bangga melihat putra pertamanya yang tak bertele-tele.
"Kamu lihat, kecebong ku sudah berubah menjadi laki-laki yang pemberani," bisik Dokter Agung di telinga ayah Mahesa.
Cih
Ayah Mahesa berdecih mendengar ucapan Dokter Agung, meskipun sudah tua, jiwa narsis nya tetap melekat yang membuat Ayah kesal.
Hening, semua bergelut dengan pikiran masing-masing. Alisa melirik ke arah Alfan lalu kembali menunduk.
"Apa kamu serius?" tanya Om Andre.
Alfan menoleh menatap bundanya, lalu meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat.
"Aku serius, dan aku sudah mendapatkan restu dari Bunda."
"Kalau om sih setuju saja, tapi tergantung Alisa juga."
Om Andre melempar jawaban pada putrinya, meskipun sebagai ayah, ia sadar dan tidak berhak memaksakan kehendak karena tak ikut andil membesarkan gadis itu.
"Aku…. Aku belum bisa jawab sekarang."
Aku kira mau bilang aku mau.
"Tapi aku maunya kamu jawab sekarang," desak Alfan dengan nada ketus, tapi dari lubuk hatinya ia hanya bercanda, suka melihat kegugupan Alisa yang semakin lucu.
Alisa menggigit bibir bawahnya, ia semakin bingung dengan permintaan Alfan, di satu sisi Alfan sangat baik padanya, di sisi lain, ia belum bisa menerima laki-laki lain untuk melanjutkan hidupnya lagi.
"Nungguin Mama." Akhirnya lolos sudah kata yang tak pernah tersampir di otaknya.
"Mama sudah datang," sapa seseorang dari depan pintu.
Ayah Mahesa menggeser tubuhnya, memberi jalan pada Camelia.
Tangis Camelia pecah melihat putrinya yang terbaring lemah diatas ranjang, wanita itu berlari kecil dan memeluk Alisa dengan erat, mencurahkan rasa rindu yang menggebu. Begitu juga dengan Alisa yang membalas pelukan hangat mamanya.
"Maafkan mama karena baru datang," ucap Camelia penuh penyesalan.
__ADS_1
Ayah Emir menyalami semua yang ada di sana, diikuti kedua putrinya.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku mengerti, pasti Mama sibuk."
Setelah puas, Alisa beralih memeluk ayah Emir serta kedua adiknya yang juga ikut.
"Kapan Kakak pulang? Aku kangen,"ucap Alara merengek.
" Iya kak, aku juga kangen, kita pulang ya," imbuh Asena mengiba.
Alisa menatap Alfan yang terlihat cemberut, sepertinya pria itu tak rela jika dirinya pergi.
"Bagaimana Lis, apa kamu mau ikut pulang?" tanya ayah Emir.
Alisa jadi bimbang, jika tadi pagi ia kekeh ingin pulang ke Turki, justru kehadiran Alfan seperti mengikatnya untuk tetap tinggal di Indo.
"Aku belum tahu, Yah. Aku akan pikirkan lagi."
Dengan kita itu saja mampu membuat Alfan tersenyum dan mengangkat jempolnya, karena ia tahu alasan Alisa tak bisa meninggalkan kota tersebut. Bukan karena Devan, tapi karena dirinya.
"Kamu sudah makan?" tanya Camelia.
Alisa mengangguk pelan dan tersenyum, masih teringat jelas bagaimana Alfan memaksanya hingga satu mangkuk bubur itu habis dilahapnya.
"Tante tenang saja, Alisa tidak akan kelaparan, percayakan dia padaku."
Camelia menoleh menatap Alfan, meskipun belum pernah bertemu, Camelia merasa wajah pria itu tak asing di matanya.
"Dia anakku," sahut Dokter Agung yang membuat Camelia berdecak.
"Pantas saja wajahnya mirip," cetus Camelia.
"Mbak apa kabar?" sapa bunda Sabrina kemudian untuk mencairkan suasana. Menyambung lagi tali persaudaraan yang sempat terputus.
Camelia mengusap air matanya, seperti janjinya waktu itu ia ingin meminta maaf pada wanita yang pernah disakitinya.
"Aku baik." Camelia meraih kedua tangan Sabrina.
"Aku minta maaf atas perbuatanku yang selalu __"
Seketika bunda membungkam bibir Camelia.
"Sudah, Mbak. Jangan dibahas lagi. Semua sudah berlalu, dan maaf kalau memang Devan tidak bisa bersama Alisa, pasti mbak tahu alasannya."
Mata bunda Sabrina ikut berkaca, suasana yang sangat mengharukan, bunda Sabrina bisa memeluk orang yang dulu pernah menjadi madunya.
Ayah Mahesa memilih pergi, ia ikut teringat bagaimana dulu memperlakukan bunda Sabrina dengan buruk.
__ADS_1