Pelangi Senja

Pelangi Senja
Pulang ke rumah


__ADS_3

Tak henti-hentinya Susan memeluk Raisya yang baru saja tiba. Tiga bulan berpisah tanpa kabar, membuat Susan sangat merindukan bu dokter yang membantu ibunya. Tak dapat di pungkiri, jika bertemunya dangan Raisya juga menjadi pemicu keadaan Naimah dan Susan lebih baik lagi, dan Naimah juga tidak terpuruk karena kehilangan suaminya yang tak akan bisa kembali di sisinya.


Tetes air mata terus membasahi pipi Naimah. Ia ikut terharu dengan pulangnya Raisya, beberapa kali Devan datang ke rumah, disaat itu pun Naimah sempat melihat Devan memeluk baju wanita itu dengan isakan tangis. 


"Bu Dokter ke mana saja, kenapa tidak ajak Susan?" tanya bocah itu dengan polos.


Raisya, Devan dan David menggiring Susan menuju ruang keluarga, sedangkan Naimah kembali ke dapur membuatkan minuman dan menyiapkan makanan untuk semua orang yang datang. Mama Aya ikut ke dapur, Ayah Randu dan Airin serta Nanda masuk  ke kamar masing-masing. Kamar yang disediakan untuk mereka saat menginap.


"Bu Dokter sedang berobat, jadi nggak bisa ajak Susan." Devan mengangkat tubuh mungil itu ke pangkuannya.


"Sekarang bu dokter sudah pulang, jadi Om jangan menangis lagi."


Kan kan, kecil-kecil cabe rawit, memang mulutnya nggak bisa di rem.


Raisya mengatupkan bibirnya menahan tawa melihat wajah Devan bersemu.


Kak Devan menangis, apa itu karena aku?" terka Raisya dalam hati.


Demi mendapatkan jawaban yang tepat, Raisya menyuruh David membawa Susan pergi. 


Setelah David dan Susan keluar, Raisya menggeser duduknya, mengikis jarak antara keduanya.


"Kak, apa yang dibilang Susan tadi itu benar?" tanya Raisya menyelidik, ia terus menatap mata Devan dengan intens.


Devan menggeleng tanpa suara, meskipun iya, ia malu mengakui di depan istrinya. Takut dibilang cengeng.


"Berarti Susan bohong?" tanya Raisya semakin menyelidik.


"Kalau iya kenapa?" jawab Devan, tatapannya masih mengarah pada Raisya yang duduk di sampingnya.


"Maaf," ucap Raisya pelan dengan bibir yang mengerucut.


Devan menarik tubuh Raisya dan mendekapnya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, yang lalu biarlah berlalu, jangan diulangi lagi."


Raisya mendongak, mengecup bibir Devan sekilas, dan itu dilakukan nya berulang kali untuk memancing gairah Devan, hingga suara Mama Aya mengejutkan keduanya.


"Van, Sya, kalian tahu nggak kalau Alfan mau mengadakan pesta?" Entah dari kapan mama Aya berdiri di samping sofa, Raisya dan Devan tidak menyadari kedatangan wanita itu. 

__ADS_1


"Beneran, Ma?" tanya Devan antusias. 


"Iya, kamu kan sahabatnya, masa nggak tahu sih?"


Devan merogoh ponsel yang ada di saku celana dan membukanya. Ternyata dua puluh tujuh pesan dari Alfan tidak di buka membuat Devan mendesah. Ia membayangkan jika wajah Alfan pasti merengut, kepalanya keluar dua tanduk serta giginya bertaring saat chatnya tak di baca.


Satu persatu Devan membaca pesan itu, dan ternyata benar, Alfan sudah memberitahunya sejak dua hari yang lalu.


"Untuk baju kalian, mama sudah siapkan, nanti mama akan suruh orang mengantarkannya."


Di samping rumah, Susan yang sedang bermain boneka di lantai itu mendongak menatap David yang duduk di kursi dan sibuk memainkan ponselnya. Entah apa yang dirasakan bocah itu hingga tiba-tiba air matanya berlinang membasahi pipi. David yang sadar akan hal itu langsung meletakkan benda pipihnya dan membawa Susan ke pangkuannya.


"Susan kenapa?" tanya David merapikan rambut Susan yang menutupi keningnya. Ia tak bisa melihat siapapun menangis, termasuk Susan, bocah yang pernah ia temui beberapa kali saat mengambil baju Raisya.


Susan menggeleng, mulutnya membisu namun isakannya semakin menjadi.


David meletakkan kepala Susan di dadanya, memberikan tempat yang nyaman untuk bocah itu.


"Sudah ada om di sini, Susan kan anak pintar, tidak boleh menangis ya," pinta David dengan lembut.


"Susan," teriak Naimah dari dalam. 


Senyum Naimah menghilang saat melihat putrinya itu sesenggukan di pelukan David.


"Susan kenapa, Den?" tanya Naimah, mengambil alih Susan dari tangan David. Ia merasa tidak enak sudah menyusahkan keluarga Raisya yang sangat baik padanya. 


"Nggak tahu, tiba-tiba saja dia menangis, ditanya dia nggak mau jawab." 


Pasti dia ingat ayahnya, Naimah hanya mengucapkan dalam hati.


"Maaf, Den. Susan memang seperti itu."


David mengangguk dan menggaruk kepalanya yang Tidak gatal. 


Kenapa harus panggil, Den, dia kan masih muda, bahkan umurnya juga seumuran kak Raisya.


David tertawa menggelitik melihat sikap Naimah yang sangat lugu.


"Mulai sekarang panggil nama saja. Aku malu."

__ADS_1


Hehehe


"Maaf,  kayaknya tidak sopan kalau panggil nama," bantah Naimah, karena ia belum pernah memanggil orang dengan sebutan nama, dan itu diajarkan suaminya semasa hidupnya. 


"Kalau begitu mas saja, jangan membantah, anggap saja ini perintah."


Naimah merapikan hijabnya dan mengangguk. 


"Ba….baik, Mas," jawab Naimah gugup. Beberapa kali bertemu dengan David, ini kali pertama jantung Naimah berdetak dengan kencang, bahkan saat David berdiri di depannya, ia bisa merasakan hembusan napas pria itu yang semskin membuatnya gemetar.


David menggendong Susan lagi dan membawanya masuk, sedangkan Naimah membawakan ponsel milik David dan mengikutinya dari belakang.


"Vid, makan dulu," teriak mama Aya dari ruang makan. Masih menggendong Susan, David menghampiri mama Aya yang sibuk meletakkan piring.


"Ma, ada baju nggak, buat Susan dan ibunya, besok aku aku ajak mereka datang ke pernikahan Kak Alfan."


Mama Aya menghentikan aktivitasnya, ia menatap ayah Randu yang duduk di kursi makan paling ujung, lalu beralih ke arah Naimah yang masih mematung di belakang David dengan wajah menunduk.


"Ada, tapi harus ke butik dulu, kan mama nggak taku ukuran baju Susan dan Naimah." 


Naimah maju dan berdiri tepat di samping David.


"Maaf bu, tapi sepertinya tidak usah, ini kan acara keluarga, jadi __" 


Naimah menghentikan ucapannya saat David menoleh dan menatapnya dengan lekat.


"Aku sudah menganggapmu seperti keluarga sendiri, jangan sungkan-sungkan pada kami, kalau kamu butuh sesuatu, bilang ke aku atau kak Devan," sahut  Raisya dari ruang tengah.


Naimah kembali meneteskan air mata, kali ini ia terus bersyukur mendapatkan keluarga yang sangat baik padanya dan Susan.


"Sekarang Susan makan dulu, setelah ini ikut Om ke butik."


Bagaikan sebuah keluarga kecil, David menyuapi Susan yang ada di sampingnya, sedangkan Naimah menyiapkan makanan untuk David. Meskipun bagi Naimah biasa saja, tidak bagi ayah Randu dam mama Aya.


"Siapa nama lengkap kamu?" tanya Ayah Randu pada Naimah, dan itu membuat semua orang yang ada di meja makan ikut menatap Naimah yang duduk di samping David.


"Syarifatun Na'imah," ucap Naimah pelan.


Ayah Randu tersenyum dan kembali melahap makanannya.

__ADS_1


__ADS_2