Pelangi Senja

Pelangi Senja
Akhirnya diterima


__ADS_3

Naimah mengambil nampan yang mengenai kakinya lalu menatap David yang ada di sampingnya. Ia sudah paham dengan apa yang dikatakan ayah Randu, hanya saja ia perlu alasan dari David. Dadanya terus bergemuruh, rasa syukur dan gugup bercampur aduk hingga memenuhi dadanya.


Lamaran, jadi maksud dari kedatangan pak Randu mau melamarku.


Wajahnya yang tampan berwibawa, baik dan punya pekerjaan yang mapan serta kaya, pasti banyak yang mengidam-idamkan pria seperti itu, tapi kenapa harus dia yang dipilih untuk menjadi istrinya, seorang janda miskin yang sudah mempunyai anak.


"Mas, kita harus bicara," ucap Naimah tanpa rasa ragu.


"Maaf Pak, Bu. saya permisi dulu."


Naimah meninggalkan ruangan itu dengan penuh tanda tanya.


Ayah dan yang lain mengangkat jempolnya ke arah David yang beranjak dari duduknya. Memberi semangat untuk pria itu agar tak pantang menyerah dan putus asa untuk mengejar Si Jamu.


"Kalau di desak tidak mau, cium saja Vid, nanti juga bakalan luluh," ucap Devan asal, dan seketika membuat Raisya geram.


David mengikuti Naimah menuju teras samping. Keduanya saling duduk berhadapan dengan penghalang meja.


Sepi, hanya ada suara jangkrik dari semak-semak taman yang terdengar, beberapa bintang yang berkerlip dan bulan sabit yang bersinar menjadi saksi bisu antara David dan Naimah yang ingin saling beradu mulut.


"Mas, kenapa kamu melamarku, jangan bilang kalau Susan yang meminta?"


David tertawa lalu menatap ke atas, tepatnya ke arah langit yang gelap.


"Bukan Susan, tapi ini murni keinginanku sendiri, aku ingin menikahimu. Aku ingin melindungi kamu dan Susan.'' David mengeluarkan kotak kecil yang berwarna maron dari saku celananya. Tangannya yang ada di bawah meja menggenggam erat kotak itu tanpa ingin memberitahukan pada Naimah.


"Tapi ini nggak mungkin, Mas. Aku janda, apa kata orang-orang nanti. Kita bagaikan langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa menyatu."


"Tapi langit dan bumi saling melengkapi. Allah menciptakan apapun itu berpasang-pasangan. Terkadang kita harus menutup telinga rapat-rapat. Rumah tangga tergantung pada dua orang yang saling terikat, bukan apa kata orang lain. Aku menikahimu karena Allah, aku ingin mengikuti jejak Nabi, beliau menikahi Siti Khadijah yang juga janda dan ingin menjaga hartanya, meskipun aku hanya manusia biasa, setidaknya aku mengikuti sunnah Rasul. Bisa mengayomimu dan Susan."


Naimah menunduk kagum, ia masih tak mengerti dengan David yang kekeh dengan keputusannya, bahkan raut wajahnya tetap tenang saat menghadapinya yang sedikit membentak. 


"Tapi, Mas __" 


"Tidak usah tapi-tapian, sekarang kamu hanya punya dua pilihan, menerimaku atau menolakku," pungkas David menekankan. 


Naimah menggigit bibir bawahnya, selama hidupnya ini kali pertama ia merasa bingung tingkat tinggi. Sebagai wanita yang sudah menjalani pernikahan, ia pun sudah merasakan pahit manis kehidupan. Bahkan Naimah sempat terombang-ambing karena kesulitan ekonomi. Akan tetapi, sekarang keadaannya berbeda, ia sudah mempunyai Susan dan itu yang membuatnya ragu untuk menjawab iya.


Hening, Naimah berpikir keras untuk mengambil keputusan, karena ini tak hanya untuk dirinya, tapi juga putrinya dan juga keluarga David.

__ADS_1


Mas David orang yang sangat baik, dan Susan juga butuh sosok ayah, tapi apa ini tidak terlalu cepat.


"Kalau mikirnya kelamaan, jawabannya dipotong, jadi kamu hanya boleh menjawab iya, karena yang jawaban tidak, sudah di diskualifikasi."


Ancaman macam apa itu.


"Itu namanya memaksa," ucap Naimah dengan wajah yang cemberut.


David hanya menahan tawa. Ia meletakkan kotak kecil itu di atas meja dan membukanya.


"Maukah kamu menikah denganku?" ucap David dengan lembut.


Naimah menatap cincin berlian yang ada di tangan David, ia teringat dengan ucapan almarhum suaminya sebelum menghembuskan napas yang terakhir. Di mana pria itu sempat berpesan untuk menjaga Susan dengan baik, juga mengizinkannya menikah lagi jika dirinya pergi.


Naimah menghitung dengan kelima jarinya. 


Mau tidak mau tidak mau, jari kelingkingnya ternyata jatuh pada pilihan mau.


Pusing kan, aku juga pusing mau bicara apa, mungkin dengan ini kamu akan menerimaku.


"Ayolah, tunggu apalagi?"


"Aku mau," jawab Naimah dengan lugas.


Bagaikan disiram air dingin, sekujur tubuh David merasa sejuk. Ia menyematkan cincin itu di jari manis Naimah sebagai tanda ikatan pertunangan.


"Sekarang kita masuk, dingin." David mengulurkan tangannya ke arah Naimah, namun tak diterima oleh wanita itu yang memilih melewati tubuh tegap David.


Malu malu tapi mau.


David terkekeh saat melihat wajah Naimah yang merona.


*****


Pagi itu terasa berbeda, jantung Naimah terus berdegup kencang, bahkan ia mengira jika dirinya sudah tidak normal lagi.


Naimah menatap cincin yang melingkar di tangannya lalu menatap Susan yang masih terlelap. Usai sholat subuh, ia keluar dari kamarnya menuju dapur, seperti yang biasa dilakukan, Naimah membongkar isi lemari pendingin dan mengambil bahan-bahan yang akan dieksekusi. Setelah itu menyalakan kompor dan meracik susu untuk Raisya dan Susan serta beberapa kopi.


David datang dengan sejuta pesona, pria itu masih mengenakan baju koko serta sarung polos berwarna hitam. Ia sengaja menginap di rumah Raisya untuk mengambil baju Naimah yang masih ada di butik.

__ADS_1


"Mau masak apa?" tanya David yang mematung di belakang calon istrinya.


"Kalau Dokter Raisya biasanya suka roti bakar."


"Sssttt… jangan panggil dia dokter lagi, kamu harus panggil dia kak Raisya dan kak Devan," pinta David sembari meraih sendok yang ada di tangan Naimah.


"Tapi __"


Naimah menghentikan ucapannya dan menunduk, ia tak berani membalas tatapan David yang tak bisa diartikan.


David mengaduk dua gelas susu, sedangkan Naimah mengaduk kopinya.


"Mas suka kopi?" tanya Naimah pelan.


"Suka, apalagi kopi susu, lebih suka."


Baru saja Naimah membuka mulut, suara cempreng menembus gendang telinganya.


"Ibu, aku lapar," teriak Susan yang sudah tiba di ambang pintu dapur.


David meraih tubuh mungil itu dan menggendongnya.


"Susan mau makan apa?" tanya David. 


"Nasi goreng sama telor mata sapi. Kalau om, mau sarapan apa?" tanya Susan polos.


"Sama kayak Susan, dan mulai sekarang Susan harus panggil om dengan sebutan ayah."


Susan menatap ibunya yang sibuk memotong sayuran. Dalam benaknya, ia  ingin bertanya, namun mata David menekankan untuk menuruti pemerintahannya.


"Nggak papa ya, Ibu?" tanya Susan yang masih berada di gendongan David.


"Nggak papa," jawab Naimah pada akhirnya.


David mengelus pucuk kepala Naimah yang tertutup hijab warna hitam lalu keluar membawa Susan dengan segelas susu di tangannya.


Hampir saja membuka pintu depan, Naimah kembali memanggil David hingga pria itu menghentikan langkahnya.


"Ini yang benar mas mau sarapan apa?" tanya Naimah.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, aku ikut, " ucap David yang sukses membuat Naimah tersenyum.


Kamu tidak hanya tampan mas, tapi hatimu juga bersih. 


__ADS_2