
Setelah seminggu menahan keinginannya, akhirnya Daffi kembali mengusung Alara ke Turki setelah acara Aqiqah Farhan, Farid dan Farida. Bibit keluarga bunda dan ayah kembali tumbuh setelah Alara dinyatakan positif, dan ada kemungkinan kembar juga.
Setelah pulang dari rumah sakit, Devan dan Raisya tinggal di rumah bunda Sabrina karena belum mendapat baby sitter yang cocok untuk merawat ketiga bayinya.
Devan menatap wajah Raisya yang terlelap di atas pembaringan, ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh wanita itu. Tak lupa menciumnya sebagai tanda pengantar tidur.
"Kakak mau ke mana?" tanya Raisya saat Devan melangkah ke arah pintu.
"Kamu belum tidur?" tanya Devan balik, ia kembali menghampiri Raisya.
Raisya menggeleng.
"Aku hanya mau keluar, nengokin anak kita."
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun tiba-tiba Devan ingin melihat wajah bayinya yang ada di kamar sebelah.
"Aku ikut," rengek Raisya.
Devan mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya keluar.
Devan yang baru saja tiba di depan pintu kamar, dikejutkan dengan bunda dan mama Aya yang sudah ada di sana.
"Kalian belum tidur?" tanya Bunda.
"Belum," jawab Devan tanpa menurunkan Raisya.
"Ya sudah, setelah ini tidur, jangan terlalu malam, nggak baik," tutur Bunda dengan lembut.
Setelah sampai, Devan mendudukkan Raisya di tepi ranjang tepat di depan tiga box bayi yang berjejer rapi. Di sisi kiri ada Farhan, yang tengah ada Farida, sedangkan yang paling kanan ada Farid.
Sama seperti Raisya, ternyata ketiga bayinya pun belum tidur, mereka masih sibuk dengan tangan masing-masing membuat Devan tersenyum geli.
"Kak, aku pingin gendong Farida," ucap Raisya penuh harap, selama di rumah sakit, Raisya tidak bisa leluasa menggendong mereka karena keadaannya yang masih lemah, dan setelah pulang ia merasa sudah sangat sehat dan mampu untuk mengajak buah hatinya.
Devan mengangkat tubuh Farida dengan perlahan dan meletakkannya di pangkuan Raisya. Satu-satunya bayi perempuan yang sangat cantik, wajah mereka perpaduan antara Devan dan Raisya, namun juga tak meninggalkan bunda Sabrina dan bunda Arum. Wajah bocah itu mencakup semua keluarganya sehingga bisa menjadi simbol keturunan Rahardjo dan Laksana.
Airin masuk bersama Daffa. Pengantin yang masih terbilang hangat itu ikut berhamburan mengambil Farhan dan Farid.
Suara gemuruh terdengar dari luar, Devan mengerutkan alisnya lalu berjalan menuju pintu mencari sumber suara.
Ternyata itu suara ayah Mahesa dan Ayah Randu yang ada di ruang tengah.
"Siapa, Kak?" tanya Raisya, ia berdiri dan meletakkan bayinya kembali.
"Ayah kita, sepertinya mereka berantem."
__ADS_1
Daffa dan Airin serta Raisya saling menatap bergantian.
Saking penasarannya, mereka ikut keluar bersama Devan meninggalkan bayinya.
"Dulu aku sudah sering mengalah, tapi sekarang nggak mau, pokoknya mereka harus tinggal di rumahku," ucap Ayah Randu dengan lantang.
Ayah Mahesa meletakkan cangkirnya dan berkacak pinggang.
"Kamu berani melawanku?" ucap Ayah Mahesa menantang.
Ayah Randu menatap ke arah lain, menghindari tatapan tajam ayah Mahesa yang seakan menusuk dada hingga menembus jantung.
"Bukan melawan, tapi aku juga punya hak atas Raisya dan Devan, juga cucuku," imbuh ayah Randu tak mau kalah.
"Tapi __" ucapan ayah Mahesa terpotong saat ia melihat bunda Sabrina datang, apapun masalahnya pasti teratasi dengan munculnya wanita itu.
"Kalian ini sudah tua, rambut sudah putih, kulit sudah keriput, kenapa masih berantem si, malu. Yah, cucu kita sudah banyak, kalau mereka melihat kakeknya seperti ini gimana?" tukas bunda Sabrina.
Ayah Randu mengatupkan bibirnya menahan tawa.
"Iya, lagi pula apa yang kalian ributkan, Raisya dan Devan punya rumah sendiri, biarkan mereka tinggal di rumahnya, kita sebagai orang tua tidak boleh memberatkan," imbuh mama Aya.
Ayah Randu dan Ayah Mahesa kembali duduk, mereka bersanding lagi, menundukkan kepalanya dan saling menautkan jari. Keduanya seperti anak SD yang terkena semprot setelah berantem.
"Sekarang bunda tanya sama ayah dan kamu, Mas?" Bunda menunjuk ayah Randu.
Kedua pria itu menggeleng. Meskipun banyak anak, Ayah Mahesa tidak terlalu lincah dan masih butuh bantuan jika merawat bayi, begitu juga dengan Ayah Randu.
"Makanya jangan sok sok an, sekarang masuk kamar, sholat Isya lalu tidur," pinta Bunda.
Seketika ayah beranjak dan berjalan menuju kamarnya, disusul Ayah Randu dari belakang.
"Ini semua gara-gara kamu yang tidak mau mengalah," ucap Ayah Mahesa ketus.
Ayah Randu mendekati pria itu.
"Aku minta maaf, Mas. Aku yang salah."
Ayah Mahesa mengernyitkan dahinya lalu menatap bunda yang masih berada di ruang tengah, setelah itu fokus pada wajah ayah Randu yang nampak menciut.
"Hei, kamu kenapa? Aku lebih suka kamu yang seperti tadi, bukan lembek seperti ini." Ayah Mahesa menepuk lengan ayah Randu.
"Aku nggak bisa, Mas. Bagaimanapun juga kamu adalah panutanku, dan aku tidak bisa melawanmu."
Akhirnya ayah Mahesa tertawa bangga, ia merasa menang menjadi satu-satunya yang disegani di keluarga Rahardjo.
__ADS_1
"Begitu dong, harus ngalah."
Akhirnya ayah Mahesa merangkul Ayah Randu lalu masuk ke kamar masing-masing.
Devan dan Daffa yang ada di atas tangga hanya menggelengkan kepalanya lalu saling menatap istrinya.
"Seharusnya ayah kita yang menang ya, Rin?"
Heeemmm
Airin melipat kedua tangannya dan menatap pintu yang tertutup rapat.
"Kok bisa?" tanya Daffa dan Daffi serempak.
"Bisa lah, kalau ayah kita yang kalah, berarti sekarang kita yang taruhan."
Bulu halus Devan mulai berdiri, dari aura nya ia menangkap ada sesuatu yang menjanggal saat istrinya menaik turunkan alisnya.
"Taruhan apa, Kak?" tanya Daffa antusias.
"Kita berpisah dulu untuk sementara. Aku dan Airin tinggal di rumah ayah Randu. Kakak dan Daffa tinggal di rumah ayah Mahesa."
Seketika Devan menggeleng, "Aku nggak sanggup." Devan angkat tangan, itu adalah tantangan terberat dalam hidupnya, dan ia yakin tidak akan bisa melewatinya.
"Kenapa?" tanya Raisya merasa menang.
"Pokoknya nggak ada tantangan, biarkan saja mereka berantem, yang penting kita bersatu."
Daffa mengangkat jempolnya, ia sangat setuju dengan ucapan Devan. Sebab, ia sendiri sudah kecanduan pada gadis manis yang ada di sampingnya, dan tak mungkin ada kata perpisahan meskipun hanya dalam hitungan jam.
"Kalau begitu kakak bujuk ayah Mahesa, kasihan kan Ayahku, dia tidak punya jatah bersama anak-anak kita," pinta Raisya.
"Oke, nanti aku bujuk ayah, supaya mereka mau berbagi."
Seketika Raisya memeluk Devan dan mengucapkan terima kasih.
Devan kembali mengangkat tubuh Raisya dan membawanya ke kamar. Daffa dan Airin pun kembali ke kamarnya setelah pembantu yang menjaga triplet datang.
"Giliran kita yang cetak bayi," ujar Daffa saat mengunci pintu kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi bacaan yang sangat bagus untukmu
Judul: Atmosphere
__ADS_1
Author: Hilmiath_