
Masih di ruang rawat
Bertubi-tubi pelukan hangat diterima Alisa dari seluruh keluarga. Camelia terisak di pelukan ayah Emir. Tak menyangka kedatangannya untuk menjenguk putrinya di Indo, malah mendapatkan sebuah kejutan. Ia bahagia putrinya disambut dengan baik oleh keluarga dokter Agung dan Bunda Sesil.
"Apa kalian akan tinggal di Turki bersama Mama dan ayah?" tanya Camelia di sela-sela isakannya.
Alisa menatap Alfan yang terus menggenggam erat tangannya. Bagaimanapun juga saat ini ia adalah milik Alfan dan tak berhak mengambil keputusan sendiri.
"Aku akan ikut mas Alfan, Ma. doakan kami," ucap Alisa tanpa ragu.
"Doa kami semua menyertaimu," sahut ayah Emir.
"Maaf, Ma, Yah." Alfan menatap ayah Emir dan Camelia bergantian. "Aku dan Alisa akan tinggal disini saja, kebetulan aku sudah punya rumah yang siap ditempati. Nanti aku akan bulan madu ke Turki setelah Alisa sembuh."
Mendengar kata Turki, otak si kembar langsung jernih setelah beberapa saat keruh karena saling merebutkan Airin.
"Ke Cappadocia?" sahut si kembar serempak. Lagi-lagi mereka sukses mengalihkan perhatian semua orang.
"Kalian mau ikut?" tanya Alfan.
Daffa berlari menghampiri Alfan, membelah semua orang yang masih memenuhi ruangan itu.
"Memangnya boleh, Kak?" tanya Daffa sedikit berbisik.
"Boleh, tapi ada satu syarat." Alfan mengangkat jari telunjuknya.
"Apa?" tanya Daffa penasaran, jantungnya mulai berdegup saat mencium bau-bau kejahilan Alfan.
"Pasti ada maunya."
Baru saja bibir Alfan mendekat di telinga Daffa, bulu kuduk pria itu merinding hingga membuatnya menghindar.
"Nggak jadi deh Kak, nanti aku pergi sama Daffi saja, sekalian bulan madu dengan Airin."
"Ndu, kamu dengar, kan? Kayaknya kita bakalan besanan lagi."
Ayah Randu menanggapinya dengan anggukan, cukup menerima dan berdoa yang terbaik untuk putra-putrinya.
Hampir saja tangan Daffi mendarat di kepala Daffa, laki-laki Itu kembali membuka suara.
"Katanya kamu suka sama Alara."
Gadis yang berwajah blasteran itu hanya menoleh mendengar namanya dipanggil. Belum mengerti bahasa indo dengan baik membuat gadis itu hanya bengong.
__ADS_1
Daffi mengangguk dan tersenyum.
"Sejak kapan anak kita pintar menggombal, Bund?" keluh Ayah, lagi-lagi ia harus menepuk jidat karena ulah si kembar.
"Biarkan saja, yang penting tidak melewati batas yang dilarang agama," jawab bunda dengan santainya.
"Mereka bicara apa, Ma?" tanya Alara pada Camellia dengan bahasa Turki.
Camelia menoleh menatap Daffi yang terus menampakkan senyum kecil.
"Kak Daffi bilang suka sama kamu," jawab Ayah Emir.
Seketika wajah Alara bersemu, ia malu saat Daffi menatapnya dengan tatapan aneh.
Devan dan Raisya datang bersamaan dengan Syakila dan Afif. Mereka langsung menghampiri pengantin baru yang duduk di atas brankar.
"Selamat ya, Lis. Aku doakan semoga kamu dan Mas Alfan bahagia," ucap Raisya yang ada di atas kursi roda.
Alisa turun dari ranjang dan beralih duduk di kursi sehingga keduanya saling bersejajar. Devan tetap setia di belakang Raisya, sedangkan Alfan pun kini berada di sisi Alisa.
"Terima kasih, aku yakin mas Alfan menikahiku karena ide dari kamu dan Devan," ucap Alisa sedikit melirik ke arah Devan yang berjongkok. Kini tak ada kecanggungan lagi di antara mereka, Devan terlihat lebih santai sebagai seorang teman. Begitu juga dengan Alisa yang sudah mengusir nama Devan dari dalam hatinya dan akan menggantinya dengan Alfan.
"Alfan adalah laki-laki yang sangat baik, aku yakin dia bisa membahagiakan kamu," ucap Devan meyakinkan.
"Selamat ya, Kak. Semoga kakak cepat sembuh dan tinggal bersama di play boy insaf ini," celetuk Syakila.
"Masa sih nggak ada yang kasih kado," ucap Alfan mencairkan suasana. Tangannya menengadah ke arah adik-adik Devan dan yang lainnya.
Seketika Alisa mencubit tangan pria itu karena malu.
Nanda menggaruk kepalanya dan mundur, begitu juga dengan Airin yang tak membawa apapun. Tanpa sengaja ia menabrak tubuh tegap Daffa yang ada di belakangnya.
"Maaf ya kak," ucap Airin malu-malu.
"Tidak apa apa."
"Ikut aku!" ajak Daffa yang mulai melangkah maju.
Si kembar, dengan keberaniannya itu berjalan ke arah Alfan bersama dengan Asyifa dan Airin. Mereka sudah siaga setelah Alfan memintanya untuk memanggil penghulu.
"Aku bawa dong, ini untuk, Kakak."
Daffi menyodorkan sebuah kotak yang berukuran sedang, begitu juga dengan Daffa yang melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Ini beneran untuk aku?" tanya Alfan.
"Iya, tapi khususnya untuk kak Alisa, itu langsung diimpor dari Jepang, dijamin awet."
Alfan mengerutkan alisnya dan mengocok kotak hadiah yang saat ini ada di tangannya.
"Bukanya nanti saja, Kak Alisa masih sakit, kasihan," imbuhnya, menarik pucuk hijab Airin mengajaknya mundur.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, kamar yang tadi dipenuhi dengan tamu, kini terasa hening. Hanya ada Alisa dan Alfan yang sibuk dengan laptop di pangkuannya. Sesekali Alfan meraih ponsel yang ada di meja, sedangkan Alisa hanya bisa menjadi penonton saja. Ia masih bingung mau bicara apa dan akhirnya memilih diam dengan angan-angan.
Jantungnya terus berdegup kencang saat menatap keseriusan Alfan yang kini beralih pada dokumen yang tadi di kirim salah satu pegawainya.
"Mas, apa kamu tidak capek seharian ini bekerja terus." Alisa memberanikan diri untuk menegur Alfan yang sudah beberapa kali menguap.
"Tanggung sih, tinggal empat yang belum ditandatangani," jawabnya sambil menghitung map yang ada di mejanya.
"Besok kan bisa," timpal Alisa tak mau kalah.
Terpaksa Alfan menutup laptop dan menumpuk mapnya lalu beranjak menghampiri Alisa.
"Kamu tidur dulu, nanti aku akan tidur di sofa." Alfan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Alisa kecuali kepala.
Alisa menatap sofa yang sangat sempit lalu menatap Alfan yang tinggi dan bertubuh kekar.
"Di sini saja, nggak papa."
Alisa menepuk ranjang yang masih kosong.
"Beneran?" tanya Alfan memastikan.
Alisa mengangguk dan menggeser tubuhnya ke pinggir.
Alfan segera naik setelah mendapat lampu hijau, tak segan-segan ia mencium pipi Alisa dan menopangkan kepala gadis itu di tangannya.
"Mas, aku mau tanya? Tapi jawab yang jujur!" pinta Alisa mendongak.
"Tanya apa?" Alfan merapikan rambut Alisa yang menutupi pipinya.
"Umur kita kan beda, aku lebih tua. Kenapa kamu menikahiku? Tidak mungkin karena cinta, kan? Sedangkan kita baru kenal."
Alfan menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan halus.
"Beberapa kali aku dekat dengan perempuan, tapi aku dan bunda selalu selisih. Terkadang bunda suka, aku yang nggak terlalu suka, dan begitu seterusnya. Tapi saat aku bilang pada bunda kalau aku menyukaimu, bunda langsung setuju. Umur bukan halangan bagi kita untuk bersatu, jadi jangan dibahas, anggap saja k amu menikah dengan berondong."
__ADS_1
Seketika cubitan mendarat di perut Alfan hingga membuat sang empu meringis.
**Nars**isnya kumat