
Eheeemm
Suara deheman membuyarkan lamunan Alisa, gadis itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan mata yang digenangi air mata. Selain keluarga, Alisa tak ingin orang lain menyaksikan keterpurukannya.
"Alfan," seru om Andre yang ada di samping Alisa. Sebagai sahabat dokter Agung, om Andre cukup mengenal Alfan sebagai sosok yang mandiri dan bertanggung jawab. Tidak neko-neko dan selalu mematuhi orang tuanya.
"Pagi Om, Tante," sapa Alfan menyalami kedua orang tua Alisa.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya om Andre, mengedarkan pandangannya ke arah belakang, tak ada siapapun di sana selain Raisya bersama Devan dan Anggia.
"Sama ayah dan bunda, mereka ngobrol dengan Bunda Sabrina di ruangan ayah Mahesa."
Om Andre manggut-manggut mengerti.
"Hai, Lis. Bagaimana kabar kamu?" tanya Alfan mulai cipika-cipiki. Dari lubuk hati yang paling dalam, ia pun iba melihat keadan Alisa.
"Aku lebih baik." Tangannya saling terpaut tepat di depan dadanya.
"Om, Tante, boleh nggak aku temenin Alisa?" tanya Alfan ragu. Sebenarnya ia belum punya rencana apapun untuk mendekati gadis itu, tapi karena dorongan dari sahabat laknatnya, memaksakan Alfan harus memutar otaknya. Ia tak mau kalah telak dari Devan yang bsia menaklukkan hati Alisa.
"Dengan senang hati, semoga kehadiran kamu membuatnya lebih baik." Setelah sekian lama kini om Andre merasa tenang saat Alfan mendekati putrinya.
Tante Aida dan om Andre memilih pergi, memberi ruang untuk Alfan yang nampak membawa suasana baru.
Alfan duduk di kursi yang ada di samping Alisa. Keduanya menatap ke arah yang sama. Namun, dengan pandangan yang berbeda.
"Kamu lihat matahari itu?" tanya Alfan, menunjuk ke arah mentari yang semakin memanas. Membagi cahayanya untuk segala ciptaan Tuhan.
Dengan pelan Alisa mendongak, menatap ke arah jari Alfan menunjuk. Bibirnya masih membisu. Akan tetapi ada sedikit warna yang yang membuat hatinya tersentuh, Ia mengulas senyum saat mendengar ocehan Alfan yang tak ada hentinya.
Ternyata dia sangat lucu.
Hah
Alfan menghembuskan nalas kasar, menoleh lagi ke arah Alisa yang kembali menampakkan wajah datarnya.
"Aku seperti penjual jamu, tapi nggak ada yang beli," cicit Alfan dengan pelan.
Alisa menoleh menatap wajah Alfan dari samping, lalu kembali ke depan saat Alfan mulai menyadari apa yang ia lakukan.
Tak sengaja, Alfan menangkap makanan yang masih utuh lalu meraihnya.
__ADS_1
" Kamu pasti belum makan, aku suapin ya?" tawar Alfan.
Alisa menggeleng tanpa suara.
Perutnya benar-benar tak bisa menerima apapun termasuk bubur yang saat ini ada di tangan Alfan.
"Kalau kamu nggak makan, pasti sakit kamu semakin parah. Kalau sudah parah, mati. Kamu akan dikubur, apa kamu tidak memikirkan nasib orang-orang yang menyayangi kamu? Apa kamu tidak memikirkan nasib tante Camelia yang pasti akan hancur karena kepergian kamu?" Alfan menjeda ucapannya, menghirup udara pagi yang menyejukkan.
"Kalau kamu nggak mau makan sendiri, kita joinan. Aku suapi kamu, setelah itu gantian aku, dan seterusnya sampai habis."
Alfan mengangkat tangan, menghadapkan telapaknya ke arah tangan Alisa. Ia terus mencari titik yang bisa membuat Alisa nyaman.
"Kita tos dulu," ajak Alfan.
Tangan Alisa masih menggenggam erat, selain Devan, Alisa pun belum dekat dengan pria manapun, hanya Devan satu-satunya pria yang mampu menembus jantung hatinya saat pertama kali bertemu.
Terpaksa Alfan menurunkan tangannya kembali setelah tidak mendapat sambutan baik dari Alisa.
"Tidak papa, lain kali saja tos nya, setelah kita halal," goda Alfan kemudian.
Alisa terkejut, ia menatap wajah Alfan yang juga menatapnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Alisa lemah dan pelan, namun masih bisa didengar Alfan dengan jelas.
Alisa menatap sorot mata Alfan yang nampak serius, hatinya yang terasa mati tiba-tiba saja berdebar-debar. Seolah-olah tersiram kembali dan menemukan sesuatu baru dalam hidupnya.
"Kayaknya kita pernah bertemu di pernikahan Syakila," Alisa mengalihkan pembicaraan.
"Benar sekali, dan sepertinya mulai sekarang siang malam kita akan sering bertemu," lanjut Alfan.
Sedikit pun ia tak memberi kesempatan Alisa untuk menghindar dari gombalannya.
Hening lagi, Alisa meresapi ucapan Alfan.
"Bagaimana, apa kamu mau menerima tawaranku?" tanya Alfan yang kedua kali, dan itu semakin membuat suasana canggung.
Alisa mencoba mendorong kursi roda yang didudukinya. Namun, seketika di cegah oleh Alfan. Pria itu berlutut di depan Alisa hingga matanya bisa menelusuri setiap jengkal wajah Alisa. Demi pernikahan sahabat, demi kesembuhan Alisa, dan demi memantapkan hatinya untuk tidak pin-plan, Alfan mencoba yakin dengan ucapannya kali ini.
"Lis, aku tahu kamu belum bisa melupakan Devan, aku bukan apa-apa dibandingkan dia, tapi percayalah aku akan membahagiakanmu dengan caraku sendiri."
Mata Alisa berkaca, ia tahu jika Alfan sangat serius, akan tetapi tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menerima pria lain. Apalagi Alfan adalah sahabat Devan, sang mantan.
__ADS_1
Alisa tak bisa berkata, kenangan manis itu selalu saja hadir jika nama Devan terdengar.
"Apa aku boleh pinjam hp mu?" pinta Alfan menengadahkan tangan di depan Alisa.
Alisa masih membisu dan enggan mengambil benda pipihnya yang ada di pangkuan.
"Apa aku boleh meminjamnya?" ulang Alfan lagi.
Alisa mengangguk kecil.
Seketika Devan membuka galeri dan mengapus poto Devan yang masih bertebaran di mana-mana, satu pun ia tak meninggalkan jejak sahabatnya di sana.
"Kenapa di hapus?" protes Alisa.
"Sekarang gantian diisi dengan foto kita."
Alfan membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah pucat Alisa lalu memotretnya.
"Sekarang diganti dengan gambar kita saja."
Seketika Alfan pun mengganti wallpaper dengan foto mereka.
"Ya Allah…..ternyata kamu di sini." Alfan menelan ludahnya dengan susah payah saat mendengar suara yang familiar itu dari belakang. Dengan sigap ia meletakkan ponsel Alisa di tempatnya.
Alisa menoleh, menatap wanita cantik yang memakai baju gamis berwarna hijau botol itu mendaratkan tangannya di telinga Alfan yang membuat sang empu meringis.
"Awww… Bunda, sakit," keluh Alfan menahan tangan Bunda.
"Katanya cuma sebentar, tapi lamanya minta ampun, bunda sampai kesemutan nunggunya."
Setelah puas, akhirnya bunda melepaskan jewerannya dan beralih menatap Alisa yang tersenyum kecil.
"Ada Alisa." Bunda Sesil mengulurkan tangannya yang langsung diterima oleh gadis itu.
"Kenalkan, Lis. Ini calon mertuamu," ucap Alfan mengusap-usap telinganya yang terasa ngilu.
Bunda Sesil mengernyitkan dahinya, pengakuan Alfan mengingatkan ke narsis an suaminya dulu yang terus mengakui dirinya sebagai calon istri sebelum diterima.
"Sudah punya bakat apa kamu berani mengakui Alisa sebagai calon istri?" tantang bunda Sesil.
Alfan cekikikan dan mendekatkan bibirnya di telinga bundanya.
__ADS_1
"Aku bisa bikinin bunda cucu yang banyak," bisik Alfan.