Pelangi Senja

Pelangi Senja
Kehadiran Alisa


__ADS_3

Seorang gadis cantik dengan dengan penampilan yang menarik, rambut panjang terurai, tubuhnya dibalut dengan kaos oblong putih yang dilapisi dengan jaket kulit, serta celana jeans hitam dan memakai kacamata senada itu celingukan di sebuah bandara internasional. Koper yang diseretnya terlepas dari tangannya karena harus melihat secarik kertas. Satu-satunya bekal dari sang ayah yang kini berada di tempat berbeda, dia adalah Alisa (putri dari Camelia) yang baru saja tiba di Indo.


Kedatangannya memang sudah direncanakan sejak beberapa hari yang lalu, hanya saja Alisa baru memantapkan hatinya untuk datang. 


Kalau aku anak dari orang indo, itu artinya aku juga pernah tinggal di sini. 


Alisa menghirup udara dalam-dalam membulatkan tekadnya untuk berkelana. Bukan sesuatu yang aneh ia tinggal seorang diri, hanya saja ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru dengan orang-orang yang baru pula.


"Nona Alisa." Suara berat dari belakang mengejutkannya.


Alisa menoleh dan menatap penampilan pria yang memakai baju hitam itu dari atas sampai bawah lalu mengangguk. Ia masih merasa asing dengan wajah seseorang yang menyapanya saat ini. Akan tetapi ucapan sang ayah membuatnya mengembangkan senyum. Ciri-ciri orang tersebut persis seperti yang diucapkan ayah Emir sebelum dirinya pergi.


"Nama saya Paidi, supir yang diperintahkan pak Emir untuk mengantarkan Non ke apartemen."


Pria paruh baya itu mengambil koper milik Alisa dan membawanya ke arah mobil. Sedangkan Alisa mengikutinya dari belakang.


Baru saja keluar dari bandara, Alisa sudah merasa mual, tak biasanya ia mengalami jet lag pesawat, namun kali ini tubuhnya terasa sedikit lemas dan kepalanya terasa pusing. Gadis itu memejamkan mata, menghilangkan sejenak rasa kantuk yang menyelimutinya. Baru lima menit, Alisa kembali terbangun dan membuka lipatan kertas di saku jaketnya. Ia menyodorkan ke arah supir yang sibuk dengan setirnya.


Paidi membaca sejenak lalu tersenyum dan menatap Alisa dari spion. 


"Benar, Non. Ini adalah kota yang tertulis di kertas itu." Paidi menyungutkan kepalanya ke arah tulisan yang ada di tangan Alisa. Selain dapat petunjuk dari tulisan itu, Paidi juga sudah berkomunikasi lebih dulu dengan ayah Emir lewat sambungan telepon.


Ayah, aku datang. Semoga Tuhan cepat mempertemukan kita. 


Dalam perjalanan Alisa terus mengulas senyum saat menikmati indahnya kota. Bangunan yang menjulang tinggi tak kalah kokohnya dari yang pernah ia lihat di berbagai negara. Hanya saja ini pertama kalinya ia harus pergi seorang diri tanpa sang kekasih.


Hampir tiga puluh menit membelah jalanan yang semrawut dengan berbagai kendaraan, akhirnya Paidi menghentikan mobilnya di sebuah apartemen mewah yang berada di tengah-tengah kota.


"Mulai hari ini Non akan tinggal di sini, dan saya yang akan membantu Non untuk bepergian," ujar Paidi dengan ramah. 


Untuk yang kesekian kali Alisa hanya menanggapinya dengan anggukan kepala, ia masih bingung cara berbicara dengan bahasa yang dilantunkan supirnya.

__ADS_1


"Kapan bapak membantuku mencari ayah?" tanya Alisa dengan sedikit gagu.


"Sekarang Non istirahat dulu, nanti sore saya akan mengantar Non pergi."


Alisa langsung turun dan kembali mengikuti langkah Paidi masuk. Sesampainya, supir itu menyerahkan kunci apartemen dan nomor ponselnya serta kunci mobilnya.


"Kalau non butuh sesuatu, panggil saya, jangan kemana-mana dulu," pesan Paidi seperti perintah ayah Emir. 


Alisa masuk ke dalam dan mengunci pintunya. Ia mengedarkan pandangannya  ke arah sudut ruangan yang kalah mewah dari rumah Ayah Emir. Terdapat satu ruang tamu dan dua kamar, berbagai perabot pun sudah melengkapi tempat itu yang membuat Alisa nyaman dengan tempatnya. 


Alisa melepas jaket dan meletakkannya di sofa, setelah itu masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di sana. Perjuangannya baru akan dimulai, dan Alisa sudah siap dengan risiko yang akan diterimanya. Sebab, banyak kemungkinan rencananya tak semulus yang ia pikirkan, apalagi ia dan sang ayah belum pernah bertemu sekalipun. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alisa mengerjap-ngerjapkan matanya, tak terasa ia terlelap dalam kurun waktu yang lama. Hampir empat jam gadis itu tenggelam dalam mimpinya  yang sangat indah. Bertemu seseorang yang masih terselip di hatinya. Kendatipun sulit, Alisa terus berusaha meyakinkan dirinya untuk melupakan pria itu. 


"Ma, aku lapar," teriak Alisa seraya terbangun dan duduk di tepi ranjang. Diam sejenak, mengumpulkan nyawanya yang masih tercecer, Menyisir rambutnya dengan jari-jarinya.


Tak ada jawaban, Alisa beranjak dari duduknya dan keluar dari kamarnya, pemandangan ruang tamu yang berbeda menyadarkan Alisa, kalau saat ini dirinya jauh dari wanita yang melahirkannya.


Alisa turun dari mobilnya, ia menatap sebuah bangunan yang sangat unik dan mewah,  semua terbuat dari kaca transparan yang bisa menembus penglihatan dari arah luar ke dalam.


"Bagus banget," gumam Alisa kagum.


Kini ia tak hanya ingin makan di dalam, namun juga ingin berkenalan dengan sang pemilik restoran tersebut


Alisa masuk dan duduk di kursi kosong yang ada di bagian pinggir, ternyata di balik kemewahan bangunan itu terdapat danau yang sangat indah. 


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?"  tanya salah satu waitress yang datang menghmpirinya. 


Alisa membuka buku menu yang ada di depannya, pilihannya jatuh pada steak daging wagyu dan jus mangga kesukaannya. 

__ADS_1


Baru saja menikmati indahnya danau yang ada di luar restoran itu, Alisa dikejutkan dengan sesuatu yang menghantam punggungnya, sontak ia langsung menoleh. 


"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja." Seorang gadis remaja yang ada di belakangnya itu menangkup kedua tangannya, wajahnya menciut dan  kedua tangannya gemetar menahan takut. 


"Lain kali hati-hati!" sungut Alisa seraya mengelus punggungnya yang terasa ngilu.


"Ada apa ini?" sahut suara berat seorang pria yang baru saja datang.


Alisa menatap pria itu,  wajahnya familiar di matanya, namun ia tak mengenalnya.


"Ada apa, Ra?" 


Gadis yang bernama Mayra itu mundur dan bersembunyi di belakang pria tersebut.


"Kakak aku takut," rengek Mayra. 


Alisa diam, otaknya masih traveling dengan kedua wajah yang menurutnya sangat mirip dengannya itu.


Siapa mereka, apa kami pernah bertemu, tapi di mana? 


"Ada apa ini, Kak?" tanya laki-laki itu dengan ramah dan sopan.


"Tidak ada apa-apa, tadi adikmu menyenggolku, dan aku rasa tidak ada masalah yang serius."


Alisa mengangkat kedua bahunya, ia tak mempermasalahkan apa yang terjadi. Sebagai penduduk baru ia tak mau membuat keributan.


"Maafkan adikku, dia memang suka ceroboh."


"Ngomong-ngomong, kakak bukan bukan orang sini, ya? Kenalkan namaku Ryan, ini adikku, namanya Mayra."


Alisa menyambut uluran tangan laki-laki tersebut dan menyebut namanya dengan jelas. 

__ADS_1


"Aku permisi dulu ya kak,  kami sudah ditunggu ayah di luar," pamit Ryan. 


Alisa mengangguk, menatap punggung Ryan dan Mayra yang berlalu melewati pintu utama. 


__ADS_2