
Kebahagian datang dari seluruh penjuru tanpa disangka, itulah yang menimpa keluarga ayah Mahesa serta ayah Randu hari ini. Tak lupa Devan yang lebih utama, ia bagaikan tertimbun sebuah anugerah hingga beberapa kali sujud syukur.
Di kamar itu hanya ada Raisya dan Devan, keduanya saling menengadahkan tangan dan mengucap terima masih yang tak ada habisnya.
Devan memutar tubuhnya. Ia mengusap ubun-ubun Raisya dengan tangan kanan, setelah itu memeluk dan menciumnya. Hari ini ia merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia atas apa yang diberikan Allah.
"Kak, kata bunda malam ini akan ada tamu," ucap Raisya seperti apa yang dikatakan Bunda lewat pesan.
Hmmm… hanya kata itu yang keluar dari bibir Devan.
Berita kehamilan Raisya memang sudah menyebar ke mana-mana, menyedot perhatian mereka hingga beberapa kerabat ingin datang mengucapkan selamat secara langsung, termasuk keluarga Dokter Agung dan Om Andre.
"Terus hari ini kita masak apa?" tanya Raisya, ia bingung tidak bisa membantu Naimah memasak karena kondisinya yang masih lemah.
"Jangan dipikirkan, pasti bunda dan mama sudah tahu apa yang harus disiapkan."
Keluarga yang saling mengisi disaat membutuhkan, saling menerima uluran tangan untuk menyambung, saling membangun bahu untuk bersandar dengan setiap masalah, dan memberikan kenyamanan pada yang lain. Tak diragukan lagi, Devan yakin jika bunda tidak mungkin lepas tangan dengan itu semua.
Raisya melepas mukenanya, melipatnya lalu beranjak dari duduknya. Seketika Devan mendekapnya dari belakang, kedua tangannya meraba perutnya yang masih rata.
"Anak-anak ayah yang manis, jangan bikin bunda sakit, ya." Baru saja Devan mendaratkan ciuman di perut Raisya, wanita itu merasa mual. Terpaksa ia mendorong tubuh Devan dan berlari ke kamar mandi.
Kenapa mual lagi, apa anakku jijik padaku.
Devan mencium di beberapa bagian bajunya, yang ternyata wangi, bahkan baju koko yang ia pakai itu diberi parfum yang disukai Raisya.
Devan masuk ke kamar mandi, dan seperti tadi yang dilakukan dirumah sakit, ia memijat tengkuk leher wanita itu.
"Apa aku panggil dokter Mila?"
Raisya mengelap mulutnya dan menoleh.
"Nggak usah, ini sudah biasa, hampir seratus persen ibu hamil muda akan mengalami mual dan muntah, jadi Kakak tak perlu khawatir."
Devan merangkul pundak Raisya. Setelah keluar dari kamar mandi, mereka duduk di tepi ranjang dan menatap ke arah senja yang mulai menampakkan warna jingga terang.
"Kembaranmu tiba, walaupun nggak ada pelanginya tetap indah," cetus Devan mengikuti arah mata Raisya memandang.
''Kenapa Kakak menyebutku pelangi Senja? Apa ini ada hubungannya dengan Alisa?"
__ADS_1
Devan mengeratkan rangkulannya, meletakkan kepala Raisya di pundaknya.
"Kamu memang bukan cinta pertamaku, tapi tenanglah, aku tidak pernah menyimpan nama dua orang dalam satu hati, jadi julukan itu khusus untuk kamu. Aku dan Alisa berpacaran lama, tapi harus kamu tahu, aku sudah membuang semua kenangan dan menggantinya dengan yang baru."
Hampir saja Raisya membuka mulut, suara berisik membuat keduanya saling tatap, karena pintunya yang sedikit terbuka membuat suara itu semakin menggema.
"Si kembar sudah datang."
Pertanda rumah mereka bakalan heboh jika kedua pria itu hadir.
"Kakak… " seru Daffa dari bawah tangga.
Raisya dan Devan langsung keluar, ia tak mau mereka naik ke atas dan membuat onar.
"Stop, tunggu di situ!" teriak Devan saat Daffa hampir saja menginjakkan kakinya ke tangga.
Ternyata tak hanya Daffa dan Daffi yang datang, bunda dan ayah pun sudah tiba bersama dua pembantu, mereka masuk dengan beberapa rantang di tangannya.
"Sayang, ayo ke sini, bunda sudah masak kesukaan kamu, juga untuk acara nanti malam," ujar Bunda mulai menata makanan di meja makan bersama Naimah dan yang lain.
"Bunda memang yang terbaik." Devan mencium pipi Bunda bergantian, meskipun paling tua, ia tak pernah malu memanjakan bundanya di depan orang lain.
"Masih, tapi nggak papa, bukannya bunda dulu seperti itu?"
"Banget, anak bunda banyak, jadi Bunda ngidamnya itu, beda-beda."
Raisya jadi antusias ingin mendengarkan cerita Bunda Sabrina disaat hamil. Itung-itung inspirasi supaya dia bisa melewati kehamilannya dengan kesabaran seperti bundanya.
"Ayo bunda ceritakan, gimana pengalaman bunda saat hamil kak Devan dan yang lain?"
Raisya menggoyang-goyangkan lengan Bunda, memaksa.
Bunda Sabrina menatap ayah yang terus menunduk seperti memikirkan sesuatu.
"Waktu hamil kak Devan, bunda sangat mandiri, tidak pernah mual dan juga tidak manja. Waktu itu kak Devan sangat mendukung bunda untuk melakukan aktivitas harian, jadi tidak ada masalah."
Ada, tapi bunda menyembunyikannya dari semua orang. Demi menutupi aib ayah, Bunda rela menelan masalah itu sendiri.
Meskipun ruang makan itu berjarak beberapa meter dari ruang tengah, ayah bisa mendengarkan ucapan bunda dengan jelas.
__ADS_1
"Terus?"
"Terus yang keguguran itu bunda ngidam dodol, kalian tahu nggak, ternyata ayah tidak tahu makanan dodol, sampai nyuruh ayah Randu itu belinya yang nggak terlalu pedas."
Semua tertawa mengingat cerita bunda, termasuk Naimah. Bahkan Daffa dan Daffi membayangkan ekspresi wajah Ayah saat dijelaskan apa itu dodol, pasti tercengang dengan mata bulat sempurna.
"Kalau waktu Syakila gimana, Bunda?"
"Kalau hamil Syakila, bunda ngidamnya sama kayak bunda Arum, jalan-jalan terus sampai kadang lupa waktu, entah itu ngidam atau sengaja ingin menghabiskan uang ayah, pokoknya setiap hari kami jalan sama bunda Sesil juga."
"Nah, kalau yang ini pasti aneh," tebak Devan.
"Hamil si kembar, orangnya saja terlahir aneh, pasti ngidam yang aneh kan, Bunda?"
"Kalau si kembar itu bunda nggak mau deket sama ayah, nggak tahu kenapa kalau mencium bau keringat ayah bunda pengen muntah, padahal setiap jam ayah mandi dan pakai parfum, tapi tetap saja begitu."
"Kalian anak durhaka, sudah mengecewakan ayah." Devan menunjuk Daffa dan Daffi bergantian.
Daffa dan Daffi menatap ayah dari jauh.
"Terus kalau di bungsu gimana? Apa dia beda atau barangkali ada yang sama?"
"Entah, itu sebuah kebetulan atau apa, kalau Asyifa itu bunda merasa seperti mengulang hamil Kak Devan, mandiri dan tidak merepotkan ayah. Mungkin dia juga tahu kalau bunda sudah berkali-kali hamil, jadi dia gak rewel."
"Tapi tetap berbeda, hamil kak Devan yang paling mandiri," sahut ayah dengan lantang. Menunjukkan ke semua orang jika Devan tetap yang paling utama.
Bunda meletakkan piring yang di pegangnya lalu menghampiri ayah.
"Jangan marah, aku cuma cerita ke mereka."
Cup
Sebuah ciuman mendarat di pipi Ayah dengan lembut
Itulah kenapa cintaku untuk bunda tidak pernah surut, bunda selalu bisa membuatku tenang.
*****
Sambil nunggu up, intip ini juga yukkk, cintanya tak kalah rumit, antara dua orang yang bersahabat namun saling bermusuhan dan kemudian mencintai wanita yang sama
__ADS_1