Pelangi Senja

Pelangi Senja
Fakta yang mengejutkan


__ADS_3

"Alhamdulillah, tidak ada luka yang serius di bagian kepala. Kami sudah melakukan pemeriksaan yang intensif juga tidak ada luka dalam, tapi __"


Dokter Ryan menghentikan ucapannya, wajahnya yang tadi terlihat biasa, kini  meredup dan menunduk. Seolah-olah ada sesuatu yang enggan dijelaskan.


"Tapi apa, Dok?" tanya Devan sembari menggoyang-goyangkan tangan dokter Ryan. Syakila yang ada di belakang ikut maju dan berdiri di samping sang kakak.


"Dokter Raisya mengalami patah tulang di bagian kaki."


Belum selesai mengucapkan kalimatnya, Devan kembali menggeleng tak percaya. Tangis Syakila pecah, rasa bersalahnya semakin membuncah tiada ujung.


"Ini tidak boleh terjadi, seharusnya kakiku yang patah, bukan kak Raisya. Seharusnya aku yang tidak bisa jalan, Bunda."


Bunda merengkuh tubuh Syakila yang bergetar. Setelah mendengar cerita putri keduanya, kini bunda ikut merasakan betapa hancurnya hati Syakila.


"Jangan bilang kalau istriku __" ucap Devan dipenuhi ketakutan.


"Bisa disembuhkan, Kak," sahut Afif yang baru saja keluar. Ia meyakinkan Devan untuk tidak runtuh mendengar fakta itu.


Rasa sesak berangsur menghilang, meskipun terluka, setidaknya ada harapan sembuh.


Kini semua mata tertuju pada dokter Afif yang ikut andil menangani Raisya. Afif menghampiri Syakila dan memeluknya, menggantikan posisi bunda.


"Kak Raisya masih bisa berjalan seperti dulu, hanya saja butuh waktu untuk itu. Kita para tim medis akan melakukan yang terbaik, kakak cukup berdoa dan mendukungnya untuk tetap semangat, karena hanya itu yang membuatnya untuk tidak berkecil hati dengan keadaannya."


"Mas, aku minta maaf. Kalau aku lebih dewasa pasti semua ini tidak akan terjadi."


Afif mendaratkan jarinya di bibir Syakila. Dari lubuk hati yang terdalam, ia pun menangis melihat kondisi Raisya secara langsung. Namun, dirinya tetap tabah dan berusaha yang terbaik untuk wanita itu.


"Ini musibah yang bisa terjadi pada siapa saja, dengan ini kita semua bisa intropeksi diri, bahwa setiap masalah itu harus dibicarakan, jangan dipendam," jelas Afif.


Ya Allah, apa yang harus aku katakan pada Raisya? Aku siap menjadi kakinya, tapi apa dia bisa menerima kenyataan ini, lirih hati Devan.

__ADS_1


"Apa sekarang aku bisa menjenguknya?" tanya Devan yang sudah tidak sabar melihat wajah istrinya.


"Kak Raisya akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Kakak bisa menjenguknya."


Dokter berbondong-bondong mendorong brankar menuju ruang rawat diikuti seluruh keluarga yang ada di sana.


Kamu bukan milikku lagi,  tapi setidaknya banyak orang-orang yang menyayangimu.


Afif menatap wajah Raisya yang masih betah dalam dunia mimpinya.


Devan mengikuti ke mana brankar itu didorong, pandangannya tak teralihkan dari perban yang membalut kepala istrinya.


Berulang kali aku menyakitimu, berulang kali pula kamu memaafkanku, cepatlah bangun. Aku memang suami yang jahat, kamu pantas menghukumku,  tapi jangan tinggalkan aku. 


Ayah menarik lengan Devan dari belakang. 


"Kamu sholat dulu, nanti kamu bisa temani Raisya sepuasnya," pinta ayah Mahesa. Ia tahu apa yang Devan rasakan, mengingat dirinya dulu saat bunda Sabrina mengalami kecelakan.


Devan mengangguk cepat. Tanpa protes ia langsung berlari ke arah mushola yang ada di samping rumah sakit.


Setibanya di sudut ruang istirahat, Devan menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang menyebut nama istrinya. Ia menggeser tubuhnya hingga tertutup tirai yang memisahkan pintu dan ruangan.


"Memangnya kenapa? Bukankah mas Devan sangat mencintainya, semua keluarga dan orang-orang di sini juga sayang padanya, aku kira orang baik tidak punya masalah," timpal suster yang lainnya.


Terdengar helaan napas panjang dari dalam.


"Kamu tahu pasien yang bernama Alisa, kan? Yang mengidap maag kronis?"


"Hmmm….Memangnya kenapa dengannya? Kasihan juga, aku lihat semakin hari semakin kurus."


"Tadi dokter Raisya melihat mas Devan masuk ke ruangan Alisa dan memberi makanan padanya."

__ADS_1


Jantung Devan seakan berhenti berdetak, dadanya sakit bak terimpit batu besar yang membuatnya sulit bernapas.


"Padahal Dokter Raisya sudah senang saat melihat mas Devan datang, dia sampai sembunyi di balik pintu untuk memberi kejutan, tapi setelah mendengar mas Devan menanyakan kamar Alisa, dia langsung menangis dan hampir jatuh. Kamu pasti tahu lah, rasanya sebagai seorang istri saat suaminya perhatian pada wanita lain."


"Serem juga ya punya suami tampan, mudah-mudahan masalahnya cepat selesai. Mereka itu pasangan yang serasi. Sayang aja kalau hubungannya sampai hancur karena wanita lain."


Jadi Raisya tadi melihatku ke kamar Alisa. Tidak salah lagi kalau akulah penyebab dia kecelakaan. 


Setelah mencerna ucapan dua suster itu, hati Devan menjerit, penyesalannya semakin mendalam, meskipun tahu hubungan istrinya dengan Syakila belum membaik, Ia tetap menjadi pokok utama penyebab musibah itu, pikirnya.


Di ruangan yang sangat menyejukkan. Dinding-dinding dipenuhi kaligrafi yang indah. Sebuah lemari yang berisi kitab-kitab dan sebagainya, lantunan ayat-ayat suci terus menggema silih berganti dari mereka yang berkunjung. Devan menumpahkan air matanya, bersujud dihadapan sang Ilahi Robbi, meluapkan keluh kesahnya, mengadu dan memohon untuk kesembuhan istrinya dan mengharap mendapat kesempatan untuk menebus dosa-dosanya.


Keadaannya yang sangat kacau mengundang seseorang yang memakai baju koko putih itu mendekatinya.


"Assalamualaikum…" sapa pria yang duduk di sampingnya tanpa dipersilakan.


"Waalaikumsalam," jawab Devan dengan suara berat seraya mengusap air matanya.


"Apakah Mas mengalami kesulitan? Tadi saya melihat Mas bersujud dengan sebuah tangisan?" tanya pria itu.


Devan mengangguk kecil, matanya kembali berkaca mengingat keadaan istrinya saat ini.


"Istri saya kecelakaan, dan itu semua adalah salah saya. Dari awal kami menikah, saya sudah menyakitinya. Hingga pernikahan kami beberapa bulan, dia masih sabar menjadi istri yang baik. Dia tidak pernah mengeluh dengan sikap saya yang terus-terusan mementingkan wanita lain. Sampai hari ini saya pun tak sengaja menyakitinya."


Pria itu menepuk lengan Devan dari samping dan beralih duduk di depannya hingga keduanya saling tatap.


"Percayalah, Allah akan memberikan kemudahan di balik kesulitan. Setiap orang pasti mempunyai kesalahan baik besar maupun kecil, dan saya yakin, istri Mas akan memaafkan, Mas. Jangan sia-siakan orang yang dengan tulus menerima kita apa adanya. Jangan sampai Mas menyesal yang tak berujung jika orang itu pergi," tutur pria itu dengan gamblang. 


"Sekarang kembalilah! Saya yakin istri Mas sudah menunggu," imbuhnya. 


Dengan sigap Devan berdiri teringat Raisya yang sudah dipindahkan ke ruang rawat.

__ADS_1


Setelah melewati beberapa lorong dan tangga, akhirnya Devan tiba di depan ruangan Raisya. Masih hening, si kembar duduk di kursi depan ruangan, di sisinya ada David dan Airin serta Nanda,  Asyifa yang tak mendapatkan tempat memilih duduk di pangkuan Daffa yang sibuk dengan ponselnya.


Devan langsung masuk dan mengulas senyum saat melihat Raisya membuka matanya. 


__ADS_2