
Senja berada di ufuk Barat, warnanya yang mencolok membuat panorama semakin indah, seperti biasa aku pulang dengan jas yang tersampir di tangan. Wajah lelah dengan baju kemeja yang kancingnya bagian atas lepas. Mataku sedikit ngantuk karena terlalu lama menatap layar laptop. Hiasan indah sudah melambai-lambai di teras dengan empat buah hati yang melengkapi.
Randu membawakan tas. Entah kenapa, sudah kubilang berapa kali pada pria itu untuk bekerja di perusahaannya sendiri, tapi masih saja suka menemaniku. Dia kawan yang setia bersamaku dalam suka maupun duka.
"Kamu langsung pulang saja kasihan anak-anakmu, nanti mencari." kataku saat istriku tercinta menyambutku, mencium tanganku dengan lembut lalu memelukku.
Dia langsung pergi setelah uluk salam. Kehidupannya dengan Aya juga sangat bahagia sepertiku.
Aku mengelus perut istriku yang mulai membuncit, wajahnya yang cantik semakin cantik. Dia hamil anak kami yang ke enam. Kesabarannya membuatku takluk dengan satu arah.
"Bagaimana hari ini, apa anak kita rewel?" tanyaku lirik.
"Alhamdulillah, semua baik."
Aku pun tak tahu, terbuat dari apa hatinya sehingga bisa melunakkan hatiku yang sekeras batu. Merajut rumah tangga dengannya bukanlah impianku. Namun Allah berkata lain, tulang rusukku ada pada dirinya hingga kami dipertemukan dengan keadaan yang tidak baik.
"Ayah, tadi bunda membelikan aku ini," ucap anakku yang pertama sembari menunjukkan mobil remot di depanku, dengan bangganya dia memamerkannya juga di depan semua pembantu yang ada di rumah.
"Kita masuk yuk, sudah hampir maghrib."
Aku merengkuh pinggang istriku dan membantunya menggendong Syakila, sementara Devan dan si kembar berlari-lari, bibir mereka tak lepas menurunkan suara mobil mendesing.
Aku bermain dengan anak-anak. Istriku membuatkan aku kopi. Kehamilannya kali ini sangat mandiri seperti saat hamil putra ku yang pertama, katanya. Sebab, waktu itu aku tidak tahu pasti, dan mengabaikannya layaknya orang asing yang menerobos masuk dalam hidupku untuk menutupi aibnya.
"Ini kopinya, Mas." Dia menyuguhkan di depanku, aku tak menyentuhnya melainkan menepuk pahaku memberinya kode untuk duduk di sana.
"Malu," katanya melirik ke arah si kembar yang baru dua tahun itu, lalu melirik Devan yang masih sibuk dengan mainannya. Syakila juga sibuk memeriksa si kembar dengan alat dokter-dokteran.
"Kenapa harus malu, kan anak-anak kita belum mengerti." Sekali bujuk, akhirnya ia mau duduk di pangkuanku dan terus meraba rahang kokohku.
"Kamu tidak bosan hidup bersamaku?" kata nya sangat konyol. "Setiap hari memakai daster, berkerudung, tidak pernah perawatan dan juga bau dapur," imbuhnya.
Aku tersenyum sembari menyodorkan dot di bibir Daffa yang nampak haus. Aku mencium bibirnya dengan lembut, itu adalah satu-satunya vitamin penambah semangat.
__ADS_1
"Kalau bosan tinggal cari lagi, gampang kan."
Dia menepuk lenganku lalu menjatuhkan kepalanya di pundakku, ia tak pernah mengeluh dengan bau keringatku.
"Anak kita sudah banyak, aku nggak mau dimadu," katanya pelan, namun sangat menusuk hingga ke ulu hati. Aku teringat kala menikahi Camelia tanpa izin darinya, bahkan aku tidak mempedulikannya yang hamil anakku dan memilih bersenang-senang dengan wanita yang aku cintai.
"Bercanda, Sayang."
Sayup-sayup suara Adzan terdengar sangat merdu, ia yang lebih dulu mengajak anak-anak masuk ke kamar. Tak memperbolehkan semua pembantu menjaga anak kami saat sholat dan memilih membiarkan mereka di kamar.
"Nanti kakak harus ikuti gerakan ayah," ucapnya yang masih bisa aku dengar dari kamar mandi.
"Iya, Bunda," jawab Devan. Saat aku keluar bocah itu memakai sarung dengan asal dan peci milikku yang kebesaran.
Si kembar sudah aktif bersujud di tempatku dengan menghadap seenaknya saja. Hanya Syakila yang anteng, mungkin karena dia perempuan.
Waktu sholat pun aku dan istriku tak luput dari gangguan anak-anak, karena itulah istriku tidak mau menitipkan mereka pada siapapun, takut jika orang lain kerepotan dengan buah hatiku.
"Sayang, bukannya besok jadwal periksa ke dokter kandungan?" Seketika aku mengingat jadwal dia setelah melantunkan doa.
Dia selalu saja mementingkan urusanku daripada kesehatannya sendiri.
Aku berdecak lalu meraih tubuh mungil yang dari tadi merengkuh punggungku.
Syakila beralih ke atas ranjang, sepertinya bocah itu mengantuk hingga memilih berbaring dengan memeluk boneka miliknya.
"Kenapa? Apa aku sudah tidak dibutuhkan lagi?" Aku terus ingin menggodanya saat bersama. Rasanya ada yang kurang jika tak membuatnya kesal.
Umurnya yang menginjak dua puluh delapan tahun tahun malah semakin imut dengan kedua pipi gembulnya. Pasti orang tidak akan percaya saat dia mengatakan kalau anaknya enam, tapi itulah kenyataannya yang terjadi. Dia tidak malu sedikitpun malah bangga karena sudah mampu mengabulkan permintaanku.
"Bukan begitu, aku tidak ingin kamu terlalu capek, harus mengurus pekerjaan dan aku, sementara aku hanya di rumah menerima uang dari kamu."
Selalu merendah yang membuatku tak tahan untuk tidak menjahilinya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu aku antar Aya saja, dia kan juga hamil."
Matanya membulat sempurna. Ia mendorong pipiku hingga menghadap ke arah kamar mandi.
"Awas ya, kalau sampai itu terjadi, aku suruh kamu tidur di luar."
Aku membungkamnya lagi dengan ciuman lembut lalu beranjak dan membuka pintu.
"Bi, Mbak, urus anak-anak!" Aku berteriak ke arah semua orang yang sudah menunggu tugasnya. Mereka berlarian menghampiri ku dan mengambil anak asuhnya masing-masing.
Setelah sepi, aku mengunci pintu, aku membantunya melipat mukena, sepertinya aku memang harus mengungkapkan isi hatiku untuk yang kesekian kali.
"Sini sayang, aku kangen nengok anak kita." Aku merayunya, tanpa dirayu pun dua sudah sangat penurut, tapi aku tidak bisa meminta jatah begitu saja, tetap harus ada embel-embel yang membuatnya tersanjung.
Dia memakai make up lalu mengganti baju gamis nya dengan baju dinas, menampakkan perut buncitnya yang membuat tubuhnya semakin seksi.
"Aku siap," katanya dengan lembut.
Seketika ada sesuatu yang bergejolak di bawah sana, hingga aku selalu tak bisa menahannya. Aku sikat dia dengan pelan, memberikan sentuhan lembut untuk mencapai kenikmatan yang tiada tara.
Setelah memanjakannya di atas kasur, aku mengecup keningnya dengan lembut.
"Aku akan selalu berada di sisimu. Tidak ada kata lelah untuk mencintaimu, kamu sudah banyak berkorban untukku. Menyia-nyiakan masa mudamu demi diriku dan sudah mau mengandung anak-anakku. Nyonya Sabrina Rahardjo kau mampu memporak porandakan hidupku."
Dia tersenyum malu, wajahnya merona saat aku kembali mengecup hidungnya yang sedikit pesek.
"Temani aku sampai tua, jangan pindah ke lain hati." Dia menyahut dengan wajah yang tertutup selimut.
"Hati kita satu, jika kamu sakit, aku akan merasakan sakit juga. Cintaku tidak akan surut sampai wajah kita berkerut dan rambut memutih."
Akhirnya ayah Mahesa menepati janjinya hingga keduanya menjadi calon kakek nenek.
*****
__ADS_1
Rekomendasi bacaan yang sangat bagus untukmu