Pelangi Senja

Pelangi Senja
Pernikahan Asyifa


__ADS_3

Berbeda dengan acara pernikahan Devan dan lainnya yang diadakan di sebuah hotel berbintang, acara pernikahan Asyifa justru menuai kontroversi publik. Bagaimana tidak, acara pesta yang meriah itu diadakan di sebuah lapangan yang sangat luas. Semua tamu undangan pun terpilih, hingga terpaksa Ayah berencana mengadakan acara selanjutnya nanti untuk mengundang kalangan menengah ke bawah.


Sama seperti saat menyaksikan putra putrinya menikah, bunda berderai air mata saat detik-detik acara ijab kabul dimulai.


Devan merangkul pundak bunda yang bergetar. Ia sebagai putra pertama yang selalu mengayomi semua adik-adiknya dan juga menjadi wadah saat bunda merasa gundah. 


"Aku ke sana dulu, Bunda sama Syakila dan Raisya.


Bunda mengangguk melepaskan Devan yang akan menemani sang ayah.


Suara lantang terdengar dari tengah tanah kosong yang sangat luas, mereka yang bersangkutan hanya dilindungi sebuah tenda. Ayah begitu lantang mengucapkan ijab dan disusul Fadhil yang juga menjawab dengan satu tarikan napas.


Beberapa anggota TNI pun menjaga tempat itu, mereka memastikan acara akan berjalan dengan lancar sesuai harapan. 


Setelah sah, Fadhil beranjak dari duduknya dan menghampiri ayah Mahesa meminta izin untuk menjemput sang bidadari. Ia merapikan seragam kebanggaannya lalu menatap wajah Asyifa dari kejauhan.


Didampingi beberapa pasukan yang membawa pedang, Fadhil menghampiri Asyifa yang duduk di antara saudara perempuannya. 


Gadis itu nampak cantik dengan balutan gaun yang berwarna biru gelap, senada dengan seragam yang dipakai Fadhil.


Seluruh keluarga pun memakai seragam yang sama, baik dari pihak Fadhil maupun Asyifa. 


Fadhil berlutut di depan Asyifa yang kini sudah sah menjadi istrinya, pria itu membuka kotak kecil yang berawan putih.


TNI yang bertugas pun berjejer rapi saling menautkan pedang hingga setinggi orang dewasa.


Asyifa terharu, setelah penantian panjang dan penuh perjuangan untuk mendapatkan restu dari kakak dan orang tuanya juga keluarga Fadhil, akhirnya saat ini ia bisa bersatu dengan pria itu. 


Fadhil menyematkan cincin berlian di jari manis Asyifa, begitu juga sebaliknya. Keduanya berjalan bergandengan tangan di tengah-tengah pasukan Gordon Pedang Pora, ini menjadi salah satu ciri khas sang perwira saat mempersunting seorang wanita, bahkan ada beberapa upacara lainnya yang harus diikuti Fadhil mengingat dirinya adalah abdi negara dan harus memenuhi beberapa prosedur.


Sebelum ke pelaminan, Fadhil dan Asyifa berjalan berkeliling tempat untuk menyapa seluruh tamu undangan yang datang, kebanyakan mereka terdiri dari pejabat dan anggota TNI, tak lupa juga kerabat dekat.


Kak, aku capek, itulah yang ingin Asyifa ucapkan, namun ia tak berani dan memilih memendam rasa ngilu di bagian betis.


Hampir tiga puluh menit, Asyifa sudah tak tahan hingga tubuhnya terhuyung ke arah Fadhil yang masih berjalan dengan lenggang.


"Kamu kenapa?" tanya Fadhil menghentikan langkahnya. 


"Maaf kak, kakiku sakit," ucap Asyifa pelan. 

__ADS_1


Dari lubuk hati yang terdalam, ia tak ingin lemah. Namun apa daya, tubuhnya benar-benar tak bisa mengimbangi Fadhil yang lebih kuat.


Seketika Fadhil mengangkat tubuh mungil Asyifa dan melanjutkan jalannya untuk menyapa yang lainnya.


Suara tepuk tangan menggema membuat acara semakin meriah. 


Setelah usai menyapa semuanya, Fadhil dan Asyifa naik ke atas pamnian dan duduk di kursi pengantin, keduanya sama-sama menatap ke depan saat seorang MC mulai membacakan sesi acaranya.


Fadhil terus menggenggam jemari Asyifa, sedikit pun ia tak melepaskan tangan gadis itu.


"Kak, aku minta maaf untuk yang tadi."


Fadhil tersenyum, "Tidak apa-apa," jawab Fadhil singkat.


"Apa kamu bahagia?" tanya Fadhil.


Wajah Asyifa bersemu, "Aku bahagia, karena kakak sudah menepati janji."


Acara demi acara berjalan lancar, cuaca panas tak menjadi halangan bagi mereka, yang pastinya pagi ini akan menjadi sejarah indah bagi Asyifa dan Fadhil.


Helikopter yang dinanti sudah mendarat. Fadhil memakaikan high heels di kaki Asyifa lalu menggandeng tangan gadis itu menuju ke arah komandan.


Untuk beberapa menit, keduanya berganti pemandangan menikmati indahnya kota dari atas.


Sesi yang terakhir adalah mengambil gambar, acara ini yang paling heboh di antara acara yang lainnya, seluruh keponakan naik di atas pelaminan. Seperti biasa, mereka saling berebut dan tak ada yang mau mengalah saat kamera di pasang.


Keluarga Afif terus tersenyum, berbeda dengan keponakan Asyifa yang masih sangat kecil, keponakan dari Afif sudah banyak yang menginjak remaja.


Apalagi dua jagoan Devan dan Raisya, mereka yang paling menang, seolah-olah berkuasa atas tempat itu.


"Tidak anaknya, tidak ayahnya sama saja, maunya menang sendiri," cetus Daffa Melihat aksi Faid dan Farhan.


"Kamu bilang apa?" cecar Devan yang masih bisa menedengar ucapan adiknya.


"Lihat deh, Kak. Kasihan Azmi nggak dapat tempat." Daffa menunjuk putranya yang hanya tampak kepalanya.


Devan tertawa keras, ia puas melihat keponakannya yang sangat mungil itu terjepit.


Devan maju lalu merapikan bocah-bocah itu hingga semua nampak berjejer.

__ADS_1


Dari jam enam pagi acara di mulai, kini jam satu siang acara itu baru kelar. Itupun tak sepenuhnya, masih ada beberapa tamu yang tertinggal. Mereka bergegas ke hotel terdekat, begitu juga sang mempelai yang sudah singgah di sweet room untuk menjalankan kewajibannya.


Tanpa melepas gaunnya, Asyifa menghempaskan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya, mengurai rasa lelah yang membuat seluruh tubuhnya terasa remuk.


Fadhil menghampiri Asyifa dan memijat betisnya.


"Tidak usah, Kak. Nanti juga sembuh sendiri," ucap Asyifa pada Fadhil.


"Nggak papa, lagipula semua ini karena aku."


Asyifa bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia menatap Fadhil yang masih berjongkok di depannya.


Fadhil mengelus pipi Asyifa dan membalas tatapan itu.


"Hiduplah bersamaku, mulai hari ini milikku  adalah milikmu, termasuk ibu. Jika aku pergi bertugas, tolong kamu jaga dia."


Mengingat ibunya yang lebih tua dari Bunda, Fadhil selalu khawatir saat dirinya pergi, sedangkan kakaknya yang juga menjadi perwira pun sering meninggalkannya ke luar kota, hanya kakak iparnya yang selalu merawat ibunya.


Asyifa ikut duduk di bawah.


"Aku akan hidup bersama kakak dalam keadaan apapun. Aku akan mengabdikan hidupku untuk kakak dan ibu, karena seorang istri itu surganya ada pada suami yang sholeh, sedangkan surga suami ada di telapak kaki ibu."


Fadhil memeluk Asyifa dengan erat lalu menyatukan bibirnya. 


"Sekarang kita sholat, setelah itu makan, dari kemarin aku puasa."


Seketika Asyifa menepuk lengan Fadhil. 


"Tadi pagi aku lihat kakak minum susu, kapan puasanya?" 


Fadhil terkekeh, "Puasa yang lain, dan hari ini harus bisa berbuka, jangan sampai ada halangan."


Puasa yang lain apa itu?


Asyifa hanya bisa melihat punggung Fadhil yang berjalan menuju kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan bingung ye, di bab sebelumnya kan sudah ada tulisannya, bonus chapter, jadi pintar-pintar saat membaca.

__ADS_1


Empat bab lagi tamat, dan Author akan umumkan beberapa orang yang akan mendapatkan pulsa, tanggal 1 april.


__ADS_2