Pelangi Senja

Pelangi Senja
Siang yang panas


__ADS_3

"Bagaimana keadaan, Bunda?" tanya David dari balik telepon.


Sesampainya di rumah, ia langsung menghubungi Raisya. Seperti biasa, David tak bisa melakukan aktivitas apapun jika belum mengetahui keadaan keluarganya.


"Alhamdulillah baik, Sayang."


Suara bunda sudah semakin baik, dikelilingi orang-orang tercinta mampu melenyapkan rasa lelah yang sejenak mampir di tubuhnya.


"Aku sayang, Bunda."


Suara tawa terdengar dari bibir bunda Sabrina.


"Bunda juga sayang kamu. Bunda sayang kalian semua. Bunda mau istirahat, matikan teleponnya."


Setelah mengucap salam, bunda yang lebih dulu memutuskan sambungannya, ia merasa tak enak sudah mengganggu pengantin baru tersebut.


"Sekarang bunda sudah sembuh. Bunda ingin berdua sama ayah, kalian keluar." Bunda mengusir putra-putrinya secara halus, bukan tanpa alasan. Sebenarnya bunda sudah membaca raut wajah ayah yang nampak suram karena kehadiran semua anak-anaknya, dan itu membuatnya tak bebas untuk melakukan apapun.


Bunda mau itu sama ayah.


Biarin, kan ayah masih perkasa.


"Ayah jagain bunda dengan baik," pesan Daffa memeluk ayah dan bundanya, begitu juga dengan yang lain.


Kini hanya ada bunda dan ayah di kamar, Ayah tersenyum puas dan mengulurkan tangannya.


Bunda yang beberapa waktu duduk itu kembali membaringkan tubuhnya dengan kepala yang berada di atas lengan ayah.


"Temani aku ya, Mas!" pinta bunda dengan manja.


Ayah mengangguk dan mengecup kening bunda.


Di sisi lain 


Rasa khawatir itu hilang setelah David mendengar langsung suara bunda. Ia yang masih berada di ruang tamu menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat lalu beranjak.


Naimah keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk. Ia memutar bola matanya ke arah kiri kanan menyusuri kamar yang nampak sepi.


Sepertinya mas David tidak ada di sini.


Naimah berlari ke arah lemari dan membukanya.


Ceklek

__ADS_1


Pintu terbuka.


Naimah menelan ludahnya dengan susah payah lalu menundukkan kepalanya, ia menatap dadanya yang dihiasi buliran air itu terekspos.


Kenapa bisa kebetulan seperti ini, kayak di Novel saja.


Wajah Naimah pucat, bukan karena takut, tapi malu. Ini pertama kalinya ia membuka auratnya di depan David.


David mematung di ambang pintu dengan kedua tangan yang melipat, ia menatap punggung Naimah lalu turun ke pahanya.


Aku harus panggil dia apa? Ning, itu panggilan ayah pada Bunda. Sayang, ah itu panggilan kak Devan untuk kakak. Ibu, masa ibu sih, kayak anak saja.


Akhirnya David melangkah maju dan duduk di tepi ranjang, ia bisa melihat dengan jelas kulit putih yang dipamerkan di depannya.


"Dik, kamu lagi ngapain?" tanya David basa-basi.


Kepala Naimah mendadak terasa berat, ia gugup dan meraih baju yang menggantung dengan asal.


"Ambil baju," jawab Naimah cepat sembari membalikkan tubuhnya. 


David membulatkan matanya dan menahan tawa saat ia menatap baju yang menempel di dada Naimah.


Memangnya, dia pernah pakai lingerie?


"Kamu yakin mau pakai itu?" tanya David serius, namun dengan nada tak percaya.


"Oke, pakai saja di sini, kita sudah suami, istri jadi aku berhak melihatnya."


Naimah semakin merinding. Ia lupa segala-galanya. Bibirnya terkunci dan tak bisa beralasan lagi. Apalagi ia sudah tiga tahun lebih tak pernah bersentuhan dengan suaminya yang sakit-sakitan hingga untuk melakukannya lagi sedikit grogi.


"Aku mau ke kamar mandi," berkilah.


"Tapi aku maunya di sini, pakai di depanku!" titah David halus, tapi menekankan.


"Ba… baik," jawab Naimah ragu.


Kenapa bisa seperti ini, masa iya pertama kali harus memakai baju di depannya, sedangkan dia saja masih memakai baju lengkap.


David membuka kemejanya dan meninggalkan baju dalam. Lalu membuka celana panjangnya hingga meninggalkan boxer.


"Mas, ini masih siang." Naimah menatap David yang sudah menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


David kembali bangun dan membuka tirai. Ruangan itu terlihat semakin terang karena dampak sinar matahari dari luar.

__ADS_1


"Aku juga tahu, aku nggak bilang ini malam."


David duduk di tepi ranjang dan kembali menatap Naimah yang masih mencengkeram handuknya di bagian dada.


Tak ada kata canggung bagi David untuk melihat kemolekan tubuh Naimah yang mulai terbuka keseluruhan.


"Mas, aku malu." 


Tak seperti yang ia terka jika Naimah akan nampak biasa saja, faktanya wajahya sudah semerah tomat saat handuk itu teronggok di lantai. Menyisakan baju kurang bahan di tangannya.


David menghampiri Naimah, merebut bajunya dan melemparnya asal.


"Kenapa harus malu, bukankah kamu sudah pernah berada diposisi seperti ini?"


"Tapi sudah lama sekali."


David menggendong tubuh Naimah dan membawanya ke atas ranjang, ia tak peduli dengan wanita itu yang meminta turun.


David menyambar bibir Naimah dengan lembut dengan kedua tangan yang terus merambat ke mana-mana. Meskipun ini yang pertama bagi David, ia sangat lihai memberi sentuhan lembut untuk wanitanya.


Saat akan ke inti, Naimah menahan dada David sehingga pria itu mengurungkan niatnya yang akan menerobos gawang milik Naimah.


"Aku bukan perawan lagi, aku tidak se nikmat mereka yang masih bersegel."


David tersenyum lalu melanjutkan aksinya, ia tak mengindahkan kata itu, baginya saat ini adalah menikmati tubuh yang sudah sah menjadi miliknya.


Beberapa menit pergulatan di atas ranjang itu memuncak, ruangan itu semakin panas, David dan Naimah saling bertukar keringat dan merasakan sensasi yang berbeda. 


David menyemburkan lahar panasnya di rahim Naimah lalu ambruk diatas tubuh wanita itu. Saling mengatur napas, David memberi sebuah ciuman dan mengucapkan terima kasih. Tanpa menggeser tubuhnya David menatap wajah Naimah yang dipenuhi dengan peluh.


"Sebuah kenikmatan tidak bisa diukur dari perawan atau tidak, tapi dari sebuah keikhlasan dan kesucian."


"Tapi aku tidak suci lagi," ucap Naimah pelan, ia menahan beban berat tubuh David yang masih setia menumpunya.


"Tidak perawan bukan berarti tidak suci lagi, kamu menyerahkan tubuhmu pada suami kamu, dan itu adalah ibadah, kesucian adalah di mana wanita itu menjaga aurat dari laki-laki yang tidak halal, dan selama ini kamu sudah menjaganya."


Naimah mengelus pipi David dan mencium pipinya.


"Berat," keluh Naimah, namun ia masih merengkuh punggung David.


David menggeser tubuhnya dan berganti posisi. Naimah berada di atas tubuhnya. Mereka hanya menutup tubuhnya dengan selimut. 


"Kalau seperti ini lebih enak, sekarang  tidurlah, jangan pikirkan apapun, Susan bersama mama, dia tidak akan mencarimu."

__ADS_1


Naimah menyandarkan kepalanya di dada bidang David. Ia bisa merasakan detak jantung suaminya dan kehangatan tubuhnya.


Ya Allah, terima kasih atas semua yang Engkau berikan. Mas david adalah lampu penerang selanjutnya dalam hidupku. Setelah sekian lama aku berkorban dan berjuang dengan apa yang Engkau takdirkan. Kini jalan itu terbuka terang dengan penuh cahaya.


__ADS_2