
Hari ini adalah hari spesial untuk Asyifa dan Fadhil yang masih menikmati hari bahagianya. Meskipun jadwal tugas itu tinggal beberapa jam, Asyifa sudah mulai bisa menerimanya, ia terus mengulas senyum saat Fadhil tak henti-hentinya memanjakannya, tak hanya di tempat tidur, tapi juga di depan keluarga dan umum. Namun, bagi semua cucu laki-laki ayah Mahesa dan ayah Randu, ini adalah hari duka mengingat mereka yang akan dikhitan.
Seluruh jagoan kecil sudah berjejer rapi di sofa, mereka memakai sarung berwarna hitam dan baju koko putih, semua nampak tampan dan anteng sambil nonton serial kartun.
"Nanti aku dulu," ucap Farhan dengan gagah berani.
"Tidak boleh, aku dulu," sergah Fairuz, ia turun dari sofa dan menatap satu persatu sepupunya.
"Tidak boleh berebut, nanti pak dokternya marah," tutur bunda yang dari tadi menemani mereka.
Devan menatap jam yang melingkar di tangannya lalu menghampiri Afif yang sibuk dengan proposal di meja, kali ini ia ke rumah sakit jika ada panggilan, selebihnya ia akan membantu Daffa dan Devan di kantor.
"Kapan dokternya datang?" tanya Devan menatap pintu depan yang terbuka lebar.
"Masih dalam perjalanan, Kak. Tenang saja, paling lima menit lagi sampai."
Ayah Emir dan keluarga datang, mereka di Indo sejak pernikahan Asyifa dan tinggal di apartemen, hari ini ia akan menyaksikan Lathif, dan Vian (anak Alfan dan Alisa ) yang juga akan mengikuti khitan.
Berbeda dengan Fairuz, Farid dan Farhan yang gagah berani, Azmi nampak menciut dan bersembunyi di balik ayahnya, bocah itu enggan berkumpul dengan yang lainnya saat dokter Afif mengeluarkan alat medis dari kamarnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Daffa sambil mengelus pucuk kepala putranya.
"Aku nggak mau dikhitan, pasti sakit," ucap bocah itu dengan polos.
Umurnya yang belum genap empat tahun membuatnya sedikit takut.
"Nggak papa, tapi nanti Azmi khitan nya sendirian, sama Dede." David mendekatkan bayinya tepat di depan Azmi.
Bocah itu menggeleng dan kembali membaur dengan yang lainnya, rasa takut itu akhirnya mengurai saat Afif dan Devan terus bercerita dongeng,
Fadhil dan Asyifa datang, mereka baru saja menyiapkan keperluan keberangkatan Fadhil, selain itu mereka juga terus menikmati kebersamaannya yang tinggal hitungan jam.
"Siapa yang mau ini?" Fadhil mengangkat beberapa amplop di tangannya.
"Aku, Om," teriak anak-anak dengan serempak.
Fadhil duduk di depan mereka, "Nanti kalau kalian sudah dikhitan, om akan berikan satu-satu, nunggu giliran."
"Assalamualaikum," sapa suara berat dari ambang pintu, dia adalah dokter yang akan mengkhitan cucu ayah Mahesa.
__ADS_1
"Silakan masuk, Dok!" Ayah Mahesa menyambut kedatangan pria itu. Setelah berbincang dengan beberapa hal, dokter yang bernama Wardi itu menghampiri anak-anak.
"Halo semuanya, apa kalian sudah siap?"
Semuanya diam, mereka hanya bisa berkelana dengan otaknya saat melihat dokter itu yang terus tersenyum.
Tanpa basa-basi lagi, Dokter Wardi langsung memanggil nama sesuai urutan.
Tak berselang lama, jeritan demi jeritan menggema, meskipun tadi menantang. Faktanya, Farid dan Farhan tetap saja menangis, kedua bocah itu merengek di pelukan Raisya dan Devan, sedangkan Fairuz pun berada di pelukan Afif.
Suasana semakin riuh. Satu-satunya yang membuat mereka diam adalah amplop dari Fadhil yang langsung diberikan setelah selesai.
"Mbak Camelia," sapa bunda Sabrina menghampiri mantan madunya sekaligus besannya yang dari tadi hanya diam.
Wanita itu tersenyum dan saling tatap.
"Apa mbak akan langsung pulang ke Turki?" tanya Bunda.
Camelia mengangguk tanpa suara, itulah rencananya dengan ayah Emir, pulang setelah khitan cucunya.
"Sayang sekali, seharusnya mbak nunggu Lathif sampai sembuh dulu, baru pulang," pinta bunda dengan wajah memelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di bandara internasional, Asyifa tak bisa membendung air matanya, ia terus menangis di pelukan Fadhil yang membuat pria itu ikut meneteskan air mata.
"Aku akan kembali, tenanglah Sayang." Fadhil menenangkan, kendatipun berbagai cara ia gunakan, tak mampu menyurutkan kesedihan Asyifa saat ini.
Kepergian Fadhil pasti akan menciptakan sebuah kerinduan yang mendalam bagi Asyifa. Seharusnya itu adalah waktu untuk saling mencurahkan rasa cinta, namun mereka harus berpisah.
Fadhil melepaskan pelukannya saat mendapatkan panggilan, ia menangkup kedua pipi Asyifa dan mencium keningnya lalu beralih hidungnya.
"Aku akan kembali," ucap Fadhil yang ke sekian kali.
Asyifa mengangguk, ia mengusap air matanya dan melepaskan tangan Fadhil.
"Sabar ya, Dek. Fadhil pasti akan kembali bersama kakak," ucap Maura, istri dari kakaknya Fadhil.
Setelah puas berpelukan dengan kakak iparnya, Asyifa beralih memeluk Bunda dan ayah.
__ADS_1
Asyifa memutar tubuhnya lalu memeluk ibu mertuanya.
"Aku mau tinggal bersama ibu," ucap Asyifa di sela-sela isakannya.
"Iya, gak apa-apa, lagipula rumah ibu adalah rumah kamu juga."
Hampir saja semuanya masuk mobil, teriakan dari belakang membuat Syifa menoleh, gadis itu mengulas senyum saat melihat Fadhil berlari ke arah nya.
"Ada apa, Kak?" tanya Asyifa.
"Ada yang ketinggalan," ucap Fadhil sembari tersenyum tipis.
"Apa?" tanya Asyifa antusias, pasalnya semua sudah dibawa.
Sebuah kecupan mendarat di kedua pipi Syifa secara bergantian yang membuat sang empu terbelalak.
"Komandan memberikan waktu lima menit."
Saking senengnya, Asyifa memeluk tubuh kekar Fadhil, ia tak melepaskan pria itu sedikit pun hingga lima menit membuat Syifa puas. Kini ia lega dan bisa melepas suaminya untuk bertugas.
Lambaian demi lambaian mengiringi perjalanan Fadhil yang semakin menjauh, dan kemudian benar-benar terpisah.
Aku mencintaimu, kembalilah untukku.
Asyifa pulang bersama mertua dan kakak iparnya, sedangkan Bunda pulang bersama dengan ayah dan Devan. Mereka beda mobil dan beda jalur. Hingga beberapa kilo mobil melaju Asyifa menyetop sopir yang mengemudi lalu membuka kaca mobil.
"Ada apa? Kamu lihatin apa?" tanya Maura saat Asyifa terus menoleh ke belakang.
"Kak, aku pingin beli buah di sana."
Asyifa menunjuk toko buah yang ada di samping jalan. Terpaksa sopir itu mundur hingga berada di depan toko.
Syifa dan ibu mertua serta Maura turun, sedangkan ayah tetap di mobil bersama sopir
"Aku pengen beli semua ini," ucap Asyifa yang seketika membuat Maura mengernyitkan dahinya. Namun, ia tak bisa berkata apa-apa mengingat pesan dari Fadhil.
Kakak belikan apapun yang Asyifa minta, asalkan dia bisa tenang, aku tidak mau dia terus memikirkanku saat tugas, karena itu adalah tantangan terberatku, dan aku takut tidak sanggup melewati ini semua.
"Pak, bungkus semuanya, jangan tinggalkan satu buah pun," ucap Maura.
__ADS_1
Ibu hanya tersenyum melihat kelakuan menantunya yang masih kekanak-kanakan.