Pelangi Senja

Pelangi Senja
Merendahkan


__ADS_3

Susan menangis sesenggukan di pelukan Naimah. Ia merindukan sosok David, pria yang beberapa waktu lalu sah menjadi calon ayah sambungnya. Sudah hampir satu minggu setelah acara resepsi Alfan, David hanya menjenguknya dua kali, itupun di saat malam setelah pulang kerja hingga membuat bocah itu rewel.


Devan dan Raisya pun mulai menjalani aktivitasnya masing-masing, selain keadaan sudah membaik, Raisya juga harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya.


"Ayo Bu, kita ke rumah ayah," rengek Susan seraya membenamkan wajahnya di pundak sang ibu.


"Iya, ibu telpon ayah dulu ya, tapi Susan janji, kalau ayah tidak bisa ditemui, Susan nggak boleh nangis lagi."


Susan mengusap kedua pipinya yang basah lalu mengangguk.


Naimah masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Naimah sedikit ragu untuk menghubungi David, ia tahu pasti sang empu sibuk dengan pekerjaannya.


"Sayang, nanti sore saja ya, kalau ayah sudah pulang," Naimah kembali membujuk. 


"Nggak mau," ucapnya diiringi dengan gelengan kepala.


Terpaksa Naimah mengirim pesan untuk David. 


Assalamualaikum, Mas. Maaf aku mengganggu, Susan menangis, dia ingin bertemu kamu, apa kita bisa video call sebentar.


Naimah mengirim pesan itu, dan seketika langsung di buka oleh David. 


Waalaikumsalam, Aku lagi rapat. Jadi tidak bisa. Balasan dari David.


Naimah menghela napas panjang, ia mencari cara untuk membuat Susan tenang tanpa memenuhi permintaannya.


"Sayang, Ayah lagi rapat, jadi tidak bisa bertemu Susan, nanti kalau sudah pulang pasti ayah ke sini," ucap Naimah dengan halus.


"Beneran, Bu?" tanya Susan memastikan.


Naimah mengangguk. 


Ponsel Naimah kembali berdering, ternyata pesan dari David yang masuk.


Aku sudah suruh supir untuk menjemputmu, sekalian bawa makan siang, kita makan sama-sama di sini.


Naimah mengembangkan senyum lalu meletakkan ponselnya.


Disaat sibuk pun kamu masih menyempatkan waktu untuk menuruti permintaan Susan.


"Sekarang Susan mandi, ayah menyuruh kita ke kantor, jadi hari ini Susan bisa bertemu ayah."


Susan turun dari pangkuan Naimah. Seperti mendapatkan hadiah utama, bocah itu melompat kegirangan.


Naimah memakai gamis yang terbuat dari bahan Jersey warna pastel dengan hijab yang senada, ia nampak anggun, meskipun sudah punya anak, Naimah masih sangat cantik dan mempesona.


Hampir tiga puluh menit menunggu, akhirnya ada mobil yang masuk ke halaman, seperti perintah David, ia membawa makanan dari rumah.

__ADS_1


"Bapak disuruh mas David untuk jemput saya?" tanya Naimah menghampiri sopir yang baru saja turun dari mobil.


"Iya, Bu. Silakan!"


Pria tua itu membukakan pintu mobil untuk Naimah dan Susan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan di pagi menjelang siang itu sedikit ramai. Berbagai kendaraan berlalu lalang melintas hingga hampir memadati ruas jalan.


Naimah menatap ke arah luar pintu, menikmati indahnya kota yang jarang sekali ia lihat, meskipun wajahnya nampak tenang, dadanya bergemuruh hebat dan otaknya semrawut.


"Pak, apa di kantor banyak orang?" tanya Naimah dengan polos.


Sopir itu menatap Naimah dari pantulan spion dan mengulas senyum.


"Banyak, Non. Karyawannya saja kurang lebih dua ratus orang, belum lagi cleaning service, penjaga dan staf bagian atas, diperkirakan hampir tiga  ratus orang."


Kok aku jadi malu ya. 


Naimah mengamati penampilannya lagi dan merapikan hijabnya.


Hampir tiga puluh menit membelah jalanan, sopir itu menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk.


Mata Naimah menyusuri bangunan menjulang tinggi itu untuk yang kedua kali. Seketika tangannya terasa dingin dan berkeringat.


Kira-kira karyawan di sini tahu nggak ya, kalau aku calon istri mas David?


"Apa perlu saya antar, Non?" Sopir itu membukakan pintu kaca untuk Naimah.


Naimah menggeleng tanpa suara.


Saking senangnya, Susan berlari lari di lantai dasar, ia merasa nyaman di tempat yang mewah itu.


"Mbak, mana ayah?" tanya Susan pada salah satu karyawan yang berada di samping resepsionis.


"Ayah siapa?" tanya wanita cantik yang memakai seragam hitam putih tersebut. Wajahnya nampak ketus hingga membuat Susan takut dan menunduk. 


"Hei, kamu nggak tahu, calon istri pak David itu janda, mungkin saja ini anaknya," timpal karyawan lain yang baru saja datang.


Naimah yang berada di belakang pintu menghentikan langkahnya, dengan jelas ia mendengar ucapan wanita itu yang membuatnya menciut. 


"Janda!" pekik yang lainnya lagi. 


"Iya, aku dengar-dengar, wanita itu yang ditolong dokter Raisya waktu datang ke rumah sakit."


"Aku yakin pasti wanita itu menggoda pak David dan memanfaatkan anaknya. Kalau tidak, mana mungkin pak David yang super perfect itu jatuh cinta sama Janda." 


Ucapan itu bagaikan tusukan seribu pisau, hati Naimah terasa perih hingga ke ulu.

__ADS_1


Aku bukan orang seperti itu. Aku tidak pernah memanfaatkan Susan, juga tidak pernah menggoda mas David.


Meskipun tubuhnya gemetar, Naimah mencoba kuat, ia tak mau membuat David malu karena sikapnya.


"Assalamualaikum…." sapa Naimah dengan suara lembut.


Semua menjawab serempak dan menatap Naimah dengan tatapan sinis.


Susan merengkuh kaki Naimah. Ia tak berani menghadap orang-orang yang menjelekkan ibunya.


"Ibu, aku ingin bertemu ayah," rengek Susan untuk yang kesekian kali, bocah itu menarik pucuk baju ibunya.


Naimah mengangguk pelan lalu tersenyum ke arah tiga karyawan yang mematung di depan putrinya.


"Mbak, maaf saya mengganggu, ruangan mas David di mana?" tanya Naimah.


"Di lantai tiga, ibu langsung naik lift itu." Menunjuk pintu lift yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Baik, Mbak. Terima kasih."


Naimah meraih tangan Susan dan berlalu.


"Cantik sih, sayangnya harus mencari suami dengan cara yang rendah."


"Mungkin saja suaminya dulu juga dibuang karena tak mampu memenuhi permintaannya, makanya sekarang pak David yang jadi korban."


Ya Allah, kuatkan aku. Sadarkan mereka kalau aku tidak seburuk yang mereka katakan.


Naimah hanya berdiri di depan pintu lift. Ia tidak tahu cara menekannya dan juga takut salah.


Akhirnya ia menghampiri salah satu cleaning service yang melintas di belakangnya.


"Mbak, saya mau ke lantai tiga. Apa di sini ada tangga darurat?" tanya Naimah. 


Wanita itu menatap penampilan Naimah dari atas hingga bawah lalu membungkuk sopan, sedangkan karyawan yang tadi mengoloknya malah cekikikan tanpa ingin membantunya. 


"Itu," jawab orang itu sambil menunjuk tangga yang ada di bagian pojok.


"Ternyata kampungan juga."


Naimah tak mengindahkan suara itu, baginya saat ini yang terpenting adalah mempertemukan Susan dan David.


Lelah, itu yang Naimah rasakan, bahkan sesekali ia berhenti untuk mengatur napas lalu melanjutkan langkahnya.


Alhamdulillah, dengan perjuangan yang penuh akhirnya ia bisa melewati beberapa anak tangga yang menjulur.


Jelas saja mereka merendahkanku, sekarang aku tahu, siapa mas David, dia adalah orang yang terpandang di sini.

__ADS_1


__ADS_2