Pelangi Senja

Pelangi Senja
Liburan


__ADS_3

Bunda dan ayah melambaikan tangannya ke arah putra-putrinya yang ada di depan pintu masuk. Semakin lama lambaian itu semakin pelan hingga mereka menjauh. Di bandara internasional bunda dan ayah berpisah dengan anak-anak dan cucunya yang ada di indo. Beberapa pesan disampaikan bunda selama dirinya pergi ke Turki dan entah, ke negara mana lagi. 


Diam-diam bunda mengintip pembicaraan antara Devan dan Daffi lewat sambungan telepon, dan akhirnya wanita itu tahu jika semua putra putrinya sekongkol untuk mengerjainya. Terpaksa bunda menuruti keinginan mereka.


"Da….da bunda, bawa oleh-oleh yang banyak," teriak Asyifa.


Diantara yang lain, hanya gadis itu yang nampak terhanyut dalam kesedihan, ini kali pertama ia ditinggal bunda dan ayahnya ke luar negeri. Sebagai anak bungsu Asyifa mendapatkan kasih sayang  penuh tanpa iri hati pada yang lainnya. 


Devan dan Daffa memeluk adiknya yang masih terisak.


"Nanti kita semua akan berlibur, nungguin triplet besar dulu," ucap Devan menenangkan.


Asyifa mengangguk dan mengusap air matanya. Membalas pelukan sang Kakak. 


"Kalau nggak, nanti kamu dan Fadhil bulan madu ke sana," goda Daffa yang seketika mendapat cubitan dari Asyifa. 


Panjang umur, tiba-tiba saja Fadhil muncul dari balik mobil yang terparkir.


"Kak Fadhil," teriak Asyifa.


Bukan hanya Fadhil yang menoleh, seorang pria yang memakai peci berwarna hitam itu pun menatap Asyifa yang berjalan ke arahnya, sedangkan Devan dan Daffa serta Raisya dan Airin mengikutinya dari belakang.


Asyifa mencium punggung tangan pria tua itu lalu menangkupkan tangannya di depan Fadhil. Devan dan yang lainnya pun berkenalan dengan pria itu yang ternyata ayahnya Fadhil.


"Kakak mau ke mana?" tanya Asyifa menatap tas ransel yang menempel di punggung Fadhil.


"Ada latihan di luar kota, untuk seminggu ini kita tidak bisa bertemu."


Wajah yang tadinya berseri-seri itu kini meredup mendengar ucapan Fadhil.


"Dhil, cepetan!" teriak suara berat dari seberang sana.


"Sebentar, " balas Fadhil dengan nada tinggi.


Terpaksa Fadhil berpamitan dan berlari ke arah sahabatnya yang sudah menunggu di ujung sana.


Ayah mendekati Asyifa yang berdiri di antara kakak-kakaknya.


"Fadhil akan segera pulang, dia hanya seminggu, jadi jangan khawatir," ucap Ayah Fadhil menenangkan.


Asyifa mengangguk mengerti. Sebagai calon istri seorang abdi negara, ia harus membiasakan diri untuk sering berpisah dengan Fadhil.


"Kenapa ibu nggak ikut, Yah?" tanya Asyifa.

__ADS_1


"Ibu sakit kepala, dia nggak bisa ikut takut pingsan di jalan."


"Kalau begitu aku ikut ayah pulang, mau jengukin ibu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Perjalanan yang sangat melelahkan, ini yang kedua kali bunda ke Turki. Namun, dengan tujuan yang berbeda, jika dulu mendampingi sang suami yang sedang bekerja, kini tujuannya adalah murni untuk berlibur tanpa embel-embel. 


Ayah dan bunda tiba di hotel mewah dengan fasilitas yang lengkap serta kamar yang sangat luas. 


Bunda menatap setiap sudut ruangan yang dilengkapi berbagai pernak pernik khas Turki. 


"Ayah, aku  __"


Seketika ayah membungkam bibir bunda dan merengkuh tubuhnya. 


"Kita ulang masa muda kita," ucap Ayah, kemudian mencium kening lalu mengangkat tubuh bunda dan membawanya ke ranjang yang sangat lebar dan empuk. 


"Sekarang istirahat, jangan pikirkan apapun selain aku."


Bunda mengangguk pelan, ia berbaring dipelukan hangat sang suami. 


Jam tujuh pagi di Turki


"Mas, aku ingin jalan-jalan sekarang." 


Ayah Mahesa meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, entah apa yang dibicarakan, bunda tidak paham dengan bahasa yang ayah Mahesa gunakan. 


"Kita berangkat sekarang."


Ayah menyambar tas dan jaket serta tas yang ada di sofa. 


Tak kalah mesra dari putra-putrinya dan mereka yang lebih muda, ayah Mahesa pun sangat romantis, usia tak menjadi penghalang mereka untuk bermesraan, apa lagi bunda masih nampak muda di usianya yang hampir menginjak kepala lima.


Pertama kali, ayah dan bunda mengunjungi masjid bersejarah di Turki, keduanya memanjakan mata, melihat bangunan yang super megah dan indah.


Takjub, itulah bunda saat ayah terus menunjuk bangunan-bangunan yang ada di sana. 


"Masya Allah, Yah. Ternyata lebih indah dari gambarnya."


Ayah memarkirkan mobilnya lalu turun. Keduanya saling bergandengan tangan masuk ke tempat yang ada di hadapannya ini. Saat ini ayah dan bunda berada di masjid Hagia Sophia untuk menikmati keindahan tempat itu. 


"Bunda mau mendengar sejarah tempat ini?"

__ADS_1


Bunda mengangguk setuju. 


Ayah mengajak bunda menghampiri salah satu tokoh yang ada di sana.


Panjang lebar beliau menceritakan asal muasal tempat itu, dan ternyata sama dengan yang sering bunda baca, hanya ada beberapa yang mungkin terlewat.


Setelah puas di tempat itu, ayah kembali melajukan mobilnya, kali ini ayah mengajak bunda ke sebuah kolam pemandian hangat yang bernama Pamukkale.


"Bunda mau berenang?" tanya Ayah saat melepas syal yang membelit lehernya. 


Bunda menggeleng saat melihat beberapa pengunjung yang membaur di tempat itu.


"Malu," ucap Bunda pelan.


Meskipun musim dingin telah berganti dengan musim semi, namun udara masih sangat dingin. 


Bunda terus menggosok kedua telapak tangannya.


Ayah memeluk Bunda dari belakang, saling menautkan jemarinya dan menatap ke arah yang sama.


Setelah tadi menikmati bangunan, kini mereka menikmati panorama alam yang sangat indah.


"Bagaimana suasana hati bunda saat ini?" tanya Ayah menyandarkan dagunya di pundak bunda.


"Bahagia," jawab bunda singkat, karena hanya itu yang ia rasakan. 


"Aku ingin bunda bahagia selamanya. Jangan merasa bosan untuk terus mendampingiku, meskipun aku sudah tua, aku akan berusaha untuk memenuhi keinginan, Bunda."


"Terima kasih atas semua yang Mas berikan, aku tidak akan meninggalkanmu, sampai maut memisahkan kita."


Setelah puas di tempat itu, ayah beralih mengajak bunda ke tempat lain. Setelah shalat Ashar di salah satu masjid yang ada di tengah kota, ayah langsung melajukan mobilnya ke sebuah tempat istimewa. Yaitu taman tulip yang tak kalah indah dari yang lainnya.


Lagi-lagi bunda di manjakan dengan tanaman yang berjejer rapi, bunga tulip berbagai warna menghiasi beberapa hektar tanah.


"Mas, ini semua bunga tulip?" tanya Bunda antusias. 


Ayah mengangguk tanpa suara. 


Setelah beberapa tempat yang dikunjungi, ini pertama kali mereka mengabadikan momen kebersamaannya di Turki. Bukan tanpa alasan, ternyata Asyifa ingin melihat foto bundanya saat ini, namun sebelum berangkat ayah sudah mewanti-wanti pada semua anaknya untuk tidak menghubungi bunda, takut wanita itu tidak terlalu menikmati liburannya. 


Asyifa yang ada di seberang sana menitihkan air mata bahagia melihat bunda yang terus menerbitkan senyum.


Senja tiba, langit yang berwarna jingga cerah mengingatkan bunda pada putra putrinya, meskipun jauh, mereka tetap berada di hati Bunda saat ini. 

__ADS_1


__ADS_2