Pelangi Senja

Pelangi Senja
Pertolongan Afif


__ADS_3

"Anak manis, tutup matanya dulu dong!" pinta Devan menatap Susan yang duduk di jok belakang dari pantulan spion.


Seketika Susan memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Nanti kalau om belum bilang selesai, jangan dibuka dulu," imbuh Devan.


Susan mengangguk tanpa suara, sedikit pun tak ingin protes dengan perintah Devan yang sangat mudah ia lakukan.


"Kakak mau apa?" tanya Raisya pura-pura, dari lubuk hatinya, ia tahu apa yang akan dilakukan suaminya, namun setidaknya ia bertanya dulu.


Tanpa aba-aba Devan menarik kepala Raisya, dan memberikan tanda pamit yang mengesankan.


Mobil yang terparkir lama di depan rumah sakit itu pun menjadi pusat perhatian. Sudah tiga puluh menit, tapi tak ada tanda-tanda yang akan keluar dari sana. Namun, satpam yang berjaga hanya bisa menatap tanpa mendekat.


"Sudah selesai," seru Devan mengusap bibir Raisya, mengambil lipstik yang ada di dashboard.


"Kakak hati-hati, nanti siang tidak usah ke sini, langsung jemput pulang saja." Raisya mencium punggung tangan Devan, diikuti Susan.


"I love you," ucap Devan saat Raisya membuka mobil. 


I love you to, jawab Raisya dari hati, sebagai pribadi yang kalem, ia malu jika harus bersikap seperti yang Devan lakukan saat ini.


Raisya masih menggandeng tangan Susan di sampingnya, nampak di depan lift sangat ramai.


"Maaf Sus, ada apa?" tanya Raisya pada suster yang baru saja melintas. 


"Liftnya ada gangguan, Dok? Dan itu baru diperbaiki." 


Raisya mendesah, tapi tak ada jalan lain, terpaksa ia berjalan ke arah tangga.


"Susan tidak apa-apa kan, jalan lewat sini?" Menunjuk tangga yang menjulang di depannya. Ada rasa malas, namun ia harus melewatinya untuk ke ruangannya.


"Tidak apa-apa, Bu Dokter."


Susan saja semangat, masa aku lemah sih.


Setelah melewati separo tangga, Raisya berhenti sejenak melepas lelahnya dan menyandarkan punggungnya di dinding. Seandainya Devan tahu pasti tidak akan mengizinkan dan memilih menggendongnya untuk tiba ke ruangannya.


"Ayo Bu Dokter, aku sudah sampai nih," teriak Susan yang sudah tiba di ujung tangga.


Raisya menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan lalu melanjutkan jalannya. Baru dua langkah, rok panjangnya terinjak kaki hingga membuatnya terhuyung.


Afif yang baru saja tiba di bawah tangga terkejut saat mendengar teriakan Raisya. Ia melempar dokumen yang di bawanya dan  berlari  menyusuri anak tangga, membelah dua suster yang melintas di depannya. Ia datang di waktu yang tepat dan akhirnya bisa menangkap punggung Raisya. 


Raisya memegang dadanya yang terasa sesak, meskipun rantang  yang ada di tangannya jatuh hingga isinya berantakan, tapi ia selamat dari musibah itu.


"Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih menyelamatkan ku," ucap Raisya, tangannya yang masih gemetar mulai memegang gagang tangga untuk berdiri.

__ADS_1


"Lain kali hati-hati." 


Raisya membulatkan matanya saat mendengar suara berat yang sangat familiar itu. 


 Jadi yang menolongku mas Afif, batin Raisya.  Ia menoleh menatap Afif yang masih mengatur napas.


Suster yang ada di sana ikut lega, tak bisa membayangkan jika Raisya jatuh di ketinggian itu, pasti akan terluka parah.


Afif menatap ke bawah, tepatnya rok Raisya yang menutupi ujung sepatunya.


"Kamu itu kebiasaan, kalau pakai rok terlalu panjang."


"Terima kasih, aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada kamu." Raisya mengalihkan pembicaraan.


"Bu dokter tidak apa-apa?" tanya Susan yang ikut khawatir. Bocah  itu kembali mendekati Raisya dan memeluknya.


"Tidak sayang, sekarang kita naik yuk!" ajak Raisya.


"Dia siapa?" tanya Afif menatap Susan yang kembali berjalan di samping Raisya.


"Namanya Susan, kemarin ibunya menjalani operasi katarak, karena tidak mempunyai keluarga lain, jadi dia tinggal bersama aku dan kak Devan."


Setibanya di lantai atas, Raisya menghentikan langkahnya menatap  Afif.


"Sekali lagi terima kasih, aku tidak tahu, bagaimana jadinya tadi jika tidak ada kamu."


"Salam untuk Syakila," ucap Raisya dengan nada tinggi.


Afif hanya mengangkat dua jempolnya diiringi dengan senyuman khas.


Setibanya di ruangan Bu Naimah, Raisya menyuruh suster untuk mengambilkan makanan, karena  makanan yang ia bawa jatuh dan tak bisa dimakan lagi.


"Ibu…" teriak Susan menghampiri bu Naimah yang duduk di sofa.


Susan menumpahkan rasa rindu yang menggebu, ini pertama kali ia harus tidur tanpa ibu nya.


"Maafkan saya Bu Dokter, pasti semalam Susan sangat merepotkan Ibu dan bapak."


Raisya melepas tasnya dan duduk di samping Bu Aminah.


"Tidak, Bu. Susan pintar kok, dia tidak rewel."


"Tadi malam aku di bacain dongeng sama om, bagus banget." Tapi  yang tadi pagi ceritanya tidak nyambung," ucap Susan menunduk. 


"Memangnya apa yang om ceritakan?" tanya Raisya antusias, ia takut kalau Devan meracuni pikiran bocah itu dengan kata-katanya yang sering absurd.


"Kata om Devan upin ipin punya rambut gondrong, padahal mereka kan botak. Terus kata om Devan ibunya upin ipin galak, mereka kan tinggal dengan opah dan kak Ros, kata om Mail itu anaknya orang kaya, seharusnya kan Ihsan yang kaya, dia yang punya mobil, sedangkan Mail kan hanya punya sepeda dan berjualan ayam goreng.''

__ADS_1


Bu Naimah dan Raisya akhirnya tertawa terpingkal-pingkal hingga matanya berair.


"Kapan itu, kok bu dokter nggak tahu?"


"Waktu Bu Dokter di kamar mandi."


Astagfirullah Kak Devan, dia kan tidak pernah nonton kartun, ngapain dia cerita upin ipin, Raisya menepuk jidatnya. 


"Lain kali ucapan Om jangan di dengerin," pinta Raisya.


"Bu, biar Susan di sini ya, saya mau ke ruangan, takutnya ada pasien."


"Silahkan, Bu Dokter. Terima kasih karena bu dokter sudah baik sama Susan."


Saat Raisya berjalan menuju ruangannya, ia melihat seseorang yang tak asing di matanya. 


"Itu kan Alisa dan om Andre, ngapain mereka di sini? Siapa yang sakit?"


Raisya bergegas menghampiri Alisa dan om Andre yang ada di depan pintu lift.


"Om tunggu!" teriak Raisya.


Om Andre menarik tangannya yang hampir menekan tombol lift.


"Om, siapa yang sakit?" Mata Raisya menatap wajah pucat Alisa.


"Alisa, beberapa hari ini dia tidak selera makan, perutnya mual."


"Ya Allah, semoga cepat sembuh. Terus sekarang om mau ke mana?" tanya Raisya memastikan.


"Alisa mau di ruangan bawah saja, dia tidak betah jika ada di atas."


Raisya menggeser tubuhnya dan berdiri tepat di depan Alisa.


"Makan yang teratur, kamu pasti banyak pikiran, apa kamu masih memikirkan kak Devan?"


Mata Alisa berkaca, begitu juga dengan mata Raisya yang digenangi cairan bening.


"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Raisya. 


Alisa mengangguk. Keduanya berpelukan, entah itu tanda apa, yang pastinya Raisya iba pada Alisa dan tak ingin ada kebencian di antara mereka karena sebuah masa lalu.


"Aku yakin Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kamu. Aku juga pernah berada di posisi kamu, melepaskan orang yang kita sayang, tapi aku ikhlas dan yakin bahwa Allah lebih tahu masa depan kita daripada diri kita sendiri," tutur Raisya panjang lebar.


Aku harus bisa, Devan sudah mendapatkan orang yang mulia seperti Raisya, dan aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. 


Mampir ke sini ya, tap favorit juga, punya Author thatya 0316

__ADS_1



__ADS_2