Pelangi Senja

Pelangi Senja
Anugerah di malam sunyi


__ADS_3

Acara yang di awali dengan Sholat Isya berjamaah, setelah itu makan malam bersama. Sangat sederhana, tapi menghangatkan. Ayah dan bunda bahagia bisa berkumpul dengan keluarganya, hanya saja dokter Agung yang selalu tak bisa ikut hadir karena tugasnya yang ada di luar kota. Begitu juga dengan Alfan yang sibuk dengan pembukaan restoran barunya.


Devan memijat pangkal hidungnya, kepalanya terasa berdenyut mendengar kebisingan di rumah ayahnya. Otaknya terus traveling mengusir kebosanan yang belanda, apalagi ia terus teringat dengan kemolekan tubuh Raisya tadi sore setelah keramas, itu membuatnya tak sabar ingin segera mendekapnya dan tak akan melepasnya lagi. 


Saat ini ia memilih duduk di teras samping rumah yang sepi untuk mendinginkan dadanya yang terasa meluap, sedangkan yang lain berhamburan di ruang makan, tamu dan ruang tengah. Devan ingin mencari cara untuk membuat Raisya nyaman saat malam pertama, meskipun sudah berumur matang, pria itu masih bingung untuk memperlakukan wanitanya saat di ranjang.


"Kakak melamun?" Suara David membuyarkan lamunannya, pria gagah itu datang dengan dua gelas jus jambu di tangannya dan memberikan untuk Devan, dan yang satunya lagi untuk dirinya.


"Bukan apa-apa, hanya mengantuk saja," Devan meneguk jus pemberian David. Walaupun malam ini akan pulang lambat, ia berharap masih ada waktu untuk melakukan ritual perdananya. 


David duduk di samping Devan. Angin sepoi-sepoi dari arah taman menyapu setiap jengkal wajah keduanya menambah rasa dingin.


"Aku dengar kamu sudah kerja di kantor ayah, apa kamu tidak berniat untuk segera menikah?" Devan mencari pembahasan lain untuk mencari suasana baru. 


David tersenyum, dalam benaknya belum ingin menjadi suami, untuk saat ini yang ada di pikirannya ingin membuat ayah dan mamanya itu bahagia.


"Niat sudah ada sih, tapi untuk dua tahun ini mau fokus dengan kantor dan kakak, karena aku dia kehilangan bunda," ujar David dengan berat.


Pria gagah yang tidak pernah tahu akan wujud ibunya itu terkadang merasa bersalah dengan kehadirannya. Dari situlah ia ingin bertanggung jawab pada Raisya dan membanggakan bundanya yang sudah berada di alam kubur sebelum mempersunting seorang wanita.


Devan mengangkat kedua jempolnya,  kagum dengan pemikiran David yang jauh di atasnya.


Setelah tadi David mengusiknya, kini bergantian Raisya yang datang membawa puding, karena hanya ada dua kursi, akhirnya Raisya duduk di pangkuan Devan, dengan manja gadis itu menyandarkan kepalanya di dada suaminya. 


"Vid, kamu dipanggil mama," ucap Raisya menyampaikan amanah dari mamanya.


Seketika David meninggalkan Devan dan Raisya.


Devan merengkuh tubuh mungil itu dan mencium pucuk kepalanya yang tertutup hijab berwarna pastel.


"Kak, apa malam ini kita akan tidur di sini lagi?" tanya Raisya seraya mengulurkan tangannya dan mengelus pipi kokoh Devan. 


"Kita pulang saja, kalau mau itu takut diintip sama si kembar." Devan menaik turunkan alisnya menggoda Raisya yang terus bergelayut manja. Raisya menutup wajahnya yang sudah merona malu. Jika menyangkut itu ia tak bisa menanggapinya dan memilih diam.

__ADS_1


Devan mengambil jaket yang di lepas dan memakaikannya di tubuh Raisya. 


"Ternyata kalian ada di sini." Bunda menghampiri Devan, mendengar suara itu Raisya berusaha beranjak dari duduknya, namun dengan kilat Devan mengeratkan pelukannya dan tak membiarkan Raisya pergi. Seolah-olah menunjukkan pada bundanya jika ia sudah benar-benar serius dengan rumah tangganya.


"Ada apa, Bunda?" tanya Devan.


"Kalian tidak mau ngobrol dengan Tante Aida, sebentar lagi mereka pulang." 


Sebenarnya Devan enggan, tapi demi bundanya terpaksa ia harus menurut.


Devan dan Raisya masuk ke dalam menghampiri kerumunan yang ada di ruang keluarga diikuti Bunda dari belakang.


Di ruangan lain, Ayah Mahesa dan Andre duduk saling berhadapan, sedangkan ayah Randu duduk di samping seraya memainkan ponselnya.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Setelah beberapa saat bercanda  kini ayah Mahesa sudah mulai serius.


"Tentang apa, Mas?" tanya Andre antusias, tak biasanya suami dari saudara istrinya itu dekat dengannya.


Andre mengernyitkan dahinya dan mencondongkan kepalanya, memori yang terkubur lama kini mulai terkuak kembali.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkan kejadian malam itu, tapi kamu harus tahu, kalau kamu punya anak dari Camelia," jelas Ayah Mahesa panjang lebar.


Ayah Randu hanya diam, ia memilih menjadi pendengar setia dan tak ingin ikut campur. 


"Apa Mas tahu di mana Camelia dan anaknya sekarang?"


Sebenarnya selama ini Andre pun mencari keberadaan Camelia dari sosmed, hanya saja wanita itu menghilang tanpa jejak bak ditelan bumi, dan sejak saat itu Andre menghentikan pencariannya.


"Dia tinggal di Turki, aku tidak tahu pasti Camelia menikah dengan siapa, yang pasti anak kamu masih hidup."


"Dari mana Mas tahu kalau Alisa anakku?" 


Ayah Mahesa menceritakan jati diri Alisa dan perjalanan cinta gadis itu dengan Devan, serta mengatakan wajah gadis yang sangat mirip dengan Andre. 

__ADS_1


Andre kembali menyandarkan punggungnya dan menghembuskan napasnya.


"Tapi aku yakin kalau Camelia memang sengaja menyembunyikan dia dariku. Dan aku juga tidak berhak atas anaknya, tapi aku akan berusaha bertanggung jawab."





Apa yang ditakutkan Devan akhirnya terjadi juga, dalam perjalanan ia terus mendengus kesal, pembicaraan yang sangat lama itu membuat Raisya ngantuk dan akhirnya harus tertidur saat dalam perjalanan pulang.


Sesekali satu tangan Devan mengelus punggung tangan Raisya, sedangkan yang satunya lagi sibuk dengan setirnya.


"Ini semua gara-gara tante Aida," gerutu Devan.


Meskipun Devan geram, ia tetap fokus membelah jalan yang sangat gelap. Lagi dan lagi ia harus diuji dengan sebuah masalah yang harus mengandalkan kesabaran.


Sesampainya di depan rumah, Devan tersenyum saat menatap Raisya yang masih terlelap dengan napas yang teratur. 


"Aku akan sabar menunggu waktu itu,  di mana kamu akan menjadi milikku selamanya."


Devan turun dan membuka pintu utama, setelah itu ia kembali ke mobil dan mengangkat tubuh Raisya, dengan pelan Decan membawa Raisya masuk ke dalam dan membaringkannya di atas ranjang kamar lantai satu.


Devan keluar dari kamarnya dan mengunci pintu depan, setelah itu ia mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu remang-remang, disaat ia membaringkan tubuhnya di samping Raisya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, tiba-tiba saja tangan Raisya menggenggam pergelangan tangannya, sontak Devan terkejut dan membelalakan matanya.


Devan menatap mata Raisya yang masih terpejam dan menganggap itu hanya sebuah ketidak sengajaan. Akhirnya Devan melepas genggaman itu dengan pelan, namun saat devan merengkuh tubuh Raisya,  gadis itu kembali memegang lengan Devan dan tersenyum. 


"Apa malam ini kamu sudah siap melepas semuanya?" tanya Devan berbisik. 


Seketika Raisya mengangguk pelan dan membuka matanya. "Aku siap lahir batin untuk melayani Kakak dengan ikhlas."


Sebuah kejutan yang tak disangka, Devan merasa ini adalah Anugerah terbesar dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2